Dosa Besar Pendidikan Bernama Bullying

Bullying-LenSaMediaNews

Oleh: Iiv Febriana

Pengajar dan Aktifis dakwah idiologis

 

LenSaMediaNews.Com–Kasus perudungan (bullying) terus terjadi,  baik dalam bentuk perudungan fisik, gambar, sampai kekerasan verbal di dunia nyata maupun maya. Bullying seolah menjadi hal biasa yang terus berulang seolah menyajikan cerita yang tidak berujung.

 

Baru-baru ini publik dikejutkan oleh kabar meninggalnya seorang mahasiswa Universitas Udayana (Unud) bernama Timothy Anugerah Saputra (22), mahasiswa semester VII Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ia ditemukan meninggal dunia pada Rabu (15-10-2025) setelah terjatuh dari lantai empat gedung fakultasnya. Diduga dia menjadi korban bullying oleh rekan-rekan sekampusnya. (Detik.com, 15-10-2025).

 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 25 anak di Indonesia mengakhiri hidupnya sepanjang tahun 2025. Sebagian besar kasus tersebut diduga berkaitan dengan bullying, termasuk yang terjadi di lingkungan sekolah. Data ini disampaikan KPAI menyusul kasus bunuh diri tiga siswa di Sukabumi, Jawa Barat, dan Sawahlunto, Sumatera Barat, yang menggemparkan publik pada bulan Oktober lalu (cna.id, 31-10-2025).

 

Fakta di atas menambah panjang daftar catatan buruk sistem hari ini. Penyebab utamanya ialah Sistem  Kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Kurikulum pendidikan yang disusun pun tidak menjadikan akidah Islam sebagai dasar pembentukan kepribadian.

 

Akibatnya, lahirlah generasi yang jauh dari tuntunan Islam. Anak dididik untuk liberal melakukan apa pun asal ia senang. Minimnya jam pelajaran agama, ditambah lagi konten pornografi dan kekerasan menemani keseharian mereka.

 

Hal ini diperparah dengan lemahnya fungsi keluarga sebagai madrasatul ula bagi anak. Tuntutan ekonomi membuat para orang tua, sibuk menjadi budak korporasi yang kehidupannya tak kunjung membaik sekeras apa pun mereka bekerja.

 

Anak tak lagi mendapatkan hak kasih sayang dari orang tuanya. Seolah cukup hanya diberi makan, minum, pakaian dan sekolah yang mumpuni, tidak ada sama sekali sentuhan pada kalbunya,  itu pun jika mereka mampu memberikan kehidupan layak bagi anak-anak mereka.

 

Solusi Islam

 

Islam memiliki beberapa langkah pencegahan dan penanganan untuk mencegah bullying, sebab Islam bukan sekadar agama ritual yang mengatur aspek ibadah kepada Allah Swt. Saja, tetapi seperangkat sistem dan aturan yang paripurna.

 

Pertama, keluarga sebagai pendidikan pertama bagi anak harus mampu memberikan nutrisi keimanan sedari dalam buaian. Dimulai dari keteladanan orang tua kepada anak-anaknya dengan membiasakan keshalihan sejak dini dan memfilter konten-konten yang dapat merusak aqidah anak.

 

Kedua, kurikulum yang diterapkan berbasis akidah. Menanamkan akidah Islam sejak dini menjadi modal utama. Orang tua dan siswa tidak hanya berpikir sekolah sebagai ladang investasi masa depan anaknya untuk mendapatkan cuan semata, melainkan melahirkan pribadi-pribadi  unggul yang berprestasi,  karena mereka memahami benar tujuan hidupnya hanyalah untuk meraih rida Allah bukan materi semata.

 

Ketiga, peran negara selain menjamin pendidikan bagi masyarakat, negara juga harus mampu hadir sebagai pemelihara urusan rakyat, bukan pihak yang berbisnis dengan rakyatnya sendiri. Negara juga harus menutup segala akses yang dinilai menyimpang dari tujuan pendidikan Islam seperti konten-konten sampah dan berbau pornografi. Karena tidak sedikit pelaku bullying justru terinspirasi dari konten-konten yang mereka konsumsi di dunia maya.

 

Demikianlah beberapa tindakan pencegahan dalam Islam. Kasus bullying bisa diakhiri dengan mengubah paradigma pendidikan sekuler menjadi berbasis Islam serta menerapkan sistem Islam secara kafah di semua lini kehidupan. Wallahualam. [LM/ry].