Saat Kembali kepada Al-Qur’an, Penguasa Tak akan Berani Menyusahkan Rakyat

Kepemimpinan berlandaskan Alquran

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Di dalam hati kaum muslimin selalu hidup kerinduan untuk kembali kepada Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Mereka meyakini bahwa petunjuk Allah adalah cahaya yang menuntun manusia menuju kehidupan yang benar, adil, dan penuh keberkahan. Namun sering kali kerinduan itu berhenti pada ibadah personal, belum sampai pada kesadaran bahwa Al-Qur’an juga mengatur kehidupan bersama, termasuk bagaimana harta umat dikelola dan bagaimana penguasa menjalankan amanahnya.

 

Padahal Allah ﷻ telah begitu baik kepada kaum muslimin. Negeri ini dianugerahi kekayaan yang luar biasa: minyak, gas, batubara, emas, nikel, tembaga, hasil laut, kehutanan, dan tanah yang subur. Semua ini bukan sekadar nikmat yang patut disyukuri, tetapi juga amanah yang seharusnya menjadi sebab kesejahteraan rakyat.

 

Sayangnya, banyak kaum muslimin belum disadarkan bahwa kekayaan besar yang Allah limpahkan itu pada hakikatnya adalah milik umat yang wajib dikelola negara untuk kemaslahatan mereka. Pemikiran kapitalistik telah membuat masyarakat memandang praktik pengaturan ekonomi saat ini sebagai sesuatu yang biasa. Ketika sumber daya alam strategis diserahkan kepada swasta atau asing, banyak yang menganggapnya wajar. Ketika rakyat harus terus menanggung biaya hidup yang semakin berat, hal itu pun diterima sebagai sesuatu yang normal.

 

Belum utuhnya kesadaran umat terhadap petunjuk Al-Qur’an inilah yang membuat berbagai kebijakan yang membebani rakyat sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Hari ini kondisi fiskal negara sedang berat. Tekanan global meningkat akibat gejolak energi, konflik kawasan, dan pelemahan perdagangan dunia. Pada saat yang sama, daya beli rakyat terus turun. Nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi naik, dan gelombang PHK meluas di berbagai sektor industri.

 

Ironisnya, di tengah tekanan ekonomi yang semakin terasa, rakyat kembali mendengar rencana pembentukan Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU). Gagasan ini sekilas terdengar mulia: menghimpun dana umat untuk membantu pengentasan kemiskinan. Namun persoalan mendasarnya jauh lebih penting: mengapa negara justru semakin bergantung pada dana rakyat untuk menjalankan kewajiban yang semestinya menjadi tanggung jawabnya sendiri?

 

Sesungguhnya persoalan negeri ini bukan karena kekurangan potensi dana. Allah telah melimpahkan kekayaan yang sangat besar. Persoalan utamanya adalah salah kelola kekayaan dan salah arah pengurusan negara. Sebagian besar manfaat ekonomi dari kekayaan negeri lebih banyak dinikmati oleh segelintir pihak, sementara rakyat hanya memperoleh bagian yang sangat kecil.

 

Dengan demikian, akar masalahnya bukan karena Allah tidak memberi, tetapi karena umat tidak lagi memahami bagaimana nikmat itu seharusnya dikelola sesuai petunjuk-Nya.

Dalam Islam, penguasa bukan pihak yang boleh memindahkan beban kepada rakyat. Penguasa adalah raa’in, pengurus rakyat yang wajib menjamin kebutuhan mereka.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.

Hadis ini menegaskan bahwa penguasa wajib hadir langsung mengurus kebutuhan rakyat: pangan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan lapangan kerja. Bukan justru memindahkan tanggung jawab itu kembali kepada rakyat.

 

Karena itu, solusi hakiki bukan sekadar mencari sumber dana baru dari rakyat, tetapi membangkitkan kesadaran umat untuk kembali kepada Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ketika kaum muslimin memahami kitabnya, mereka akan sadar bahwa kekayaan negeri ini adalah amanah dari Allah untuk mereka, bukan untuk berputar di kalangan tertentu saja.

Allah ﷻ berfirman:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.

 

Maka jika kaum muslimin sadar jati dirinya, memahami kitabnya, mengetahui kepada siapa harus taat, dan mengerti bagaimana mengelola diri serta harta bersama sesuai syariah, mereka tentu tidak akan terus hidup dalam kesengsaraan seperti sekarang. Bukan karena Allah kurang memberi, tetapi karena petunjuk-Nya belum dijadikan pedoman dalam mengatur kehidupan.

 

Saat umat kembali kepada Al-Qur’an, mereka tidak hanya menemukan ketenangan jiwa, tetapi juga kesadaran tentang bagaimana kehidupan dan kekayaan bersama harus diatur. Pada saat itulah, tak akan ada penguasa yang berani menyusahkan rakyat.

والله اعلم بالصواب