Perceraian Merusak Keluarga dan Generasi

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Opini_ Setiap kali kita melihat berita perceraian, sebenarnya yang retak bukan hanya hubungan dua manusia, tetapi harapan yang pernah mereka bangun, dan masa depan anak-anak yang berada di tengahnya. Fenomena ini makin sering terjadi, dan Indonesia kini menghadapi kenyataan pahit: keluarga benteng paling dasar peradaban, mulai melemah.
Ketika Angka Mengungkap Luka yang Lebih Dalam
Data dari berbagai daerah menunjukkan pola yang sama: angka perceraian terus meningkat, sementara jumlah pernikahan justru menurun. Ini bukan lagi sekadar masalah rumah tangga. Ini adalah sinyal bahwa masyarakat sedang kehilangan panduan tentang apa itu keluarga, bagaimana membangunnya, dan untuk apa pernikahan itu sendiri ada.
Yang lebih mengejutkan, bukan hanya pasangan muda yang mudah goyah, bahkan pasangan yang telah puluhan tahun menikah kini banyak yang berpisah. Fenomena grey divorce memperlihatkan bahwa waktu panjang tidak otomatis melahirkan kekuatan jika pondasi tidak kokoh.
Akar Masalah yang Jarang Kita Mau Hadapi
Di balik setiap perceraian, ada berlapis-lapis persoalan:
• konflik yang tidak terselesaikan
• tekanan ekonomi
• KDRT yang meniadakan rasa aman
• perselingkuhan yang mematikan kepercayaan
• dan kini, judi online serta kecanduan digital yang meruntuhkan mental dan finansial keluarga
Semua ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: masyarakat tidak lagi memahami makna pernikahan sebagai ikatan suci yang dibangun dengan ilmu, nilai, dan ketakwaan.
Pernikahan dianggap hanya hubungan personal, sehingga ketika lelah, kecewa, atau jenuh, jalan keluarnya adalah pisah. Padahal yang rusak tidak hanya dua orang, tetapi satu generasi.
Siapa yang Paling Terluka?
Tentu pasangan merasakan pahitnya perpisahan. Namun ada pihak yang terluka lebih dalam yaitu anak-anak. Merekalah yang sering bingung memaknai dunia ketika dua orang yang mereka jadikan rumah justru hancur di depan mata mereka. Mereka belajar mencintai dari orang tuanya, belajar bertahan dari orang tuanya, belajar memaafkan dari orang tuanya. Dan ketika tempat belajar itu runtuh, jiwa mereka ikut rapuh. Generasi yang tidak punya fondasi emosi, itulah yang sedang kita saksikan hari ini.
Apakah Ini Murni Masalah Individu?
Tidak. Perceraian yang marak adalah hasil dari sebuah lingkungan besar yang membentuk cara kita melihat kehidupan.
1. Sistem pendidikan sekuler tidak membina ketahanan karakter, tidak mengajarkan makna keluarga, tidak membentuk kepribadian Islam.
2. Sistem pergaulan sosial modern membuat hubungan tidak lagi dijaga oleh nilai ketakwaan, melainkan oleh hawa nafsu, ego, dan kebebasan tanpa batas.
3. Sistem ekonomi kapitalis menekan keluarga dengan biaya hidup yang tidak manusiawi, membuka pintu judi, riba, dan gaya hidup konsumtif yang merusak ketenangan rumah. Maka, runtuhnya keluarga bukan kebetulan. Ia adalah buah dari sistem yang salah arah.
Kita Butuh Fondasi yang Tidak Goyah: Islam sebagai Sistem Kehidupan
1. Pendidikan Islam: Membangun Pribadi, Bukan Hanya Pengetahuan
Islam membina aqliyah dan nafsiyah, membentuk manusia berkarakter kuat, matang, penuh tanggung jawab.
Pribadi seperti inilah yang siap membangun keluarga sakinah, bukan yang mudah retak oleh tekanan hidup.
2. Sistem Pergaulan Islam: Menjaga Kehormatan dan Keharmonisan
Islam mengatur hubungan suami-istri, orang tua-anak, hingga masyarakat. Batas-batasnya bukan untuk membatasi cinta, tetapi melindungi cinta agar rumah tetap menjadi tempat aman, bukan arena konflik tanpa arah.
3. Sistem Politik-Ekonomi Islam: Menjamin Kesejahteraan Sosial
Negara dalam Islam hadir sebagai penanggung jawab kemaslahatan:menghapus riba, menutup pintu perjudian, memastikan nafkah rakyat terpenuhi, dan membangun kesejahteraan yang membuat keluarga stabil. Ketika ekonomi adil, nilai dijunjung, dan jiwa dibina, maka keluarga pun kembali kuat.
Penutup: Kita sedang Berada di Ambang Generasi yang Rapuh atau Bangkit
Perceraian bukan sekadar statistik. Ia adalah alarm keras bahwa sistem kehidupan yang kita jalani tidak mampu menjaga manusia. Namun harapan selalu ada, asalkan kita berani kembali pada sumber yang benar yaitu membangun keluarga di atas iman, menghidupkan nilai dalam setiap hubungan, mengembalikan sistem Islam yang menjaga manusia dari akar hingga pucuk. Karena keluarga adalah madrasah pertama peradaban. Jika ia runtuh, umat runtuh. Jika ia bangkit, maka cahaya akan kembali menyinari generasi ini.
