Genosida Gaza dan Urgensi Persatuan

Penonaktifan PBI BPJS__20260219_111538_0000

Oleh: Yanti Fariidah

(Founder Rumah Pintar ZR Magelang)

 

Lensa Media News – Penderitaan perempuan dan anak-anak di Palestina tidak kunjung berakhir. Saban hari, kabar duka terus mengalir dari tanah yang diberkahi tersebut. Dunia menyaksikan kengerian yang melampaui batas akal sehat manusia. Agresi ini justru menunjukkan wajah yang semakin keji dan biadab. Luka di Palestina adalah luka bagi seluruh umat manusia. Namun, bagi kaum muslimin, ini adalah serangan terhadap bagian tubuh yang satu. Setiap tetes darah yang tumpah membawa kepedihan mendalam. Sayangnya, kecaman demi kecaman belum mampu menghentikan mesin pembunuh itu secara tuntas.

 

Fakta Mengerikan di Jalur Gaza

Israel diyakini menggunakan senjata termal dan termobarik di Jalur Gaza. Senjata ini bekerja dengan menciptakan suhu panas ekstrem yang luar biasa. Dampaknya sangat fatal bagi manusia di radius ledakannya. Jasad para korban seolah-olah menguap atau hilang tanpa jejak fisik.

Berdasarkan laporan investigasi mendalam dari Al Jazeera melalui program berjudul “The Rest of the Story” pada Februari 2026, terungkap fakta memilukan. Setidaknya terdapat 2.842 warga Palestina yang dilaporkan hilang sejak awal agresi pada Oktober 2023.

Media nasional seperti CNN Indonesia (14 Februari 2026) juga menyoroti penggunaan senjata pemusnah ini. Laporan tersebut menegaskan bahwa warga Gaza benar-benar lenyap karena teknologi militer destruktif. Tak hanya itu, Metro TV News (Februari 2026) merilis investigasi serupa mengenai ribuan jasad yang menguap. Senjata zionis tersebut sengaja dirancang untuk melenyapkan bukti-bukti pembantaian. Fakta ini diperkuat oleh pemberitaan Detik News (Februari 2026) yang menuliskan betapa ngerinya senjata Israel dalam menghilangkan jejak warga Gaza.

Kekejaman ini terus berlanjut meskipun wacana gencatan senjata sering digaungkan. Israel secara konsisten melanggar kesepakatan dan terus menyerang titik-titik pengungsian. Target utama serangan tetap warga sipil yang tidak berdaya. Korban terbanyak adalah perempuan yang sedang melindungi anaknya dan anak-anak yang belum mengerti arti perang. Mereka terluka parah, kehilangan anggota tubuh, bahkan kehilangan nyawa secara mengenaskan. Kota Gaza berubah menjadi hamparan debu yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya.

 

Kebiadaban Modern dan Genosida

Penggunaan senjata termobarik oleh Israel menunjukkan kebiadaban modern yang tak terperikan. Tindakan ini sepenuhnya mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang paling dasar. Semakin jelas bahwa apa yang dilakukan oleh Israel adalah tindakan genosida. Upaya penghapusan sebuah etnis sedang terjadi secara terang-terangan di depan mata dunia. Senjata pemusnah ini digunakan untuk memastikan tidak ada lagi saksi hidup di lokasi serangan. Ini adalah kejahatan perang tingkat tinggi yang sangat terencana.

Gempuran yang dilakukan Israel secara konsisten menyasar objek sipil. Rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah tidak luput dari serangan bom. Meski dunia tahu hal ini adalah pelanggaran berat Hak Asasi Manusia (HAM), kekuatan internasional seolah lumpuh. Hukum internasional yang sering dibanggakan terbukti tumpul di hadapan kepentingan zionis. Tak ada satu pun lembaga global yang benar-benar mampu menghentikan kebrutalan ini. Ketidakberdayaan ini menjadi bukti bahwa standar ganda sedang dimainkan dalam kancah politik dunia.

