Air Mata Sudan, Nafsu Kapitalisme

Oleh: Noviya Dwi
LenSaMediaNews.Com–Sudan kembali menjadi panggung nestapa. Ribuan warga mengungsi, perempuan menjadi korban kekerasan, anak-anak kehilangan rumah, dan darah kaum muslim kembali tumpah.
Negeri besar di Afrika itu, dengan sungai Nil yang panjang dan kekayaan alam melimpah dari emas, minyak, hingga lahan subur, hari ini berada di titik rapuh kemanusiaan. Ironisnya, negara yang diberkahi sumber daya luar biasa justru terperosok dalam penderitaan panjang.
Siapa yang harus kita salahkan? Apakah ini sekadar konflik etnis? Atau sekadar pertikaian internal? Realitasnya jauh lebih kelam. Sudan adalah contoh telanjang bagaimana kekuatan global berebut pengaruh dan sumber daya, meninggalkan rakyat sipil terjepit dalam reruntuhan ambisi geopolitik.
Sudan, Korban Kapitalisme Global
Dalam tiga hari terakhir, lebih dari 1.500 warga Sudan terbunuh setelah pasukan RSF merebut el-Fasher, menambah panjang daftar korban konflik yang kini telah melampaui 14.000 jiwa sejak perang pecah. Jutaan warga sipil terpaksa mengungsi, sementara laporan lapangan menggambarkan terjadinya pembantaian sistematis, pengusiran paksa, dan kekejaman yang disebut para pengamat sebagai genosida nyata terhadap kaum muslimin.
Konflik antara RSF dan militer Sudan yang berlangsung sejak 2023 terus memanas, namun dunia internasional hanya menjadi penonton, dan para pemimpin negeri-negeri muslim tetap bungkam tanpa langkah nyata untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini(republikaco.id, 31-10-2025).
Hari ini, standar politik global dibangun atas asas pragmatisme dan Kapitalisme. Negara berdaulat dipaksa tunduk pada skema hegemoni ekonomi, lembaga internasional dijadikan instrumen, dan hak manusia hanya berlaku bila sejalan dengan kepentingan negara adidaya.
Sudan bukan sebuah episode konflik biasa. Ini adalah persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan Inggris, yang juga melibatkan negara bonekanya. Israel mengincar posisi strategis di Afrika dalam rangka mengamankan jalur geopolitiknya, sementara Uni Emirat Arab menjadi pemain satelit dalam upaya memperluas pengaruh ekonomi.
Mereka hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai pemburu Emas Sudan yang menggiurkan. Sungai Nil strategis dan letak geografisnya vital. Akibatnya, Sudan tak pernah benar-benar dibiarkan menentukan nasibnya sendiri.
Ketika kepentingan ekonomi lebih berharga daripada nyawa manusia, darah pun menjadi murah. Inilah wajah Sistem Kapitalisme global, yakni sistem yang memuliakan keuntungan, menumbalkan manusia.
Jadi Penonton atau Pelindung?
PBB, Dewan Keamanan, lembaga hak asasi internasional. Namun ketika umat Islam dibantai, rumah dihancurkan, wanita dinodai, kamp pengungsian membludak. Mengapa suara mereka terdengar begitu pelan?
Jawabannya jelas, struktur dunia modern dibangun untuk menjaga dominasi, bukan untuk menegakkan keadilan. Aturan internasional dirumuskan bukan untuk membebaskan negeri muslim, melainkan memastikan mereka tetap berada dalam orbit kekuasaan global.
Selama umat Islam tercerai-berai dalam batas-batas nasional buatan kolonial, selama kekuasaan global tetap berada di tangan kapitalisme, maka tragedi seperti Sudan hanya akan menjadi bab berikutnya dari derita panjang umat ini.
Kita terlalu lama dipaksa berpikir lokal, sibuk pada urusan wilayah sendiri, lupa bahwa kita adalah satu tubuh. Hari ini, tubuh itu remuk. Dari Palestina, Kashmir, Suriah, Yaman, Rohingya, hingga Sudan. Penderitaan umat Islam seperti tak berkesudahan.
Kenapa? Karena kita kehilangan payung, perisai dan institusi yang bisa melindungi kehormatan, darah, dan sumber daya kaum muslim. Dunia Islam membutuhkan lebih dari sekadar simpati, ia membutuhkan kesadaran ideologis. Bahwa ini bukan sekadar konflik politik, tetapi pertarungan peradaban Islam versus Kapitalisme dan hegemoni versus keadilan.
Khilafah Jalan Peradaban, Bukan Nostalgia
Bagi sebagian orang, menyebut kata Khilafah terlihat seperti nostalgia romantis. Tetapi fakta sejarah berkata lain. Ketika institusi itu tegak, umat Islam kuat. Wilayahnya luas, rakyatnya aman, dan sumber dayanya digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk rakusnya korporasi asing.
Khilafah bukan hanya simbol, tetapi sistem komprehensif yang mengatur ekonomi tanpa riba, melindungi kekayaan alam umat, mempersatukan negeri-negeri muslim dan memiliki kekuatan militer untuk melindungi kemuliaan umat. Tanpa payung kekuasaan Islam, kita hanya menjadi penonton ketika saudara-saudara kita disembelih atas nama geopolitik.
Perubahan hanya akan hadir melalui iman yang hidup, pemahaman yang benar, dan perjuangan yang nyata. Membangun kesadaran umat, mendidik generasi, meluruskan cara pandang, dan terlibat dalam kerja dakwah untuk mengembalikan sistem Islam, itulah jawabannya. Jika bukan kita yang memulai, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Wallahualam bishawab. [LM/ry].
