Jahatnya Sekularisme, Nyawa tidak Berharga

Oleh : Kholipah
(Komunitas Setajam Pena)
Opini_LenSa Media News _Di sebuah kampus ternama Indonesia, yakni Universitas Brawijaya, digegerkan dengan adanya mahasiswa yang mencoba untuk bunuh diri. Mahasiswa ini diketahui melakukannya dengan cara melompat dari lantai 6 kampus. Diduga korban berasal dari Fakultas Pertanian, tempat ia melakukan aksi tersebut. Namun, belakangan diketahui bahwa korban adalah mahasiswa dari Fakultas Kedokteran. Hingga saat ini, korban masih hidup dan mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Kejelasan mengenai korban dan dugaan penyebab kejadian itu masih dalam penyelidikan polisi, (Kompas.id, 10-9-2026).
Dikutip dari Kompas.com, 6-9-2026 yang memberitakan bahwa seorang pria berinisial FS yang berusia 30 tahun ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan GBK, Jakarta Pusat, dini hari. Sebelumnya FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp 40 juta kepada komunitas kesehatan mental.
Dari beredarnya berita tersebut, nyawa manusia hari ini serasa tidak ada harganya sama sekali. Tidak hanya situs berita nasional saja yang menayangkan berita semacam ini, namun juga ada beberapa media sosial dan media daerah yang memberitakan. Mulai dari mahasiswa yang bunuh diri, remaja yang dibunuh oleh kekasihnya, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga kepada keluarganya yang lain.
9
Apapun penyebab dari tindakan untuk menghilangkan nyawa seperti halnya yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut, sejatinya tidaklah dibenarkan oleh agama. Karena dalam Islam harga satu nyawa sangatlah mahal dan berarti dari apapaun. Terlebih lagi negeri ini mayoritas masyarakatnya beragama Islam, hasurnya mereka saling jaga agar tak tertumpah darah antar sesama. Namun, banyaknya muslim tak menjamin jika sistem yang digunakan untuk mengatur kehidupan di negeri ini juga sistem Islam pula.
Negeri ini menggunakan sistem selain Islam untuk mengatur kehidupan. Sistem tersebut memiliki asas pemisahan agama dari kehidupan alias sistem sekuler. Sistem ini juga membuat individu jauh dari agama. Akidah yang seharusnya menjadi asas kehidupan kini hilang dan kabur. Alhasil, setiap individu yang seharusnya menjadikan halal dan haram sebagai tolok ukur perbuatan, kini nafsulah yang lebih berperan.
Selain itu, kehidupan saat ini bersifat individualistik. Segala sesuatu cenderung dikerjakan sendiri, bukan saling support satu dengan yang lainnya. Masyarakatpun sekarang bersikap lebih cuek, bahkan dengan tetangga di sekitarnya. Dan yang lebih parah lagi, sikap abai tersebut juga menyerang antar anggota keluarga, sehingga sikap saling jaga terasa kurang bahkan hilang. Ini semua adalah buah dari sistem sekuler yang ada di negeri ini.
Berbanding terbalik dengan sistem Islam. Negara dengan sistem Islam akan menjadikan akidah sebagai sebuah benteng terkuat, dimana akidah tersebut akan ditanamkan sejak dini pada setiap individu dalam keluarga. Jika setiap keluarga paham akan akidah Islam, maka akan terbentuk masyarakat Islami pula.
Disamping itu pemahaman terkait tolok ukur perbuatan halal dan haram akan senantiasa tertanam dalam benak seorang muslim. Dalam kasus percobaan bunuh diri tersebut, tidak akan memengaruhi hukum dari bunuh diri itu sendiri. Bunuh diri tetaplah haram apa pun alasannya.
Dengan sistem Islam juga, masyarakat akan dibentuk menjadi masyarakat yang senantiasa peduli satu dengan yang lain. Amar ma’ruf nahi munkar menjadi salah satu cara dalam melahirkan individu yang memiliki sifat peduli. Apabila salah satu melakukan kesalahan, maka yang lainnya akan menegur dan mengingatkan.
Salah satu kisah yang menjadi pengingat agar selalu peduli terhadap kondisi sesama adalah kisah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Pada kala itu ada salah satu sahabat yang tidak hadir pada saat salat Subuh berjamaah. Padahal pada hari-hari biasa, sahabat tersebut selalu berada di saf pertama. Setelah salat, Nabi SAW menanyakan keberadaan sahabat tersebut. Kemudian, Rasulullah dan para sahabat mencari keberadaan sahabat tersebut ke rumahnya. Hingga pada akhirnya diketahui bahwa sahabat tersebut telah meninggal dunia.
Jadi inilah gambaran suasana yang dibentuk oleh sistem Islam. Sistem yang senantiasa memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia. Kepedulian ini tidak hanya diwujudkan dalam hubungan sosial saja. Islam juga memandang bahwa terpenuhinya kebutuhan pokok memiliki andil yang penting dalam menjaga kehidupan manusia.
Karena itu, penjagaan terhadap nyawa manusia tidak terlepas dari bagaimana negara menjamin kebutuhan dasar manusia. Maka dari itu sistem Islam juga memiliki tatanan ekonomi yang mengatur pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Dengan terjaminnya kebutuhan dasar, masyarakat diharapkan dapat menjalani kehidupan secara layak dan sejahtera.
(LM/Sn)
