Banjir Melanda Tanpa Jeda, Islam Solusinya

Bencanabanjir-LenSaMediaNews

Oleh: Aprilya Umi Rizkyi
Komunitas Setajam Pena

LenSaMediaNews.Com–Sepekan lebih banjir telah melanda Sumatera dan Aceh. Meluluhkan lantahkan apapun yang ada di sana. Rumah, sekolah, puskesmas, bangunan,  kebun, sawah beserta apapun yang ada di atasnya bersih diterjang banjir bandang yang begitu dahsyat dan luar biasa.

 

Kini hanya tersisa puing-puing bangunan, ada yang masih tegak berdiri, reot, roboh bahkan ada yang hilang tanpa bekas. Hanyut terbawa derasnya banjir. Tumpukan sisa-sisa banjir berserakan dan lumpur yang tebal mengubur apapun yang ada di sana. Termasuk adanya korban jiwa yang belum bisa untuk dievakuasi.

 

Adapun data korban jiwa akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera per Senin (1/12) petang menjadi 604 orang. Data terbaru yang disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, korban jiwa 604 orang, 464 orang hilang, 2.600 luka-luka, 1,5 juta orang terdampak dan umlah pengungsi 570 ribu orang (CNNIndonesia.com,  1-12-2025).

 

Korban jiwa di Aceh sebanyak 156 orang, 181 hilang dan korban luka 1.800 orang. Korban meninggal di Sumbar 165 orang, 114 jiwa hilang, dan 112 orang terluka. Sementara di Sumut, jumlah korban meninggal 283 orang, 169 orang hilang, dan 613 terluka. Sebanyak 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rumah rusak sedang, 20.500 rumah rusak ringan. Kemudian, 271 jembatan rusak hingga 282 fasilitas pendidikan rusak.

 

Bencana yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera barat dan Aceh sangat membuat hati menangis pilu. Korban berjatuhan, makin hari makin bertambah jumlahnya. Banyak dari mereka kehilangan suami, istri, anak, orang tua, saudara dalam waktu bersamaan.

 

Kondisi paska banjir yang sangat memprihatikan. Tak ada lagi tempat untuk sekedar berteduh dari panasnya terik matahari dan hujan. Pakaian pun hanya yang menempel di badan mereka. Kebutuhan pokok pun ala kadarnya hanya untuk sekedar bertahan hidup.

 

Namun demikian sampai saat ini pun bencana ini hanya menjadi bencana daerah saja,  tak bisa menjadi status bencana nasional. Peran pemerintah pun minim, memberikan bantuan pun ala kadarnya dan hanya setengah hati.

 

Selain itu ada juga pihak yang meminta penyerahan kartu keluarga dan KTP untuk mendapatkan bantuan tersebut. Sungguh tega dan zalim.  Di kala rakyat menangis, menjerit  kehilangan nyawa mereka diam.

 

Semua ini berawal dari penerapan Sistem Kapitalisme sekuler yang melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak mementingkan kepentingan rakyat, justru sebaliknya menguntungkan sebagian orang yang bermodal. Di mana ketika ada keuntungan materi akan dilakukan. Sekalipun banyak nyawa rakyatnya harus dikorbankan.

 

Jika kita pahami, banjir terjadi karena adanya ekosistem alam yang tak seimbang. Di ke 3 daerah tersebut telah terjadi alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit dan juga tambang. Banyak kebijakan dan juga ijin tambang yang disahkan oleh pemerintah. Adanya penebangan hutan yang masif dan berjuta-juta hektar menjadi salah satu pemicu terjadinya bencana banjir dan juga tanah longsor tersebut.

 

Hal ini berbeda dengan Sistem Islam,  yang mengatur tentang pertambangan dan juga tata kelola hutan. Di mana hutan dan sumber daya alam adalah milik umum. Sehingga penyerahan kepemilikan kepada swasta, korporasi, ataupun sejenisnya adalah haram. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang artinya, “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api. ” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

 

Dengan demikian maka hutan dan tambang merupakan milik umum yang harus dikelola negara dan pemanfaatannya dikembalikan kepada rakyat. Baik itu hasil hutan maupun hasil tambangnya. Tidak boleh diberikan kekuasaan  kepada seseorang, baik itu pemodal, asing, para kapitalis dan sebagainya.

 

Hal yang tak kalah pentingnya dalam menanggapi bencana ini adalah introspeksi diri dan muhasabah kepada Allah. Segala sesuatu itu terjadi karena ijin Allah dan ikhlas untuk menerima ujian ini. Senantiasa makin mendekatkan diri kepada Allah.

 

Bahwasannya Allah SWT. juga telah berfirman yang artinya, ” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)“. (TQS Ar-Rum: 41).

 

Dalam ayat tersebut telah dikabarkan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi dan menimpa pada manusia tak lain adalah karena perbuatannya sendiri. Allah memberikan teguran dan hukuman secara kontan di dunia dengan berbagai fenomena dan juga musibah yang terjadi.

 

Sesungguhnya hal itu hendaklah membawa manusia untuk segera menyadari dan bertaubat akan segala perbuatannya. Termasuk keengganan menerapkan aturan dari Allah SWT yang diterapkan oleh sebuah negara yang disebut dengan khilafah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].