PHK di Jantung Kapitalisme

Oleh : Nurjannah S.
LensaMediaNews.com–Gelombang PHK di sektor teknologi Amerika Serikat terus membesar. Pada bulan lalu perusahaan-perusahaan teknologi berencana memangkas 38.242 pekerja, menjadi angka tertinggi sejak Agustus 2024 menurut data Challenger, Gray & Christmas Inc.Tren ini menunjukkan tekanan yang semakin kuat di industri tersebut. Sepanjang 2026, jumlah pekerja yang terdampak PHK telah mencapai 123.653 orang, meningkat lebih dari 65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Blumberg, 05-06-2026).
Di sisi lain Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menandatangani perintah eksekutif yang mempermudah proses pemberhentian pegawai negeri federal tingkat senior sebagai bagian dari upaya reformasi birokrasi pemerintah. Kebijakan ini mengurangi perlindungan status kepegawaian bagi pejabat federal senior dengan gaji mencapai hampir 200.000 dolar AS per tahun, sehingga mereka lebih mudah diberhentikan dari jabatannya.
Hal ini bertujuan memastikan para pejabat senior lebih selaras dengan pelaksanaan kebijakan pemerintahan yang sedang berkuasa dan meminimalkan hambatan. Aturan baru ini akan berdampak pada sekitar 8.000 pegawai federal (detikFinance, 04/06/2026).
Watak Asli Kapitalisme
Beginilah watak asli kapitalisme. Efisiensi anggaran dan penyesuaian dengan arah kebijakan pemerintah menjadi hal biasa dijadikan alasan PHK. Negeri yang selama ini dipuja sebagai pusat Kapitalisme dunia ternyata tidak ragu mengorbankan rakyatnya sendiri ketika dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan sistem. Bukankah negara seharusnya hadir untuk melindungi dan mengurus rakyat?
Apa yang terjadi di Amerika juga menjadi pengingat bahwa problem PHK bukan hanya milik Indonesia. Hampir setiap hari masyarakat disuguhi kabar pabrik tutup, perusahaan merumahkan pekerja, atau gelombang efisiensi yang menghilangkan ribuan lapangan pekerjaan. Fenomena ini terjadi di berbagai negara, baik yang maju maupun yang berkembang.
Jika negara yang menjadi ikon Kapitalisme saja tidak mampu memberikan rasa aman bagi pekerjanya, lalu apa yang sebenarnya dibanggakan dari sistem ini? Fakta tersebut menunjukkan bahwa Kapitalisme bukan solusi atas persoalan ketenagakerjaan, melainkan sumber masalah ketenagakerjaan.
Banyak orang menggantungkan harapan pada pertumbuhan ekonomi. Mereka percaya bahwa investasi yang meningkat menghadirkan kesejahteraan. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Kekayaan memang bertambah, tetapi menumpuk di tangan segelintir orang. Korporasi semakin besar, sementara rakyat biasa tetap berjuang untuk sekedar bisa hidup. Saat korporasi mengalami problem maka bermacam cara digunakan untuk menyelamatkan diri, diantaranya PHK.
Beginilah hidup dalam Sistem Kapitalisme, penguasa sibuk menjaga iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi rakyat justru kehilangan pekerjaan. Tidak heran jika kesenjangan terus melebar. Sebab sejak awal sistem ini memang dibangun untuk memberikan ruang sebesar-besarnya bagi para pemilik modal alias korporasi. Akibatnya, kesejahteraan yang dijanjikan hanya dinikmati oleh mereka saja.
Islam Solusi PHK
Islam mengatur kepemilikan dengan tegas sehingga sumber daya yang menjadi hajat hidup orang banyak tidak sampai dimiliki individu atau investor. Tujuan pengaturan ekonomi dalam Islam adalah menjamin terpenuhinya kebutuhan seluruh rakyat.
Dalam Islam, negara bukan sekadar regulator. Negara berfungsi sebagai pengurus urusan rakyat. Rasulullah Saw. bersabda,” Imam atau pemimpin adalah pengurus dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari). Karena itu, penguasa tidak boleh lepas tangan ketika rakyat kesulitan mendapatkan pekerjaan atau memenuhi kebutuhan hidupnya.
Negara wajib hadir termasuk menyediakan lapangan pekerjaan. Karena kesejahteraan rakyat bukan tanggung jawab pengusaha atau korporasi. Negaralah yang bertanggung jawab atas semua urusan rakyat termasuk memastikan ketersediaan lapangan kerja yang memadai sekaligus memberikan pelatihan, keterampilan, bahkan modal.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Surah Al-Hasyr ayat 7 agar harta tidak beredar hanya di kalangan orang-orang kaya saja. Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya distribusi kekayaan dalam Islam. Peran negara adalah melakukan distribusi kekayaan dengan benar sesuai syariat. Disinilah pentingnya kembali pada syariat Islam karena disanalah ada solusi semua persoalan. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian” (TQS Al-Anfal: 24). Wallahu a’lam bish-shawab. [LM/ry].
