Untuk Apa Kekuatan, jika yang Tertindas Tetap Tidak Terbela?

Pasukan unifil

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Ada satu pertanyaan yang mengguncang nurani kita.
Jika negeri ini mampu mengirim pasukan perdamaian ke wilayah konflik, mengapa darah kaum tertindas masih terus mengalir?

Jika kekuatan, logistik, dan personel dapat dikerahkan hingga ke Lebanon, mengapa kehadiran itu belum benar-benar mampu menjadi pelindung bagi mereka yang dizalimi?

Ironi ini semakin terasa menyakitkan ketika justru pasukan yang dikirim atas nama perdamaian akhirnya menjadi korban. Tiga prajurit Indonesia gugur dalam dua insiden di wilayah operasi UNIFIL, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka di hari-hari berikutnya.

 

Pertanyaan besarnya bukan sekadar siapa pelaku serangan, tetapi sistem seperti apa yang membuat yang datang membawa misi damai justru ikut menjadi korban, sementara rakyat sipil yang tertindas tetap tidak terlindungi?

Di sinilah akal harus diajak berpikir lebih dalam. Apakah kehadiran pasukan dalam mekanisme internasional benar-benar menghadirkan perlindungan yang hakiki? Ataukah mereka hanya ditempatkan di tengah konflik tanpa otoritas yang cukup untuk menghentikan agresi?

Sementara itu, darah kaum Muslim di Gaza, Lebanon, dan berbagai negeri lain terus tertumpah. Rumah-rumah hancur, anak-anak kehilangan keluarga, dan dunia hanya terus berbicara tentang resolusi, investigasi, dan diplomasi yang berulang.

 

Maka pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa kekuatan umat tidak diarahkan untuk benar-benar membela yang tertindas?

Allah ﷻ telah memberi arah yang sangat jelas:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ
Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas?”
(QS an-Nisa [4]: 75)

Ayat ini menggugah kesadaran bahwa kekuatan tidak boleh berhenti pada simbol kehadiran, tetapi harus menjadi jalan perlindungan bagi mereka yang lemah dan terzalimi.

 

Karena itu, tragedi ini harus membangunkan umat dari cara pandang yang sempit. Kekuatan kaum Muslim seharusnya dibangun bukan untuk sekadar hadir dalam mekanisme global, tetapi untuk menghadirkan keadilan yang berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Selama solusi masih bergantung pada sistem yang gagal menghentikan kezaliman, maka korban akan terus berjatuhan, bahkan dari pihak yang datang membawa misi perdamaian. Sudah saatnya umat berpikir: untuk apa kekuatan , jika yang tertindas tetap tidak terbela?

و الله اعلم بالصواب