IdulFitri di Gaza

Oleh: Dian Yanuar (Forum Literasi Muslimah Bogor)

Lensamedianews.com, Opini— Hari Raya Idulfitri adalah salah satu perayaan hari besar dalam Islam. Hari kemenangan dan kebahagiaan yang seharusnya disambut dengan penuh sukacita oleh semua kaum muslim di seluruh dunia, tetapi tidak bagi umat Islam yang berada di Gaza. Mereka merayakan Idulfitri di tengah reruntuhan bangunan, tanpa hidangan makanan yang lezat layaknya umat muslim di Indonesia serta tanpa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai, karena orang tua, anak, dan kerabat mereka telah gugur akibat serangan yang dilakukan oleh Zion*s Yah*di.

Untuk pertama kalinya pada tahun ini, umat Islam di Palestina tidak dapat melaksanakan salat Id di Masjidilaqsa karena tentara Yahudi dengan bengis terus mengusir dan menembaki mereka agar tidak dapat memasuki Masjidilaqsa.

Sungguh kejam dan biadab apa yang telah dilakukan oleh Zion*s Yah*di terhadap saudara-saudara kita di Palestina. Di tengah kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh saudara kita di Palestina akibat penjajahan Zionis Yahudi, negara-negara Islam lain yang berada di sekitarnya tidak ada yang membantu. Akan tetapi, mereka justru bersekutu dan melakukan kerja sama dengan negara penjajah. Mereka tidak peduli dan seolah-olah tidak melihat penderitaan kaum muslim di Palestina.

Padahal, sesungguhnya kaum muslim itu ibarat satu tubuh, yang jika salah satu anggotanya sakit, maka anggota tubuh yang lain pun akan merasakan hal yang sama. Hanya dalam Islam kita dipersatukan dalam satu akidah yang benar dan mengikat, walaupun tinggal di negara yang berbeda.

Tentu hal seperti ini sangat sulit dirasakan dalam sistem kapitalisme saat ini karena sistem ini terbukti telah memecah belah kaum muslim. Kaum muslim disekat-sekat menjadi beberapa bagian negara kecil. Dalam sistem ini juga, mereka hanya mementingkan kepentingan individu tanpa peduli terhadap nasib dan keadaan orang lain. Apa yang mereka lakukan semata-mata hanya untuk kepentingan dan kesenangan pribadi.

Agama Islam saat ini hanya dijadikan sebagai rutinitas ibadah ritual, bukan sebagai aturan dalam kehidupan. Padahal, Rasulullah saw. telah mencontohkan bahwa Islam bukan hanya ibadah ritual, melainkan berisi aturan yang menyeluruh dalam kehidupan. Beliau menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan setelah hijrah ke Madinah. Dalam sistem Islam, kaum muslim hidup dalam kesejahteraan, terjaga fitrahnya sebagai manusia, dan dilindungi oleh khalifah.

Sesungguhnya, di dalam Islam seorang pemimpin diibaratkan sebagai seorang penggembala, yang setiap pemimpin akan bertanggung jawab atas gembalaannya. Pemimpin dalam Islam adalah ra’in dan junnah bagi umatnya. Sebagaimana fungsi junnah sebagai pelindung, kepemimpinan dalam Islam senantiasa menjaga dan melindungi umat dengan sepenuh jiwa sehingga tidak ada lagi kaum muslim yang hidup menderita dan terjajah oleh orang-orang kafir.

Wallahu a‘lam bi ash-shawab. [LM/Ah]