Hari Lahir Pancasila, Idiologi Negara Bangsa

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
LenSaMediaNews.com–Dengan semangat kebangsaan mewarnai peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 yang digelar di Alun-alun Sidoarjo, Senin, 1 Juni 2026. Bupati Sidoarjo, Subandi pada momen itu mengajak mengajak generasi muda untuk tidak hanya menghafal Pancasila, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Subandi, nilai-nilai luhur Pancasila harus hadir dalam setiap tindakan, perilaku sosial, hingga kebijakan yang diambil pemerintah (Radarsidoarjo.com, 2-5-2026).
Benarkah Pancasila Idiologi Bangsa?
Jika menggali lebih tentang definisi idiologi maka akan di dapati beberapa makna. Pertama makna bahasa, ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea (gagasan atau konsep) dan logos (ilmu atau pengetahuan). Secara umum, maknanya adalah kumpulan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan yang menjadi pedoman dan tujuan dalam berpikir, bersikap, serta bertindak bagi suatu kelompok atau bangsa.
Sedangkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan kelangsungan hidup.
Berikutnya secara makna politik idiologi adalah “Sistem ide yang menyangkut filsafat, ekonomi, politik, kepercayaan sosial dan ide-ide.” Atau “Pemikiran yang mendasar, yang tidak dibangun berdasarkan pemikiran lain (ushûl bukan furû).” Atau “Akidah rasional yang mampu melahirkan sistem peraturan kehidupan.” (An Nabhany, 1953).
Dari berbagai tinjauan makna di atas, maka akan kita dapati di dunia ini hanya ada tiga idiologi yaitu Kapitalisme, Sosialis/Komunis dan Islam. Idiologi Kapitalisme yaitu ideologi yang mengakui adanya Tuhan tapi menolak aturan Tuhan. Sistem aturannya Demokrasi liberal, Ekonomi liberal yang berfokus pada kebebasan kepemilikan pribadi dan pasar bebas untuk meraih keuntungan.
Kedua adalah Idiologi Sosialisme, yaitu idiologi yang tidak mengakui adanya Tuhan Juga menolak aturan Tuhan. Sistem aturannya Demokrasi terpimpin, Ekonomi terpimpin, dimana Ideologi ini menekankan kepemilikan bersama dan pemerataan kesejahteraan.
Idiologis Islam mengakui adanya Tuhan juga mengakui aturan Tuhan. Sistem pemerintahannya Khilafah, Ekonomi Islam dan lainnya. Dari sini, kita bisa menilai bahwa Pancasila samasekali tidak dikatagorikan idiologi apapun.
Sebab Pancasila hanya berisi rangkuman nilai dan budaya masyarakat Indonesia dan tidak berlandaskan pada satu pemikiranpun, apakah Kapitalisme, Sosialis atau pun Islam. Tidak ada aturan yang terpancar samasekali darinya, karena nyatanya Indonesia mengambil sistem ekonomi Kapitalisme yang berasal dari Barat.
Demikian pula dengan sistem politiknya, mengambil Demokrasi yang juga berasal dari Yunani. Ironi bukan, negara dengan muslim terbesar tapi justru mengambil aturan dari kaum kafir dan mengabaikan Allah SWT. Sang pembuat hukum. Padahal jika dipahami lebih mendalam, Islam adalah agama yang sempurna karena mengandung akidah dan syariat. Setiap aturannya pasti memberi solusi bagi semua persoalan manusia, sebab Islam diturunkan oleh Allah Sang Pemilik manusia, dunia, alam semesta beserta isinya.
Jika benar Pancasila adalah idiologi, pastilah salah satu silanya mampu menyelesaikan persoalan umat, semisal sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Maknanya, tentulah negara akan mengutamakan pendidikan karena manusia yang adil dan beradab hanya bisa dihasilkan dari sistem pendidikan yang baik.
Berbagai fakta menunjukkan betapa perhatian negara sangatlah minim, dari mulai pernyataan presiden untuk ditetapkan kurikulum bahasa Prancis hanya gara-gara beliau mengadakan lawatan di sana. Belum lagi program MBG yang menyedot anggaran pendidikan dan sosial di APBN, padahal samasekali tidak berhubungan dengan pendidikan. Dan PSN lainnya, yaitu proyek KDMP, beberapa daerah banyak diberitakan aparat negara merebut gedung sekolah yang siswanya masih aktif belajar dan lain sebagainya. Fokus pemerintah malah di Sekolah Rakyat, dengan jargon memutus rantai kemiskinan ekstrem, di sisi lain anak lain bertaruh nyawa setiap berangkat sekolah bertaruh nyawa karena akses mereka rusak parah.
Bahkan seringkali di negeri ini dipertontonkan kisah konyol, mereka yang berteriak tegas paling Pancasilais malah menjadi tersangka korupsi atau tindak asusila. Dan Pancasila tidak bisa memberikan sanksi karena memang tidak memiliki aturan yang terpancar dari sila-silanya.
Islam Adalah Idiologi Sempurna
Mengharap kebaikan dengan idiologi yang salah, bahkan tak memiliki asas dan aturan adalah sia-sia. Apalagi untuk membangun sebuah peradaban mulia, tentu tak boleh ada pertentangan antara asas dan aturannya. Maka, sebagai seorang muslim sudah seharusnya terikat dengan idiologi Islam. Sebagaimana Allah SWT. Perintahkan, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).”(TQS Ali Imran:19).
Hanya Islam yang mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik. Maka, mengapa masih meragukannya? Wallahualam bissawab. [LM/ry].
