Potret Suram Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalis 

PotretSuram-LenSaMediaNews

Oleh : Cokorda Dewi

 

LenSaMediaNews.com–Peristiwa bunuh diri terjadi kembali. Kali ini menimpa seorang anak Sekolah Dasar (SD) kelas IV. Dunia pendidikan kembali menampilkan sisi buramnya, jika bukan kesenjangan ya sulitnya akses pendidikan berkualitas bagi anak negeri.

 

Terkait insiden tragis seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Menteri Sosial Saifullah Yusuf menanggapi kasus bunuh diri ini sebagai suatu hal yang memprihatinkan. Beliau menekankan pentingnya pendampingan, dan penguatan data terhadap keluarga yang katagori tidak mampu (kompas.tv, 04-02-2026).

 

Terungkap bahwa siswa sekolah dasar (SD) diduga mengakhiri hidupnya, karena kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah. Semasa hidupnya siswa tersebut tinggal bersama neneknya di pondok kecil nan reot (detik.com, 04-02-2026).

 

Kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi dalam wilayah negara yang tergolong kaya akan sumber daya alam. Ada yang keliru dalam sistem pendidikan yang diterapkan. Seharusnya anak-anak mendapatkan pendidikan dengan gratis, aman, nyaman, dan bahagia. Bukan sebaliknya, penuh dengan tekanan, yang mempengaruhi mental psikoligis mereka.

 

Ruang pendidikan seharusnya menjadi ruang kegiatan belajar mengajar yang kondusif, membentuk karakter, keimanan, dan mental yang kuat bagi peserta didik. Sistem sekuler kapitalis yang diterapkan dalam sistem pendidikan saat ini, turut menyumbang beban psikoligis baik bagi peserta didik maupun wali murid. Sebab yang diutamakan adalah faktor keuntungan, menanamkan bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Bahwa semuanya memerlukan uang.

 

Umat dijauhkan dari pemahaman agama, yang semestinya memahamkan tentang hakikat hidup sebagai makhluk ciptaan. Bahwa setiap manusia memiliki potensi yang bisa digali sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah Allah firmankan, agar mengarah pada hal yang sahih. Pemahaman tentang hakikat penciptaan dan keberadaan Sang Pencipta seharusnya sudah diberikan sejak dini. Tidak hanya sebatas transfer ilmu saja.

 

Negara seharusnya hadir memberikan jaminan layanan pendidikan gratis bagi seluruh warga negara. Sebab pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang sangat krusial bagi kelangsungan sebuah bangsa. Ruang pendidikan seharusnya mencetak generasi yang cerdas, kuat, dan memiliki pondasi iman yang kuat. Taat dan takwa kepada Allah Swt.

 

Negara juga seharusnya menjamin dan memelihara rakyatnya yang tergolong fakir miskin. Tidak adanya kepedulian masyarakat sekitar maupun sekolah akan kondisi kehidupan di lingkungannya, sehingga tidak menyadari, bahwa ada sebuah keluarga yang hidup dalam kondisi yang sangat memperihatinkan.

 

Dalam Sistem Islam, pendidikan dijamin oleh negara dan gratis bagi setiap warga negara, baik itu muslim maupun non muslim. Sebab memperoleh pendidikan adalah hak setiap warga negara. Negara mempunyai kewajiban untuk pemenuhannya. Demikian pula bagi warga negara yang tergolong fakir miskin, maka negara berkewajiban untuk meriayahnya. Negara berkewajiban untuk memberikan pemenuhan kebutuhan pokoknya, baik itu berupa sandang, pangan, dan papan.

 

Generasi muda adalah penerus bangsa, generasi yang melestarikan risalah Islam, generasi yang akan mewarnai peradaban manusia. Sudah sepatutnya mendapatkan prioritas pendidikan gratis tanpa terkecuali. Dan negara bertanggungjawab meriayah atau mengurus umat untuk mendapatkan haknya dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar umat.

 

Pemenuhan kebutuhan dasar dalam Sistem Islam akan diambil dari Baitulmal, melalui pos-pos yang sudah ditetapkan sesuai dengan syariah Islam. Disamping itu, generasi penerus Islam juga berhak mendapatkan pemahaman Islam secara menyeluruh dan mendalam. Agar terbentuk generasi yang beriman dan bertakwa, memahami potensi akal dan potensi hidupnya. Sehingga tidak akan terbersit dalam benaknya untuk menyakiti diri sendiri, apalagi melakukan bunuh diri. Kelak generasi penerus ini akan menjadi pemimpin peradaban yang gemilang. Wallahu’alam bishshowab. [LM/ry].