Subsidi Makin Tipis, Asa Mahasiswa Meringis

SubsidiPT-LenSaMediaNews

Oleh : Nurfillah Rahayu

Forum Literasi Muslimah Bogor

 

LenSaMediaNews.com–Sebanyak 289.000 Mahasiswa di Indonesia Putus kuliah di Tahun 2025. Terjadi kenaikan sebanyak 2,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025 angka putus kuliah paling tinggi terjadi pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebanyak 73,81 persen, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) 17,20 persen, Perguruan Tinggi Agama 7,74 persen dan sisanya dari Perguruan Tinggi Kedinasan sebanyak 1,25 persen (detiknews.com, 25-05-2026).

 

Tipisnya subsidi pendidikan pada perguruan tinggi berdampak pada makin tingginya biaya kuliah. Apalagi pada PTS yang murni semua pembiayaan dari mahasiswa tanpa adanya subsidi dari pemerintah. Dengan biaya yang kini tidak lagi murah maka rakyatpun kesulitan membayar biaya kuliah, hal ini menyebabkan angka putus kuliah bertambah banyak.

 

Meski semangat belajar tinggi namun asa mahasiswa meringis membayangkan masa depan cemerlang semakin jauh dari harapan. Pendidikan yang berkualitas kini semakin sulit dijangkau oleh masyarakat menengah kebawah. Kampus kini hanyalah untuk orang-orang yang memiliki materi berlimpah.

 

Inilah potret buram sistem pendidikan Kapitalisme yang menjangkiti negeri ini. Kampus diliberalisasi sehingga mahasiswa harus membiayainya sendiri, karena tidak semuanya disubsidi otomatis pemasukan terbesar kampus hanyalah dari UKT mahasiswa.

 

Sistem Kapitalisme menjadikan pendidikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan sehingga tujuan utama pendidikan yang semestinya mencerdaskan bangsa kinipun bergeser sebagai ajang bisnis bagi para pengusaha mencari keuntungan yang besar. Akibatnya ketimpangan semakin tebal, kebodohan merajalela sehingga akan berdampak pada tingginya angka pengangguran diteruskan dengan bertambahnya kemiskinan dan tindakan kriminalitas yang masif sehingga menganggu stabilitas keamanan.

 

Kapitalisme menjadikan negara hanya berperan sebagai regulator, padahal negara seharusnya menjadi garda terdepan mendukung kecerdasan bangsa dalam membentuk masa depan cemerlang sehingga menghasilkan generasi yang kuat kini seolah sirna, karena subsidi pendidikan semakin dikurangi dengan dalih dipindahkan pada sektor lainnya yang lebih penting dan membutuhkan. Sungguh kondisi seperti ini telah menimbulkan polemik yang pelik. Mau tak mau kita membutuhkan sistem yang dapat menyelesaikan persoalan ini.

 

Dan sistem itu tak lain hanyalah Sistem Islam yang isinya diatur oleh Sang Pencipta langsung bukan karangan manusia yang dibuat sesuai dengan kebutuhannya seperti yang terjadi dalam sistem kufur saat ini. Dalam Sistem Islam pendidikan merupakan kebutuhan dasar dan faktor penting penentu kemajuan masyarakat. Dengan belajar dari pendidikan dasar hingga ke pendidikan tinggi diharapkan umat mampu membentuk pribadi yang mandiri, berakhlak mulia serta menguasai keterampilan hidup dan memiliki kepakaran di bidangnya.

 

Pendidikan jelas tidak boleh dikomersialkan apapun bentuknya karena tujuannya jelas maka seharusnya jelas pula seluruh faktor pendukung didalamnya. Negara dalam Islam berperan sebagai Raa’in yang mengatur berbagai permasalahan umat, melindungi, serta Negara wajib menyelenggarakan pendidikan yang mana itu adalah hak pokok bagi seluruh warga negara secara gratis. Sudah semestinya seluruh warga negara diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara Cuma-Cuma tanpa perlu subsidi yang saat ini terus menipis.

 

Dengan demikian, tidak akan terjadi putus kuliah karena pendanaan pendidikan dalam Islam berasal dari baitulmal yang memiliki banyak sumber pemasukan secara jelas. Tak itu saja Sekolah maupun kampus swasta yang ada dalam Sistem Islam gratis seperti sekolah/kampus negeri. Skema pembiayaan sekolah/kampus swasta adalah wakaf. Kurikulumnyapun jelas, tidak dibeda-bedakan, harus sama dengan sekolah/kampus negeri.

 

Sehingga tidak akan terjadi ketimpangan sosial. Rakyatnya cerdas , kehidupannya makmur sejahtera menghasilkan generasi peradaban gemilang yang berakhlak mulia dan berjiwa ksatria. Wallahu’alam Bishshawab. [LM/ry].