Energi Tersita, Merdeka Masih Belum Nyata

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
LenSaMediaNews.com–Bulan Juli hampir berakhir, setelahnya akan bertemu dengan bulan Agustus. Namun, suasana peringatan HUT RI ke-81 sudah terasa kencang sejak Juli ini. Mulai dari pembentukan panitia Agustusan, jenis lomba, bersih kampung dan lingkungan, bazar, karnaval dan lainnya.
Pemerintah Kota Surabaya mengingatkan pengurus RT dan RW agar tidak menetapkan besaran iuran dalam rangka peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia (JPNN.com,13-7-2026). Seluruh sumbangan untuk kegiatan 17 Agustus diminta bersifat sukarela dan dikelola secara transparan agar tidak berpotensi menjadi pungutan liar (pungli).
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan semangat gotong royong tetap menjadi dasar pelaksanaan perayaan kemerdekaan. Namun, partisipasi warga maupun pelaku usaha harus didasari keikhlasan, bukan kewajiban. Eri pun meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan adanya penetapan nominal sumbangan atau iuran yang bersifat wajib. Karena praktik tersebut bertentangan dengan Surat Edaran Nomor 100.3.4.3/16871/436.1.1/2026 tentang Pembatasan Pungutan Iuran kepada Masyarakat di Lingkungan RT dan RW. Melalui aturan tersebut, pengurus RT RW dilarang menarik iuran di luar ketentuan yang telah diatur.
Eri menegaskan hanya ada tiga jenis iuran yang diperbolehkan, yakni iuran keamanan, kebersihan, serta penerangan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) yang belum diserahkan atau belum dikelola oleh pemerintah daerah.
Tak Boleh Wajib, Nyatanya Iuran Tetap
Biaya perayaan HUT negara ini memang tak pernah murah. Eksistensi rakyat ditantang untuk menampilkan yang terbaik, sejak dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Bahkan pemerintah daerah menyediakan hadiah puluhan juta rupiah untuk desa terbaik dalam merayakan HUT RI tersebut. Meski dikata orang desa tak pakai Dollar, nyatanya untuk perayaan ini semua daya upaya dikerahkan. Semua tabungan dikuras hingga apa saja yang bisa dijual dijual untuk menambah pendapatan desa.
Sungguh semangat yang luar biasa di tengah impitan ekonomi yang luar biasa. Rakyat diminta mengeluarkan kontribusi terbaik, mengisi kemerdekaan dengan ide terkreatif sementara kondisi semakin tahun tidak semakin baik. Bukankah ini sama dengan pembohongan publik? Semangat kemerdekaan yang dipompa di atas penderitaan rakyatnya, hancurnya usaha, banyaknya PHK, sulitnya lapangan pekerjaan, mahalnya pendidikan dan lain sebagainya sejatinya tak bisa ditutupi dengan iuran warga.
Memang tak diwajibkan, namun justru pengadaan dana perayaan HUT RI dijadikan iuran rutin yang ditentukan nominalnya setiap bulan. Alasannya agar lebih mudah dan murah ketika waktunya sudah tiba, yaitu bulan Agustus. Semua berdasarkan kesadaran warga, terpaksa atau tidak iuran itu sudah menjadi budaya.
Yang menjadi pertanyaan, apa yang didapat dari penggalangan dana dan perayaan HUT RInya? Apakah berkorelasi dengan semakin baiknya kondisi rakyat? Jawabnya samasekali Tidak! Begitu Agustus berlalu, kehidupan rakyat tetap susah, lusuh sebagaimana tampilan atau hiasan yang diperlombakan. Tak jarang malah mengumbar kemaksiatan dengan adanya panggung yang menampilkan biduanita, atau warga sendiri yang tampil seronok.
Hal ini karena, yang didorong hanyalah ikatan nasionalisme yang ada pada setiap orang. Dimana ikatan ini adalah ikatan yang sangat lemah dalam mengikat manusia. Selain itu temporer sehingga tak bisa dijadikan sebagai alat untuk membangkitkan umat dengan kebangkitan yang benar.
Mabda Islam Adalah Ikatan yang Sahih
Syeh Taqiyuddin an-Nabhani rahimallah, seorang Mujtahid mutlak dalam bukunya “Nizamul Islam” atau peraturan hidup dalam Islam menyatakan ada tiga ikatan manusia, pertama ikatan kepentingan/manfaat seperti jual beli. Kedua, ikatan emosional/naluriah seperti nasab, patriotisme, dan nasionalisme dan ketiga ikatan ideologis/mabda seperti pemikiran dan akidah.
Dan ikatan ideologis adalah satu-satunya ikatan yang kuat dan layak dijadikan landasan aturan bermasyarakat karena mampu memecahkan problematika hakiki manusia. Peringatan kemerdekaan negara, yang secara nyata dibiayai oleh rakyat sendiri sebetulnya bentuk eksploitasi yang terselubung. Apa yang hendak dirayakan ketika pajak masih mencekik rakyat di segala barang dan jasa? Dimana letak kemerdekaan jika urusan kesehatan harus melalui asuransi? Bagaimana pula kondisi anak bangsa, apa yang mereka warisi ketika sekolah dan kuliah saja mereka tak mampu saling mahalnya biaya pendidikan?
Cinta tanah air telah dicontohkan oleh Rasûlullâh Saw. Bukan dengan membabi buta, sekadar mengumpulkan iuran untuk perlombaan dan lain sebagainya melainkan menjadikan bumi dipijak dan langit dijunjung ini dengan penerapan syariat. Sebagaimana firman Allah SWT, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.’ (TQS al-A’raf:96). Wallahualam bissawab. [SNI].
