Kapitalisme, Sumber Rapuhnya Hubungan Anak dan Orang Tua

IMG-20260924-WA0005

 

 

Oleh : Marlina Wati, S.E

(Muslimah Peduli Umat)

 

Opini_LenSa Media News_Viral di media sosial, sebuah rumah milik Zakaria A Rahman di Desa Buket Dalam, Bireuen, terbakar pada Rabu (16-9-2026). Rumah tersebut ditempati Zakaria bersama istri dan lima anaknya. Dugaan sementara, rumah sengaja dibakar oleh anaknya, Zul (25). Sebelum kejadian, Zul meminta uang sebesar 200 ribu kepada ibunya, tetapi orang tuanya tidak memiliki uang.

 

Karena tidak mendapatkan uang, terjadi pertengkaran Zul dan orang tuanya. Zul kemudian mengumpulkan pakaian dan kain di ruang makan dan mengancam akan membakar rumah jika tidak diberi uang. Zul kemudian membakar pakaian dan kain tersebut hingga api membesar.

 

Zakaria dan istrinya segera keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. Seorang warga bernama Zulkifli mencoba membantu memadamkan api, tetapi Zul berada di dalam rumah sambil membawa parang dan mengancamnya. Zulkifli kemudian keluar dan meminta bantuan warga serta pihak keamanan. Zul akhirnya diamankan warga dan diserahkan ke Polsek Gandapura. (Serambinews.com 16-09-2026).

 

Penyebab Rapuhnya Hubungan Anak dan Orangtua

 

Kasus seperti ini menjadi gambaran betapa rapuhnya hubungan keluarga ketika kehidupan semakin berorientasi pada materi. Persoalan ini tidak cukup dilihat hanya sebagai kenakalan atau masalah pribadi, tetapi juga perlu dilihat dari kondisi kehidupan yang menempatkan uang dan kepentingan materi sebagai sesuatu yang sangat dominan.

 

Dalam kehidupan kapitalisme, keberhasilan sering kali diukur dari kemampuan memiliki uang, barang, dan memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Tekanan ekonomi, gaya hidup, serta budaya konsumtif dapat membuat sebagian orang semakin sulit mengendalikan keinginan. Ketika kebutuhan dan keinginan tidak terpenuhi, konflik dalam keluarga pun dapat muncul.

 

Namun, membakar rumah orang tua tetap merupakan tindakan yang salah dan tidak dapat dibenarkan. Justru tragedi seperti ini seharusnya menjadi bahan renungan, mengapa hubungan antara anak dan orang tua bisa sampai rusak hanya karena persoalan uang.

 

 

Keluarga seharusnya menjadi tempat kasih sayang, pendidikan akhlak, dan saling menguatkan, bukan sekadar tempat memenuhi tuntutan materi. Karena itu, persoalan kehidupan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan sistem yang menempatkan nilai moral, tanggung jawab, dan kesejahteraan manusia sebagai bagian penting dalam kehidupan.

 

Islam Solusi Persoalan Umat

 

Kasus anak yang membakar rumah orang tuanya karena tidak diberi uang menjadi pelajaran bagi kita semua. Masalah seperti ini bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang lemahnya iman, akhlak, dan hubungan dalam keluarga.

 

Kehidupan yang terlalu mengejar materi dapat membuat manusia mudah kecewa dan kehilangan arah. Karena itu, umat membutuhkan aturan kehidupan yang tidak hanya mengatur masalah ekonomi, tetapi juga membentuk akhlak dan menjaga keluarga.

 

Islam mengajarkan agar anak menghormati dan berbuat baik kepada orang tua. Allah SWT berfirman: “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya. (QS. Al-‘Ankabut: 8)

 

Rasulullah Saw juga bersabda: “Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua.” (HR. Tirmidzi)

 

Dari sini kita memahami bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap keluarga dan akhlak manusia. Maka, menurut pandangan Islam, persoalan umat tidak cukup diselesaikan dengan materi saja. Islam memberikan tuntunan yang menyeluruh: memperkuat iman, membangun akhlak, menjaga keluarga, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menegakkan keadilan.

(LM/Sn)