Banjir Sumatera: Antara Berita dan Derita

Oleh : Keni Rahayu
LenSaMediaNews.Com–Ternyata korban banjir yang dulu kulihat di TV Itu adalah aku. Kaget. Seumur-umur baru ini ngerasain banjir. Ini pengalamanku di Tropodo, Waru, Sidoarjo akhir tahun 2024 lalu. Aku harus berjalan kaki pulang dari kantor ke luar perumahan Wisma Tropodo.
Aku tidak bisa menaiki motor karena tinggi air sepaha orang dewasa. Setelah sampai depan perumahan masih harus berjalan kaki karena macet dan banjir. Motor, mobil semua berjalan maju sedikit-sedikit. Hampir 2 jam aku berjalan kaki demi keluar dari daerah banjir. Bagaimana dengan sekarang? Tidak berubah, masih banjir (Pikiran Rakyat Surabaya, 22-11-2025).
Tapi, banjir yang kualami itu ternyata belum seberapa. Di Sumatera, lebih parah lagi. 964 orang MD, 264 jiwa hilang, 894.101 warga mengungsi akibat banjir bandang dan tanah longsor di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (Liputan6.com, 10-12-2025). Anehnya, ini masih belum diangkat sebagai bencana nasional, lho.
Takdir atau Lalai?
Sebagai muslim, benar bahwa kita harus menerima bahwa semua yang terjadi atas izin Allah. Allah tidak akan mengizinkan banjir jika memang tidak dikehendaki-Nya. Tetapi, sebagai manusia yang berakal bukankah kita punya kuasa untuk mengupayakan penyelesaian banjir? Bukankah itu tugas manusia untuk menjaga bumi Allah yang indah ini? Apa iya, tidak ada cara agar tidak bisa banjir lagi? Bisa kan? Bisa dong? Ini adalah peran penguasa sebagai empunya kebijakan tata kelola ruang dan mitigasi bencana.
Menurut peneliti UGM, hujan deras itu sebenarnya cuma pemantik. Yang bikin banjir di Sumatera bisa segede itu justru karena hutan di bagian hulu sungai sudah rusak. Jadi kalau ada yang bilang wajar karena musim hujan, itu tidak sepenuhnya benar. Masalah utamanya sudah muncul jauh sebelum hujan turun (ugm.ac.id, 1-12-2025).
Hutan di hulu itu sebenarnya punya peran penting. Bayangkan hutan sebagai spons besar. Saat hujan datang, daun dan ranting pohon menahan sebagian air, tanah menyerap sisanya, lalu sebagian lagi dilepas perlahan melalui proses alam. Air itu diatur, ditahan, dan dibagi supaya tidak langsung menumpuk di sungai dalam waktu bersamaan.
Ketika hutannya hilang karena ditebang atau dialihfungsikan jadi kebun dan tambang, spons itu ikut hilang. Air hujan akhirnya langsung lari ke sungai tanpa ada yang mengatur atau menahan. Sungai cepat penuh, arus jadi makin kencang, dan terjadilah banjir bandang seperti yang kita lihat sekarang.
Akar Masalah dan Solusi Banjir di Indonesia
Tapi kenapa ini bisa terjadi? Ya karena regulasinya memang membolehkan. Sistem hidup sekularisme kapitalisme memberikan ruang lebar bagi manusia serakah untuk duduk di kursi kekuasaan, membuat aturan yang merusak bumi atas nama pembangunan. Negara memberikan izin bagi swasta sampai ormas untuk mengelola sumber daya alam milik rakyat.
Padahal, dalam Islam alam itu amanah. Penguasa wajib mengatur semua urusannya dengan hukum Allah, termasuk menjaga kelestarian lingkungan. Pengelolaan hutan tidak boleh diserahkan pada korporasi yang mengejar keuntungan, tetapi ditata dengan benar supaya fungsinya sebagai pelindung bumi tetap terjaga.
Negara juga bertanggung jawab mengeluarkan biaya untuk pencegahan bencana seperti banjir dan longsor. Upaya mitigasi dilakukan dengan serius, berbasis ilmu para ahli lingkungan, bukan sekadar proyek tahunan atau respons setelah bencana terjadi.
Hanya dengan hukum Allah, kerusakan alam bisa diminimalisir. Seorang Khalifah, sebagai pemegang mandat dari Allah, akan menjadikan keselamatan manusia dan kelestarian bumi sebagai pusat kebijakannya. Ia merancang tata ruang secara menyeluruh, memetakan wilayah sesuai fungsi alaminya, mengatur kawasan hunian, industri, tambang, dan wilayah himmah dengan penuh kehati-hatian dan memperhatikan daya dukung lingkungan. Setiap keputusan diarahkan untuk mencegah dharar.
Di titik ini, kita semua bisa lihat sendiri. Selama aturan hidup yang dipakai masih nyembah profit, ya beginilah hasilnya. Padahal bumi ini nggak minta banyak. Cuma minta dijaga. Dan itu hanya bisa terjadi kalau negara pakai aturan Islam secara menyeluruh. Karena dalam Islam, penguasa memahami amanah di atas muka bumi ini adalah untuk mengurusi urusan umat. ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (TQS. Al-Baqarah: 30).
Akhirnya, sebagai generasi muda kita mulai mikir: sampai kapan harus pasrah sama sistem yang tiap tahun bikin kita ketemu drama banjir? Yang seharusnya berubah itu bukan cuma debit air, tapi cara negara ngurus alam. Dan baru bisa realisasi ketika pakai Sistem Islam. Karena kalau dibiarkan begini terus, nanti yang tenggelam bukan cuma rumah… tapi masa depan kita juga. Wallahu a’lam. [LM/ry].
