Korupsi Terulang, di Tengah Kobaran Api

Oleh : Maratus Sholikha
Lensa Media News, Opini—Publik kembali digegerkan dengan berita korupsi di negeri ini yang melibatkan BNPB. Berita yang dirilis kompas, 14 oktober 2026, OTT KPK menetapkan 5 orang sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa pada Dana Siap Pakai (DSP) yang terjadi pada periode tahun 2024-2026 dengan total nilai pengadaan sebesar 148 miliar.
Mirisnya kasus ini terungkap di tengah gejolak bencana yang terus terjadi baik longsor, banjir, gempa bumi, sampai kebakaran hutan dan lahan. BNPB memiliki peran strategis dalam menangani bencana yang terjadi yaitu melakukan pengadaan barang darurat yang dibutuhkan.
Namun sayang kasus ini menjadi pengingat keras yang sangat menyakitkan bahwa siapapun tidak luput dari celah keserakahan. Terulanganya tren korupsi di Indonesia menunjukkan adanya sebuah sistem yang tidak mampu mengatasi budaya korupsi di negeri ini.
Ditengah banyaknya bencana yang melanda, masyarakat terutama yang terdampak tentu mengharapkan perhatian khusus dengan cepat dan tepat sebagai bentuk kepedulian dari pemerintah namun kado yang didapat adalah para pejabat yang dengan mudahnya mengambil hak rakyat. Masa sulit yang seharusnya bisa dengan mudah dilewatkan masyarakat. Kejinya, bantuan dan perlindungan itu justru menjadi sarang peluang baru untuk memperkaya diri.
Salah satu penyebab mendasar mengguritanya korupsi adalah adanya pandangan jabatan bukan lagi amanah melainkan peluang baru yang menjanjikan, ditambah minimnya pengawasan memperkuat niatan bertindak curang.
Faktor lemahnya keimanan pada individu, akibat pemahaman kuat sekulerisme di masyarakat saat ini, menjadikan korupsi tumbuh subur. Sekulerisme, memisahkan antara kehidupan dan agama menjadikan pemahaman akan keberadaan Pencipta dipersempit hanya ada pada forum-forum peribadatan saja, tidak pada kehidupan sosial, hukum, politik dan ekonomi.
Sistem politik demokrasi menjadikan hukum transaksional bagian dari perilaku para koruptor, dimana mereka merasa mampu membeli hukum yang ada seperti yang terjadi pada kasus lapas mewah yang baru-baru ini terbongkar. Begitu juga banyaknya remisi yang membuat hukum semakin ringan dan tidak memberikan rasa takut.
Sekulerisme melahirkan sistem kapitalisme yaitu sistem yang hanya menjadikan dominasi keuntungan dan kemanfaatan semata tanpa memikirkan dampak negatif atau keharaman dari tindakan yang dilakukannya. Fakta ini menunjukkan bahwa sepertinya kedepan korupsi akan menjadi langganan berita karena akan terus ada penyalahgunaan amanah dibarengi dengan minimnya pengawasan serta hukum yang tidak memberikan efek jera.
Berbeda halnya pada sistem Islam ketakwaan individu menjadi faktor utama untuk mencegah adanya penyelewengan karena individu yang bertakwa akan merasa selalu diawasi oleh Raabnya sehingga akan ada rasa kewaspadaan dalam bertindak. Amanah akan dipertanggungjawabkan bukan hanya pada lingkup dunia saja tapi juga masa perhitungan di akhirat kelak. Sehingga individu yang bertakwa akan melaksanakaan tugas dan tanggung jawabnya sebaik mungkin dan menghindari segala bentuk kemaksiatan.
Pada sistem yang berhasil membentuk individu yang salih terpancar pada salah satu pribadi sahabat Nabi yaitu Ibnu Umar, ia memberikan seluruh gaji yang didapat dari Baitulmal untuk berbagi kepada masyarakat miskin yang membutuhkan, bukan keperluan pribadinya. Begitu juga sahabat Nabi Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang menjadi wali di negeri Syam di rumahnya tidak ditemukan sedikitpun harta benda berharga kecuali alat untuk berperang. Hal ini menunjukkan bahwa sistem yang baik akan melahirkan banyak kebaikan dan keberkahan dalam negeri.
Dalam Islam jika ada penyelewangan seperti kasus korupsi akan ada peradilan yang tegas yaitu hukuman takzir berupa sanksi yang ditetapkan negara berdasarkan ketentuan syariah. Ta’zir itu dimplementasikan dalam bentuk cambuk, pengasingan, penjara, pemiskinan hingga eksekusi mati bagi pelaku yang disaksikan langsung oleh masyarakat agar masyarakat bisa menilai dan menciptakan rasa takut untuk melakukan hal yang sama.
Sebagai agama yang memiliki sistem kehidupan yang kompleks Islam akan mampu membawa keberkahan ketika diterapkan sebagai aturan kehidupan. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
