Sekolah Sepi, Moral Kian Sunyi

SekolahSepi-LenSaMediaNews

Oleh : Fathimah al Fihri

 

LenSaMediaNews.com–Sejumlah SD negeri di Jawa Timur kembali kesulitan mendapatkan siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Selain jumlah anak usia sekolah di tempat itu berkurang, keberadaan lembaga pendidikan sederajat yang jumlahnya lebih dari satu di dalam satu wilayah pun ditengarai menjadi salah satu penyebabnya.

 

Salah satu daerah yang mengalami kekurangan siswa ada di Kabupaten Blitar. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Agus Santosa membenarkan ada tiga SD di wilayahnya yang tidak mendapat siswa. Ketiganya ialah SDN Kalimanis 4 di Kecamatan Doko, SDN Ringinrejo 3 di Kecamatan Wates, dan SDN Sumberboto 5 di Kecamatan Wonotirto (Kompas.id, 13-07-2026).

 

Fenomena sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang minim bahkan tidak memperoleh murid baru menjadi potret persoalan pendidikan yang patut dicermati. Memang, penurunan jumlah anak usia sekolah akibat pertumbuhan penduduk yang melambat, struktur penduduk yang menua, serta urbanisasi menjadi salah satu penyebabnya. Di sisi lain, solusi pemerintah berupa regrouping atau penggabungan beberapa SDN justru berpotensi menimbulkan persoalan baru karena jarak sekolah menjadi semakin jauh dan menyulitkan akses pendidikan.

 

Namun, persoalan yang lebih menarik untuk dikaji adalah bergesernya pilihan masyarakat. Kini semakin banyak orang tua lebih memilih sekolah yang memberikan pendidikan agama, pembiasaan ibadah, pembelajaran Al-Quran, dan pembinaan akhlak. Pilihan ini menunjukkan bahwa yang dicari masyarakat bukan sekadar sekolah dengan fasilitas memadai atau kurikulum terbaru, melainkan tempat yang mampu menjaga anak-anak mereka dari derasnya arus kerusakan moral.

 

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan. Maraknya perundungan, tawuran, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga berbagai bentuk kekerasan yang melibatkan pelajar menunjukkan bahwa krisis karakter generasi semakin nyata. Berulang kali pergantian kurikulum dilakukan, namun persoalan moral tidak kunjung terselesaikan. Ini menunjukkan bahwa akar masalahnya bukan semata terletak pada kurikulum, melainkan pada sistem pendidikan yang dibangun di atas paradigma sekuler liberal. Pendidikan lebih diarahkan untuk mencetak tenaga kerja dan mengejar prestasi akademik, sementara pembentukan kepribadian dan ketakwaan tidak menjadi fondasi utama.

 

Karena itu, fenomena beralihnya masyarakat ke sekolah berbasis agama sesungguhnya merupakan bentuk hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan sistem pendidikan sekuler dalam melahirkan generasi yang berakhlak. Orang tua menyadari bahwa kecerdasan intelektual tanpa benteng keimanan justru dapat melahirkan generasi yang cerdas tetapi kehilangan arah hidup.

 

Dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus pilar utama peradaban. Negara bertanggung jawab menyediakan pendidikan yang berkualitas, merata, dan gratis bagi seluruh rakyat. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membentuk kepribadian Islam yang menjadikan akidah sebagai landasan berpikir dan berperilaku.

 

Dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), kurikulum dibangun di atas akidah Islam sehingga seluruh proses pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi yang bertakwa, berakhlak mulia, sekaligus unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara juga berkewajiban menyediakan guru yang berkualitas, sarana-prasarana yang memadai, serta memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan terbaik tanpa dibebani biaya.

 

Oleh karena itu, kesadaran masyarakat tidak boleh berhenti pada keinginan menyelamatkan anak masing-masing melalui pemilihan sekolah. Kesadaran tersebut harus meningkat menjadi pemahaman bahwa kerusakan moral yang meluas merupakan persoalan sistemik yang lahir dari penerapan sistem sekuler liberal. Perubahan yang hakiki tidak cukup dilakukan melalui pergantian kurikulum atau pemindahan sekolah, tetapi memerlukan perubahan sistem yang menjadi akar persoalan.

 

Di sinilah pentingnya dakwah politik Islam yang membangun kesadaran masyarakat agar memahami hubungan antara sistem kehidupan dengan kualitas generasi. Dengan kesadaran tersebut, masyarakat akan terdorong memperjuangkan penerapan sistem Islam secara menyeluruh sebagai solusi yang mampu melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berkepribadian mulia. Wallahu a’lam. [LM/ry].