Trauma Gaza hingga hilangnya Kemampuan Bicara

TraumaGaza-LenSaMediaNews

Oleh: Maisyatush Shofiyah

 

LenSaMediaNews.com–Mungkin kita kerap mendengar tentang keteguhan mental dan kokohnya iman warga Gaza. Ketika tanah mereka dihujani serangan dan penjajahan brutal selama bertahun-tahun, mereka tetap bertahan meski dengan sisa kekuatan yang ada.

 

Genosida yang nyata dirasakan rakyat Gaza setiap hari, khususnya sejak 7 Oktober 2023, kini telah berlangsung selama 973 hari. Dampaknya tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan fasilitas publik, melainkan rusaknya fisik serta kesehatan mental para pejuang dan warga sipil, terutama anak-anak.

 

Seorang psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menemukan tidak ada anak yang tidak mengalami trauma berat setidaknya lebih dari 1 juta anak (BBC, 26-05-2026). Bentuk reaksinya berbeda-beda. Ada yang menjadi gelisah, sulit tidur, mudah marah, hingga sering berteriak. Penderitaan seperti ini masih dapat dikenali oleh orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, bagaimana jika trauma itu justru membuat seorang anak menarik diri dari lingkungan dan kehilangan kemampuan berbicara?

 

Dokter-dokter di Gaza mengungkapkan bahwa kasus anak-anak yang kehilangan kemampuan bicara terus meningkat. Hal ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Kondisi tersebut merupakan dampak langsung dari kejahatan entitas Zionis yang terus melakukan pembunuhan, pengeboman, pengepungan, dan penghancuran terhadap kehidupan rakyat Palestina.

 

Ketika seorang anak menyaksikan keluarganya terbunuh, rumahnya dihancurkan, dan hidupnya terus berada dalam ancaman kematian, maka luka yang ditinggalkan bukan hanya pada tubuhnya, tetapi juga pada jiwanya. Hilangnya kemampuan berbicara menjadi salah satu bukti bahwa penderitaan yang mereka alami telah melampaui batas manusia.

 

Skenario genosida semacam ini terhadap rakyat Gaza memang sengaja dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental mereka. Serangan yang terus berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun telah menciptakan kerusakan psikologis yang mendalam, terutama pada anak-anak.

 

Generasi yang seharusnya tumbuh dengan pendidikan, keamanan, dan kasih sayang justru dipaksa hidup dalam ketakutan, kehilangan keluarga, dan menyaksikan kematian setiap hari. Sehingga proses tumbuh kembang menjadi tidak optimal hingga kemunduran kognitif yang sangat signifikan.

 

Payahnya dunia tidak mampu menghentikan kejahatan entitas zionis ini, kecuali sedikit bantuan kemanusiaan. Sementara penguasa muslim justru dengan bangga melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim palestina. Dalam Islam, kejahatan penjajahan harus dilawan hingga tuntas melalui jihad fi sabilillah.

 

Pembebasan Palestina membutuhkan kekuatan nyata yang mampu menghentikan agresi Zionis dan melindungi kaum muslim. Karena itu, keberadaan institusi Khilafah sebagai pemersatu umat dan pelindung kaum muslim menjadi kebutuhan yang sangat mendasar. Khilafah akan mengerahkan kekuatan yang dimilikinya untuk membebaskan Palestina dari penjajahan dan mengakhiri penderitaan yang telah berlangsung begitu lama.

 

Oleh sebab itu, kesadaran untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah tidak dapat dipisahkan dari perjuangan pembebasan Palestina. Sebab umat Islam hari ini telah kehilangan perisai yang dahulu melindungi mereka. Rasulullah Saw  bersabda, “Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai, yang orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim).

 

Dengan kembalinya perisai tersebut, persatuan kaum muslim dapat diwujudkan dan pembelaan terhadap Palestina tidak lagi berhenti pada simpati serta bantuan kemanusiaan, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata untuk mengakhiri penjajahan dan membebaskan negeri kaum Muslim dari cengkeraman musuh-musuh Islam. Wallahualam bissawab. [LM/ry].