Kejahatan Israel sudah berada di luar batas yang bisa ditoleransi. Pemberian solusi damai atau negosiasi berkali-kali terbukti gagal. Israel tidak pernah sungguh-sungguh menginginkan perdamaian di tanah Palestina. Kerusakan yang mereka lakukan sudah melampaui batas kewajaran konflik bersenjata. Kejahatan semacam ini harus dihentikan dengan kekuatan yang sepadan. Kekuatan militer yang zalim hanya bisa ditundukkan dengan kekuatan militer yang benar. Maka, jihad oleh tentara kaum muslimin menjadi kebutuhan mendesak untuk melindungi nyawa yang tersisa.

 

Jihad dan Kepemimpinan Islam

Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin hukumnya adalah wajib bagi umat. Tidak boleh ada lagi upaya untuk berkompromi dengan penjajah yang tidak mengenal janji. Berdamai dengan pihak yang sedang menghunus pedang adalah bentuk kelemahan. Mengalah hanya akan memberikan jalan bagi Israel untuk semakin menguasai negeri-negeri kaum muslimin. Tanah Palestina adalah tanah wakaf umat Islam yang harus dipertahankan hingga titik darah terakhir. Kehormatan kaum muslimin tidak boleh diperjualbelikan di meja diplomasi yang penuh tipu daya.

Solusi mendasar adalah penerapan hukum jihad yang benar dan syar’i. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 190:

وَقَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Jihad fisik dalam skala besar membutuhkan kesatuan kekuatan kaum muslimin dari seluruh dunia. Saat ini, potensi militer negeri-negeri muslim sangat besar namun terfragmentasi oleh kepentingan nasionalisme sempit. Kekuatan yang terpecah-pecah ini tidak akan pernah mampu menandingi agresi global. Kesatuan kekuatan militer, ekonomi, dan politik adalah harga mati untuk membebaskan Palestina. Tanpa kesatuan ini, bantuan yang dikirimkan hanya akan menjadi perban kecil bagi luka yang sangat dalam.

Oleh karena itu, tegaknya kepemimpinan Islam yang satu sangat dibutuhkan. Kepemimpinan ini akan menjadi perisai dan panglima bagi seluruh kaum muslimin. Sesuai dengan tuntunan dalam Surat Ali ‘Imran ayat 103:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…”

Kepemimpinan Islam akan menyatukan barisan tentara dan mengarahkan mereka untuk membebaskan tanah-tanah yang terjajah. Perjuangan untuk menegakkan sistem Islam dan kepemimpinan Islam bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban mendesak. Sistem inilah yang akan memastikan bahwa tidak ada satu pun nyawa muslim yang boleh disakiti tanpa pembelaan. Persatuan umat di bawah satu komando adalah kunci utama kemenangan dan kedamaian sejati.

 

Mengakhiri Malam Panjang di Palestina

Palestina kini bukan sekadar peta yang tercabik, melainkan ujian besar bagi iman setiap muslim. Senjata yang menguapkan jasad manusia adalah pengingat bahwa musuh tidak akan pernah berhenti hingga kehormatan Islam tunduk. Diam bukan lagi pilihan ketika tanah yang disucikan dicuci dengan darah anak-anak yang tak berdosa.

Palestina tidak sedang menunggu tangisan atau sekadar tumpukan bantuan pangan yang seringkali dihambat di perbatasan. Tanah para nabi ini sedang merindukan deru langkah tentara-tentara yang ikhlas dan kepemimpinan yang berani meletakkan syariat di atas segala kepentingan duniawi.

Fajar kemenangan mustahil menyingsing jika barisan umat masih terbelah oleh batas-batas semu. Hanya dengan kepemimpinan Islam yang menyatu, fajar itu akan tiba untuk menghapus kegelapan genosida. Sudah saatnya umat Islam bangkit dari tidur panjang untuk menjadi perisai bagi saudaranya yang kini sedang meregang nyawa. Setiap doa harus menjelma menjadi kerja nyata untuk menegakkan kembali kemuliaan Islam.

Maka, biarlah sejarah mencatat bahwa kaum muslimin tidak membiarkan saudaranya berjuang sendiri di bawah hujan bom. Hanya dengan persatuan yang kokoh dan jihad yang nyata, Palestina akan kembali menjadi bumi yang penuh dengan kedamaian dan rida Ilahi.

 

[LM/nr]