Tsaqofah Demokrasi Sekuler Merenggut Simbol Persatuan Umat

Oleh : Muflihatul Chusnia
LenSaMediaNews.com–Menjadi tamu Allah merupakan impian setiap muslim didunia, ibadah yang paling agung, mampu melaksanakan rukun Islam ke-5, yang dilakukan setahun sekali, pada bulan Dzulhijjah. Tempatnya pun khusus, yaitu di Mekkah Madinah. Pun dalam pelaksanaannya ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi oleh setiap jamaah, baik laki-laki ataupun perempuan, yang kaya atau miskin, hitam ataupun putih semua sama.Tanpa ada perbedaan status sosial atau derajat.
Tujuannyanya juga sama yaitu menjadi haji mabrur. Artinya amal ibadah hajinya diterima, murni mencari ridho Allah dengan pahala surga. Seperti yang Allah sampaikan dalam firmanNya yang artinya “ Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah“. (TQS. Al-Baqarah:196). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw., “Haji mabrur tidak lain pahalanya adalah surga. “(HR. Al-Bukhari).
Maka dari itu sungguh rugi orang-orang yang hanya mengejar gelar “haji”, validasi, dan untuk flexing belaka. Ibadahnya sia-sia dan mendapat dosa. Seperti di dalam hadist qudsi yang artinya, “ Aku adalah Tuhan yang paling tidak membutuhkan sekutu dari segala bentuk kesyirikan. Siapa saja yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepada diri-KU, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya”. ( HR.Muslim).
Oleh karena itu haji mabrur hanya diberikan pada orang-orang yang tetap taat dan patuh pada Allah sampai mati. Maksudnya, dalam proses penerapan ibadah haji mampu merubah mindset hidup, bahwa sebenarnya hidup hanya untuk ibadah kepada Allah dengan menerapkan semua yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang. Sama halnya dengan ibadah haji, akan berusaha mencegah perkara yang membatalkan dan merusak syarat rukun haji.
Pun ketika kembali, jiwa ketakwaan harus tetap terjaga, bukan untuk diri sendiri, tapi juga pada orang sekitar. Hati merasa gelisah saat melihat kemungkaran. Resah saat hukum Allah dianggap sampah. Kalam Allah hanya sekedar bacaan dan hafalan, bukan untuk diamalkan.
Oleh sebab itu proses ibadah haji bukanlah sebagai ritual ibadah individu, melainkan menjadi pelajaran pembuktian ketaatan hanya kepada Allah saja. Pastinya membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan. Seperti yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim dan Ismail.
Kemudian juga yang tidak disadari oleh umat adalah ibadah haji merupakan simbol persatuan. Dimana umat Islam seluruh dunia berkumpul menjadi satu dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji yang dilakukan bersama-sama dengan satu tujuan, satu tempat, satu komando, dan satu landasan tauhid yaitu “Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah”.
Artinya ketaatan kepada Allah harus dilakukan dimanapun dan kapanpun, bukan hanya ketika melaksanakan ibadah haji. Seperti penggalan hadist Nabi saw., “Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada”. (HR. At-Tirmizi). Namun faktanya pengaruh faham Demokrasi sekuler begitu lekat, sehingga mampu menggerus simbol persatuan dan ketakwaan. Contoh, setelah ibadah haji tetap korupsi, mengambil riba atau tidak menutup aurat. Dan perbedaan politik, madzhab dan organisasi menjadi masalah. Akhirnya umat terpecah belah, akibatnya umat semakin lemah.
Maka dari itu mempersatukan umat berdasarkan akidah islam adalah urgent. Karena dengan landasan ketakwaan dan ketaatan mampu menjadi kekuatan besar untuk memobilisasi umat menuju perintah yang lebih agung yaitu menerapkan Islam secara keseluruhan. Semoga Allah senantiasa menolong dan meridhoi perjuangan kita untuk mengembalikan kejayaan Islam dalam bingkai khilafah. Wallahu a’lam bishowab. [LM/ry].
