Refleksi Hardiknas: Output Pendidikan yang Bernas?

HardiknasBernas-LenSaMediaNews

Oleh: Sunarti

 

LenSaMediaNews.Com–“Jauh panggang dari api” artinya jawaban, tindakan, atau hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak tepat sasaran, atau berbeda jauh dari kenyataan. Inilah fakta tentang dunia pendidikan di negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Negeri yang dilanda carut marut dalam berbagai persolan. Termasuk dunia pendidikan.

 

Saat ini, kebijakan dalam menyelesaikan persoalan pendidikan memang tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Alih-alih output pendidikan adalah orang-orang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, justru out put pendidikan adalah generasi nir-adab.

 

Setiap tahunnya Hardiknas selalu diperingati, namun wajah sistem pendidikan di Indonesia tidak kunjung cerah berseri. Kian hari justru kian buram dengan banyaknya kasus yang melanda anak didik maupun pendidik. Banyak sekali perilaku kejahatan maupun tindakan tidak sopan dari siswa maupun guru.

 

Tema Hardiknas tahun ini adalah “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema Yanng selaras dengan upaya pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul dan pilar prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasamen). Sayangnya tema ini belum terwujud. Banyak kasus yang melanda dunia pendidikan.

 

Sebut saja kasus pengeroyokan pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun), di Kabupaten Bantul. Pelajar ini meninggal di rumah sakit akibat luka yang dideritanya. Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengatakan dua orang pelaku, yakni BLP (laki-laki, 18 tahun), dan YP (laki-laki, 21 tahun) telah ditangkap. Dan masih ada lima pelaku yang menjadi Buron. Korban dianiaya dan dinyatakan oleh pihak kepolisian sebagai pembunuhan berencana (Kumparan, 21-4-2026).

 

Dan kasus serupa di kota Bandung, Jawa Barat, pada 13 Maret 2026, juga melibatkan enam tersangka dengan status pelajar SMA. Tewasnya seorang siswa pelajar SMA Negeri 5 Bandung, bernama Muhammad Fahdly Arjasubrata (17) meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya.

 

Dalam laman Kompas, tanggal 21 April 2026, video diduga dikeroyok para tersangka saat pulang dari kegiatan buka puasa bersama dengan teman sekolahnya di Jalan Cihampelas, pukul 23.30 WIB. Video tersebut viral di media sosial. Korban meninggal karena kekerasan benda tumpul yang mengakibatkan parah tulang dasar tengkorak.

 

Belum lagi perilaku pelajar yang menganiaya guru, juga terjadi di berbagai tempat. Menunjukkan potret buram dunia pendidikan. Peringatan Hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan, terutama arah/jalan pendidikan yang menghasilkan pelajar yang krisis kepribadian, cenderung sekuler, liberal dan pragmatis. inilah kegagalan nyata implementasi dunia pendidikan. Generasi akhirnya jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.

 

Akibat alam Kapitalis sekular di ranah pendidikan akan menghasilkan output individu-individu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dengan jumlah besar, serta orang-orang yang ingin sukses dengan mudah tanpa usaha serius.

 

Ditambah dengan longgarnya sanksi bagi pelaku kejahatan yang notabene mereka adalah anak-anak pelajar dan dianggap di bawah umur, turut menyumbang angka kerusakan generasi. Anggapan kriminalitas adalah kenakalan anak semata adalah bentuk toleransi yang melonggarkan tindakan kejahatan mereka.

 

Pendidikan nilai-nilai agama yang telah minim, memperbesar ruang kebebasan dan akhirnya mengikis moral dan kepribadian. Akibatnya generasi mudah terseret tindak kejahatan dan kemaksiatan.

 

Kondisi seperti ini jauh berbeda dengan pendidikan di negara Islam yang menerapkan aturan Islam secara utuh. Pendidikan merupakan hal penting lagi mendasar yang keberadaan dan pemenuhannya dijamin oleh negara. Pendidikan Islam berasaskan pada akidah Islam yang nantinya menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa. Terjadinya kejahatan maupun tindak kecurangan dan lainnya, akan diminimalisir.

 

Fokus pada pembentukan karakter (syaksiyah Islamiyah) sangat diutamakan dalam pendidikan Islam. Para pelajar yang memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikap akan tercetak sejak dini sehingga output pendidikan juga generasi yang bernas.

 

Dalam hal hukum, sistem Islam akan menerapkan sanksi yang tegas bagi pelaku kemaksiatan, termasuk para pelajar. Didukung dengan penetapan usia dewasa pada sistem Islam dengan standar baliqh. Sementara sistem Kapitalis sekuler dewasa ditentukan oleh usia.

 

Setiap orang akan terdorong dalam melakukan aktivitas untuk bertakwa dengan peran serta negara dalam mewujudkan suasana keimanan yang kokoh. Individu akan berpikir bagaimana aktivitas mendapatkan rida Allah.

 

Sistem pendidikan Islam yang diterapkan negara harus berpijak pada akidah dan syariat Islam. Keberhasilan terwujudnya generasi penerus bangsa yang bernas, diperlukan sinergi pendidikan dalam keluarga, lingkungan dan peran besar negara.Waallahu alam bisawab. [LM/ry].