Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat

Oleh: Ummu Zasya
LensaMediaNews.com, Opini_ Dunia hari ini berada dalam krisis multidimensi: konflik berkepanjangan, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, serta degradasi nilai-nilai kemanusiaan. Banyak pihak menilai bahwa kondisi ini tidak lepas dari dominasi satu kekuatan global, yakni Amerika Serikat, beserta ideologi kapitalisme sekuler yang diusungnya. Dominasi ini bukan hanya membentuk arah politik dan ekonomi dunia, tetapi juga memberi dampak serius terhadap kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam.
Di bawah kendali hegemoni Amerika Serikat dan kapitalisme global, umat Islam di berbagai belahan dunia kerap berada pada posisi terjajah, lemah, dan menderita. Sistem kapitalisme yang menempatkan keuntungan materi sebagai tujuan utama telah mendorong sekularisasi kehidupan, menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual dan moral. Akibatnya, umat Islam tidak hanya mengalami penjajahan fisik dan ekonomi, tetapi juga penjajahan pemikiran yang mengikis identitas dan keyakinan mereka.
Lebih jauh, kepemimpinan kapitalisme global terbukti melahirkan berbagai bencana ekologis. Eksploitasi sumber daya alam secara masif, atas nama pertumbuhan ekonomi dan kepentingan korporasi besar, telah merusak keseimbangan alam. Hutan gundul, perubahan iklim ekstrem, pencemaran laut dan udara menjadi bukti nyata bahwa keserakahan sistemik telah membawa manusia pada krisis lingkungan yang mengancam keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Arogansi Amerika Serikat sebagai simbol kepemimpinan global juga semakin nyata melalui berbagai intervensi militer, serangan, dan ancaman terhadap negara-negara lain. Venezuela hanyalah salah satu contoh bagaimana kedaulatan sebuah negara dapat ditekan demi kepentingan politik dan ekonomi global, tanpa mengindahkan hukum internasional maupun suara masyarakat dunia. Praktik aneksasi terselubung dan penguasaan sumber daya alam negara lain menunjukkan wajah asli kapitalisme: kuat menindas yang lemah.
Secara ideologis, kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam secara menyeluruh. Dalam aspek akidah, umat didorong memisahkan agama dari kehidupan. Dalam muamalah dan akhlak, standar halal-haram digantikan oleh untung-rugi. Dalam ekonomi, riba dan eksploitasi dilegalkan. Dalam politik, kekuasaan dijadikan alat kepentingan segelintir elit. Bahkan dalam sosial budaya dan pendidikan, nilai-nilai Islam kerap dipinggirkan dan dianggap tidak relevan.
Amerika Serikat, sebagai pengusung utama sistem ini, menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan dominasinya: tekanan politik, sanksi ekonomi, propaganda media, hingga kekuatan militer. Semua dilakukan demi menguasai sumber daya alam negara lain, meski harus melanggar tatanan hukum internasional dan menuai kecaman global.
Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan bagi umat Islam untuk kembali menyadari jati dirinya. Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sebuah mabda’ (ideologi) yang memiliki konsep kepemimpinan, hukum, ekonomi, dan sosial yang menyeluruh. Keberadaan mabda’ Islam inilah yang dapat menjadi modal kebangkitan umat untuk melawan hegemoni kapitalisme global dan dominasi Amerika Serikat.
Kepemimpinan Islam diyakini sebagai satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat. Kepemimpinan ini tidak dibangun atas dasar keserakahan dan kepentingan sempit, melainkan atas prinsip keadilan, amanah, dan tanggung jawab kepada Allah dan manusia. Dalam sejarahnya, kepemimpinan Islam mampu menghadirkan stabilitas, keadilan sosial, dan perlindungan terhadap hak-hak manusia tanpa memandang agama dan bangsa.
Khilafah Islam, dalam pandangan ini, bukan hanya berfungsi melindungi umat Islam, tetapi juga menjaga seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, serta berbagai bentuk kerusakan dan bencana. Dengan hukum yang bersumber dari wahyu, kepemimpinan Islam diharapkan mampu menghadirkan dunia yang lebih adil, seimbang, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Oleh karena itu, dunia sesungguhnya tidak sekadar membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi kepemimpinan global yang membawa rahmat. Kepemimpinan yang tidak menindas, tidak serakah, dan tidak merusak, melainkan menuntun manusia kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.” QS. Al-Ma’idah (5): 48
