BoP dibentuk, Damainya Untuk Siapa?

Oleh : Nining
LenSaMediaNews.com–Meski gencatan senjata telah disepakati dan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP), dimana Amerika serikat mengklaim telah mendamaikan konflik Gaza-Israel melalui Board of Peace (BoP), namun faktanya militer Israel kembali melanggar dengan melakukan serangan udara menghantam sebuah kamp di kawasan Khan Younis, Gaza. Dilaporkan sedikitnya 21 orang tewas, termasuk enam anak dan seorang bayi berusia 5 bulan (CNN Indonesia.com, 05-02-2026).
Amerika serikat mengklaim bahwa BoP bertujuan sebagai mediator internasional dalam konflik ini, juga akan memantau pelanggaran gencatan senjata dan mendorong kedua pihak untuk kembali ke meja negosiasi. Namun efektivitas lembaga ini dipertanyakan oleh berbagai pihak karena tindakan terhadap warga Gaza terus terjadi meski gencatan resmi masih berlaku.
Kesepakatan yang tak pernah terwujud
Kesepakatan gencatan senjata hanyalah sandiwara belaka, hal ini merupakan kesempatan untuk menyusun strategi dan sebagai alat kontrol agar perlawanan melemah sementara penjajahan tetap berjalan. Sikap dunia internasional yang terlalu naif masih percaya pada janji gencatan senjata.
Yang lebih miris, sebagian penguasa negeri-negeri muslim diam bahkan bergabung menjadi anggota BoP demi menjaga stabilitas wilayah. Keamanan dijadikan alasan, sementara penderitaan muslim Palestina terus dibiarkan. Sikap ini menunjukkan lemahnya keberanian politik dan hilangnya keberpihakan pada kebenaran.
Solusi Hakiki Dalam Pandangan Islam
Padahal, Islam mengajarkan kita untuk tidak netral atau diam terhadap kezaliman. Diam bukan pilihan, netral terhadap kezaliman adalah keberpihakan yang salah. Kita sebagai umat muslim hendaknya harus tegas, tidak larut dalam narasi damai dan gencatan senjata yang nihil akan nilai keadilan. Terus berusaha menyadarkan umat, membangkitkan pemikirannya bahwa yang terjadi di Palestina bukanlah konflik biasa, tetapi penjajahan secara sistemik.
Nation state yang membuat sekat-sekat antar negara, sehingga umat tercerai berai. Satu kepemimpinan saat ini menjadi kebutuhan yang mendesak, karena saat ini umat dalam kondisi tercerai berai dan tak ada yang bisa dilakukan jika negara kecil terpecah belah pula. Karena suara keadilan kalah oleh kepentingan politik global. Maka dari itu untuk melawan hegemoni penjajah kafir sangat dibutuhkan kesatuan umat dalam politik dan naungan kepemimpinan yang satu.
Islam menawarkan solusi hakiki dalam menghadapi penjajahan, yaitu umat Islam harus keluar dari sandiwara perdamaian semu dan kembali pada tuntunan ideologis yang tegas, serta butuh adanya kesatuan politik umat di bawah satu kepemimpinan. Tanpa perisai, umat akan terus menjadi santapan politik penjajah.
Solusi hakiki bagi penjajahan di Palestina bukanlah diplomasi dua negara, melainkan mobilisasi militer. Memahamkan kepada umat dan para penguasa negeri-negeri muslim bahwa dalam mengusir Penjajah perlu dilakukan jihad yaitu dengan segera mengirimkan tentara guna membebaskan Masjidil Aqsa, tanah milik kaum muslim, dan mendorong penyatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan Khilafah untuk menerapkan hukum Allah secara kafah. Wallahu a‘lam bish-shawab. [LM/ry].
