Al-Qur’an Menyediakan Jalan ke Luar, Saat Zina Dianggap Biasa 

Zina

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah-

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. (TQS Al- Isra: 32)

 

Ayat di atas adalah sebuah pesan dari Allah yang Mahabaik. Seperti orangtua yang berpesan kepada anaknya, “Nak hati-hati jangan main pisau ya, nanti tanganmu terluka.” Allah tahu betul perbuatan zina adalah perbuatan yang akan mengantarkan manusia kepada kesengsaraan hidup. Bukan hanya penyakit, tapi juga kehancuran hati, keluarga, dan masa depan.

 

Saat wahyu tidak masuk ke ranah publik, seperti yang terjadi pada saat ini, banyak orangtua merasa kehilangan arah. Mereka membesarkan anak-anak di dunia yang semakin bebas, yang seolah akan membawa kepada kemajuan. Dengan anggapan kebebasan akan mengantarkan kepada kreativitas yang tinggi.

Mereka berjuang menjaga kehormatan anak-anak, tapi televisi, media sosial, dan gaya hidup modern terus-menerus menyeret ke arah sebaliknya.
Satu per satu berita menyedihkan datang seperti remaja hamil di luar nikah, aborsi yang diam-diam dilakukan, penyakit menular seksual menyerang anak-anak muda, dan yang lebih menyakitkan, semua itu seperti dianggap biasa.

 

Menurut data Kementerian Kesehatan, kasus penyakit sifilis (yang menular lewat hubungan seksual bebas) meningkat pesat dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2024, jumlahnya mencapai lebih dari 23.000 kasus. Ini belum termasuk ribuan remaja yang juga terinfeksi HIV.
Apakah kita bisa terus berpura-pura tidak tahu?

 

Mereka Tidak Nakal, Mereka Terluka.

Kebebasan yang digembar-gemborkan saat ini, menjadikan manusia merasa bahwa tubuh mereka adalah hak mereka.
Apa yang mereka lakukan terhadap tubuh mereka adalah haknya. Tanpa ilmu yang memadai, banyak anak muda tidak tahu bagaimana menjaga tubuh mereka yang begitu berharga. Mereka hanya mengikuti arus zaman. Mereka sedang mencari kasih sayang, tapi justru mendapat luka. Sebab sistem yang membentuk kehidupan hari ini memang membiarkan mereka tersesat.
Di sekolah, mereka jarang diberi ilmu tentang menjaga kehormatan diri. Di rumah, orangtua sibuk mencari nafkah. Di internet, justru bebas menonton apa saja, belajar dari siapa saja.

Pantas saja banyak dari mereka akhirnya salah jalan. Tapi itu bukan semata-mata salah mereka. Mereka korban. Kita semua korban. Korban dari sistem yang menjauhkan manusia dari bimbingan wahyu.

 

Zina itu Bukan Cinta. Tapi Luka yang Mengundang Bencana

Zina, dalam Islam, bukan hanya hubungan di luar nikah. Tapi juga semua hal yang mengarah ke sana: pandangan yang dibiarkan liar, candaan yang mengundang syahwat, sampai pertemanan bebas antara lawan jenis. Bukan karena Allah tak ingin kita bahagia, tapi justru karena Allah tahu luka yang ditimbulkan zina itu dalam.

Rasulullah ﷺ bersabda:
Jika zina dan riba sudah merajalela di suatu negeri, maka sungguh penduduknya telah mengundang azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR Hakim)

Seperti borok yang muncul meluas di tubuh manusia, borok itu menjadi luka yang menyakitkan dan harus dibuang agar bagian tubuh yang masih sehat tidak ikut membusuk. Azab Allah itu seperti operasi yang mengangkat bagian tubuh yang membusuk. Bagian tubuh di sekitarnya harus ikut memderita karena dikorek dan dibersihkan. Perzinaan dan riba adalah seperti borok yang merusak tubuh umat. Agar keselamatan bisa dijaga, borok itu perlu dibersihkan dengan cara yang menyakitkan, tapi menyelamatkan.

 

Lalu Apa Solusinya?

Kita semua ingin anak-anak kita selamat. Kita ingin keluarga yang tenang. Tapi selama sistem yang mengatur kehidupan masih membebaskan pergaulan, melegalkan zina, dan menolak hukum Allah, luka ini akan terus berdarah.

Islam punya solusi. Bukan sekadar menasehati individu, tapi juga membangun sistem kehidupan yang menolong manusia untuk tak sekadar baik, tapi juga selamat.
Dalam sistem Islam: anak-anak dididik untuk menjaga diri, bukan hanya mengejar prestasi dunia. Kemudian masyarakat menjaga dengan cara menasehati perilaku yang tak sesuai tuntunan wahyu. Negara pun  menutup pintu perzinaan, bukan malah membuka tempat hiburan bebas. Remaja dibantu menikah, bukan dibebani ekonomi kapitalistik. Hukum ditegakkan untuk melindungi, bukan sekadar menghukum.
Bukan sekadar mimpi. Ini pernah nyata dalam sejarah. Dan bisa terwujud kembali, jika kita bersama-sama kembali pada Islam yang kaffah.

 

Mari Kembali kepada Islam

Bukan Islam yang sekadar jadi label KTP.
Tapi Islam yang jadi nafas dalam hidup kita: dari pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara. Bukan untuk menghakimi siapa pun, tapi untuk menyelamatkan semua.
Karena kita semua pernah salah. Tapi jangan sampai kita membiarkan kesalahan itu jadi warisan bagi anak cucu kita. Jika zina dianggap biasa, maka luka akan terus berdarah. Tapi jika kita kembali pada Islam, maka cinta akan kembali bermakna suci.

و الله اعلم بالصواب