Lebaran: Perayaan di Tengah Keluarga Terlilit Utang

LebaranTerlilitUtang-LenSaMediaNews

Oleh: Iliyyun Novifana

 

LenSaMediaNews.com–Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa momen lebaran meningkatkan kebutuhan konsumsi masyarakat maupun kebutuhan lainnya sehingga meningkat pula sektor pembiayaan (leasing, factoring, kartu kredit, pembiayaan konsumen, dan sebagainya). Hal ini sudah menjadi trend dari tahun ke tahun dan mereka memprediksi hal serupa juga terjadi di lebaran tahun 2026, meski pihak OJK masih menunggu data terbaru terkait realisasinya (wartaekonomi.co.id, 25-3-2026).

 

Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengatakan adanya “ritual” setiap momen menjelang Hari Raya Idulfitri, yaitu harga barang yang semakin mahal. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan rapuhnya daya tahan ekonomi rumah tangga Indonesia ketika bertemu dengan kenaikan harga, ongkos mobilitas, tekanan kurs dan jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran. Banyak keluarga yang merasa seperti masuk lorong yang sempit dan gelap. Harga hidup sedang menanjak sementara bantalan ekonomi rumah tangga menipis.

 

Pemerintah memberikan kebijakan dengan mendiskon tiket mudik untuk transportasi termasuk diskon jalan tol pada tanggal tertentu. Sehingga fasilitas tersebut menurutnya hanya menolong mereka yang memiliki fleksibilitas waktu, saldo cukup, informasi memadai, dan kesempatan membeli pada hari yang tepat. Sementara jutaan orang yang terikat jadwal kerja tak bisa memilih tiket sesuka hati (inilah.com,14-3-2026).

 

Tradisi Ramadan dan Lebaran

Ramadan dan Lebaran adalah momen spesial bagi kaum muslimin di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Suasana iman meningkat, momen menyambung silaturrahim, dan kegembiraan dalam merayakannya. Meskipun banyak juga di antara mereka muslim tapi tidak puasa, serta perbedaan pendapat dalam penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal. Namun kesamaan muslim Indonesia adalah mayoritas ikut tren: baju baru, sepatu atau sandal baru, tradisi selamatan, angpao lebaran, jajanan untuk suguhan, juga opor ayam tak ketinggalan serta menu bakso praktis sebagai andalan.

 

Meningkatnya konsumsi di bulan Ramadan hingga Syawal, sebagian masyarakat masih menjalankan tradisi seperti yang tersebut di atas. Tekanan sosial membuat masyarakat merasa malu jika tidak melakukannya. Jikalau kekurangan dana, pinjam dulu menjadi solusi mereka. Entah pinjol, gadai, atau yang lainnya. Yang penting “kebiasaan” Ramadan-Syawal bisa jalan. Pola pikir utang dulu bayar kemudian masih menjadi solusi utama bagi keluarga Indonesia.

 

Perbedaan Ramadan-Syawal dalam Sistem Kapitalisme dan Islam

Momen Ramadan dan Lebaran ini tak lepas dari cengkeraman kapitalisasi yang memberikan beban ekonomi pada rakyat. Daya beli keluarga yang rapuh menjadikan utang sebagai solusi yang ditawarkan oleh Sistem Kapitalisme. Alhasil semakin membahayakan ekonomi keluarga dengan tumpukan utang-utang sementara upah pemasukan mengalami penurunan. Maka makin banyak keluarga yang menggantungkan diri pada utang ribawi untuk memenuhi kebutuhan harian maupun insidental.

 

Setiap keluarga membutuhkan sistem ekonomi yang mensejahterakan, mampu membangun keseimbangan, dan distribusi ekonomi yang merata. Tidak berputar di kalangan orang kaya saja (para kapital). Mereka juga membutuhkan ekonomi yang stabil mata uangnya sekaligus harga barangnya. Sehingga tidak terjadi inflasi gila-gilaan yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga barang maupun tiket transportasi dan efek domino lainnya. Dari negara juga menyediakan lapangan pekerjaan yang layak dengan upah yang layak. Tidak menjadikan utang sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 

Solusi tersebut sungguh sangat indah dan mungkin seperti utopia jika melihat fakta sistem ekonomi saat ini. Memang akan menjadi utopia dalam Sistem Ekonomi Kapitalis, tidak dengan Sistem Ekonomi Islam. Solusi indah tersebut akan dapat direalisasikan dengan penerapan sistem Islam secara kaffah. Dalam setiap lini kehidupan yang diatur dengan syariat Islam (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya) akan mengantarkan pada kesejahteraan setiap keluarga.

 

Ketergantungan negara terhadap globalisasi dan liberalisasi perdagangan dapat dilepaskan. Momen Ramadan dan Lebaran akan kembali sesuai syariat Islam yaitu mewujudkan takwa bagi para pemeluknya dalam tataran individu hingga negara. Wallahua’lam bishshowab. [LM/ry].