Labaika Allaahumma Labaiik: Aku Penuhi Panggilan-Mu ya Allah

Idul Adha

 

Olah Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_ Allah ﷻ berfirman:
وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Serulah manusia untuk mengerjakan haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus dari segenap penjuru yang jauh.” (QS al-Hajj [22]: 27).

 

Setiap datang Bulan Dzulhijjah, ayat ini selalu mengingatkan kita pada keluarga mulia Nabi Ibrahim as., Bunda Hajar dan Nabi Ismail as. Dari keluarga inilah kita belajar bahwa iman bukan sekadar keyakinan di dalam hati, tetapi kekuatan yang melahirkan ketaatan dan pengorbanan.

 

Suatu hari Nabi Ibrahim as. meninggalkan Bunda Hajar dan Ismail kecil di sebuah lembah tandus yang sunyi. Tidak ada manusia. Tidak ada pepohonan. Tidak ada sumber makanan maupun air. Bayangkan perasaan seorang ibu. Di tengah padang pasir yang panas, ia ditinggalkan bersama bayi kecilnya.

Bunda Hajar pun bertanya:
“Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di tempat seperti ini?” Namun Nabi Ibrahim terus berjalan. Hatinya berat. Beliau tidak mampu menjelaskan apa pun.

 

Sampai akhirnya Bunda Hajar bertanya:
“Apakah ini perintah Allah?”
Nabi Ibrahim mengangguk. Dan saat itulah tampak hakikat iman yang sesungguhnya.
Bunda Hajar tidak lagi mengejar Nabi Ibrahim. Tidak marah. Tidak memberontak. Tidak menyalahkan keadaan.

Beliau justru berkata:
“Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Kalimat ini lahir dari hati yang yakin kepada Allah ﷻ. Inilah pelajaran besar dari ibadah haji: iman yang benar akan melahirkan ketundukan kepada Allah, meskipun terkadang akal manusia belum memahami seluruh hikmahnya.

 

Karena itu, ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah. Haji adalah madrasah ketaatan. Mengapa jutaan manusia rela datang dari berbagai penjuru dunia?
Mengapa mereka rela menghabiskan harta, tenaga dan waktu?
Mengapa mereka tetap datang meskipun harus berdesakan, kepanasan dan kelelahan?Karena mereka sedang memenuhi panggilan Allah ﷻ.
Sama seperti Bunda Hajar. Ketika hati yakin kepada Allah, maka ketaatan terasa lebih ringan.

 

Di sinilah seorang Muslim belajar bahwa Islam bukan hanya ibadah ritual. Islam adalah ketundukan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Jika Allah memerintahkan shalat, maka ia shalat. Jika Allah memerintahkan menutup aurat, maka ia berusaha menaatinya.
Jika Allah memerintahkan menjaga lisan, maka ia berusaha menjaganya.
Jika Allah memerintahkan mendidik anak dengan Islam, maka ia berusaha melaksanakannya. Jika Allah memerintahkan agar kehidupan manusia diatur dengan hukum-Nya, maka ia pun meyakini bahwa aturan Allah adalah yang terbaik bagi manusia.

 

Sebab seorang Muslim sejati tidak berkata:
“Aku mau taat yang ini, tapi tidak yang itu.”

Ia belajar berkata: “Jika ini perintah Allah, maka aku akan berusaha tunduk.” Pelaksanaan ibadah haji juga memperlihatkan sesuatu yang sangat indah.

 

Jutaan kaum Muslim berkumpul dalam satu tempat. Mereka berbeda bahasa, warna kulit dan bangsa. Namun semuanya mengenakan pakaian ihram yang hampir sama. Semua thawaf dengan arah berputar yang sama. Semua menghadap kiblat yang sama. Semua mengucapkan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah…”

Di sana manusia seolah diingatkan bahwa kaum Muslim sejatinya adalah satu umat. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara.(TQS al-Hujurat [49]: 10).

 

Karena itu, haji yang dijalani dengan penuh kesadaran iman tidak akan berhenti sebagai ritual tahunan semata. Ia akan melahirkan hati yang peduli terhadap keadaan umat Islam di seluruh dunia. Bagaimana mungkin seorang Muslim merasakan persaudaraan di Tanah Suci, tetapi tidak peduli ketika saudaranya tertindas? Bagaimana mungkin seorang Muslim menangis di depan Ka’bah, tetapi diam ketika hukum-hukum Allah diabaikan dalam kehidupan manusia?

Iman melahirkan kepedulian.
Dan kepedulian adalah daya dorong untuk melahirkan perjuangan.BSejarah Islam menunjukkan bahwa ketika umat Islam bersatu di atas akidah dan syariah Islam, lahirlah peradaban besar yang memuliakan manusia dengan hukum Allah ﷻ. Persatuan itu bukan dibangun di atas suku, bangsa ataupun kepentingan duniawi, tetapi dibangun di atas keimanan kepada Allah ﷻ.

 

Karena itu, kaum Muslim hari ini membutuhkan lebih dari sekadar rasa haru dan rindu ke Baitullaah. Umat membutuhkan kesadaran untuk kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara kaffah, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun masyarakat.

 

Spirit haji mengajarkan bahwa kaum Muslim sesungguhnya mampu bersatu dalam ketaatan kepada Allah ﷻ. Semoga Dzulhijjah ini tidak hanya menghadirkan kerinduan kepada Baitullah, tetapi juga menghadirkan iman yang lebih hidup: iman yang melahirkan ketaatan, pengorbanan, persaudaraan, dan perjuangan untuk menghadirkan kehidupan yang diridhai Allah ﷻ.

Ketika jutaan kaum Muslim mengucapkan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah…” maka sesungguhnya seorang Mukmin sedang menyatakan: “Ya Allah, aku siap taat kepada-Mu.Aku siap tunduk kepada aturan-Mu. Aku siap berjuang di jalan-Mu.”

Labbaikallahumma labbaik.

والله اعلم بالصواب