Dilema Sekolah Negeri, Minim Murid Baru

Oleh: Rifdah Nisa
LenSaMediaNews.com–Krisis murid terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Beberapa sekolah dasar (SD) Negeri hanya menerima sedikit peserta didik. Bahkan ada juga yang tidak mendapatkan murid baru untuk tahu ajaran 2026/2027, salah satunya SD Negeri 3 Blumbang. Selain itu, SD Negeri di Jawa Tengah dan DIY hanya menerima segelintir siswa. Sekolah di Ibu Kota Provinsi seperti murid di SDN Purwoyoso 01 hanya mendapatkan tiga murid baru dan SDN Wonodri dengan lima murid baru.
Fenomena yang terjadi di berbagai daeran ini bukan sekedar persoalan persaingan antar sekolah, tetapi adanya perubahan struktur demografi. Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI Turro Wongkaren mengatakan “jumlah anak di beberapa provinsi sudah mulai melandai sejak akhir dekade 2010-an, walaupun meningkat sangat sedikit. Beberapa provinsi seperti DIY sudah mengalami penurunan penduduk 0-4 tahun sejak 2023” (Kompas.com, 15-7-2026).
Angka urban dari desa ke kota juga menjadi penyebab jumlah anak sekolah yang semakin minim. Walaupun angka kelahiran di perkotaan lebih rendah dari pedesaan, namun masifnya penduduk urban yang didominasi oleh pasangan usia produktif. Menjadi faktor penurunan jumlah penduduk usia muda.
Selain itu, alasan para orang tua murid lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta dengan tujuan untuk keselamatan anak agar anak mendapatkan pendidikan agama, ditengah kerusakan dan kenakalan remaja yang semakin merebak, karena anak akan diajarkan ibadah, akhlak dan tahfidz.
Untuk mengatasi masalah ini pemerintah membuat kebijakan dengan regrouping beberapa SDN menjadi satu, namun menjadi masalah baru karena jarak sekolah menjadi jauh. Sehingga solusi ini tidak mampu mengatasi permasalahan minimnya murid di SDN.
Perubahan stuktur demografi (penduduk menua) terjadi karena program pemerintah dengan digalakkan program Keluarga Berencana (KB) dua anak cukup. Hal ini cukup mamangkas angka kelahiran. Ditambah lagi beban hidup semakin tinggi membuat urbanisasi marak terjadi, angka pernikahan semakin menurun, banyak generasi muda takut menikah dan punya anak karena ada kekhawatiran dengan tingginya biaya hidup yang mereka rasakan.
Ada pergeseran orientasi orang tua yang lebih memilih sekolah Islam swasta dibandingkan sekolah negeri karena ada kekhawatiran terhadap kerusakan generasi saat ini. Kerusakan ini disebabkan penerapan sistem sekuler liberal yang telah banyak melahirkan kerusakan pada generasi. Halal haram tidak lagi menjadi standar perilaku generasi muda. Kebebasan tanpa batas mengarahkan perilaku kalangan muda lebih mendahulukan nafsu dari pada akal sehat. Terlihat dengan banyaknya kasus LGBT, narkoba, tawuran dan tindak kriminal dikalangan remaja.
Pemerintah berusaha untuk mengatasi permaslahan di kalangan pelajar dengan merevisi kurikulum pendidikan. Bahkan kita saksikan perubahan kurukulum kerap kali terjadi sesuai dengan bergantinya menteri pendidikan. Namun pergatian kuriklum tidak mampu mengatasi kerusakan moral dan tindak kriminal di kalangan remaja. Ini bukti bahwa sistem sekuler liberal yang diterapkan negeri ini gagal mengantar generasi kepada perbaikan dari segala sisi.
Berbeda dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan pilar penting dalam peradaban dan hak dasar setiap individu rakyat yang dijamin oleh negara. Negara bertanggung jawab menyelenggarakan ketersediaan sarana pendidikan yang berkualitas, merata dan gratis untuk seluruh rakyat. Kurikulum yang diterapkan adalah berbasis akidah Islam dengan tujuan membentuk kepribadian Islam tercermin pada peserta didik. Negara juga menyediakan tenaga pengajar prfesional, sarana prasarana yang berkualitas yang mendukung.
Pandangan negara akan pentinganya pendidikan bagi warga negara menghantarkan pada keseriusan negara akan penjagaan terhadap kerusakan generasi. Sehingga lewat regulasi negara akan memberikan kesadaran politik kepada rakyat untuk memberikan kontrol jika mulai terjadi benih-benih kerusakan dikalangan remaja.
Untuk itu dakwah menjadi sebuah kewajiban terhadap individu yang sudah baligh. Dengan dakwah menghantarkan rakyat untuk saling menasehati, berkasih sayang dan memiliki sikap empati antar warga agar terwujud masyarakat yang aman dan terhindar dari kerusakan. Wallau a’lam bishowwab. [LM/ry].
