Ambisi Israel Raya di Balik Klaim Tepi Barat

Oleh: Ratih Wahyudianti
Lensa Media News, Opini—Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengklaim seluruh wilayah Tepi Barat sebagai miliknya dan mengancam akan membubarkan otoritas Palestina serta mendorong penggusuran warga Palestina, di tengah persaingan ketat menjelang pemilihan Knesset pada 27 Oktober 2026 (metronews, 06-10-2026). Klaim sepihak ini mencerminkan ambisi ekspansionis pemerintah Zionis untuk mengabaikan hukum internasional serta hak-hak dasar penduduk lokal yang telah lama mendiami wilayah tersebut.
Berdasarkan Kesepakatan Oslo II tahun 1995, Tepi Barat dibagi menjadi Area A (kendali penuh Palestina), Area B (kendali sipil Palestina dan keamanan Israel), serta Area C (kendali penuh militer Israel). Kendati dirancang sebagai kompromi sementara, Ben-Gvir secara sepihak menepis batas-batas tersebut dan mengeklaim seluruh zona sebagai milik mutlak demi kepentingan penjajahan.
Ambisi Israel Raya dan Rangkaian Kejahatan Kemanusiaan di Palestina
Di balik dalih keamanan, tujuan utama rezim Zionis adalah menguasai seluruh wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat dan Gaza, guna mewujudkan konsep “Israel Raya.” Ambisi kolonial ini didorong oleh rancangan sistematis untuk melenyapkan eksistensi bangsa Palestina dari konstelasi global secara permanen.
Genosida di Gaza, perluasan pemukiman ilegal di Tepi Barat, pembakaran masjid, hingga pendudukan kompleks Masjid Al-Aqsha merupakan kejahatan besar rezim Zionis. Sasaran utama mereka bukan sekadar konflik teritorial, melainkan upaya sistematis untuk merendahkan simbol keagamaan dan memusnahkan eksistensi umat Islam.
Narasi “solusi dua negara” yang digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat, negara sekutu, dan sebagian penguasa negeri muslim terbukti merupakan kebohongan besar. Diplomasi semacam ini hanya berfungsi sebagai instrumen pengecoh yang membiarkan Zionis Israel melanjutkan penjajahan dan pembantaian tanpa hambatan berarti.
Perlawanan Total dan Persatuan di Bawah Kepemimpinan Sah
Umat Islam dan masyarakat internasional harus menyadari bahwa rezim Zionis berniat merampas seluruh wilayah Palestina serta menyempurnakan pengusiran massal. Hal ini sejalan dengan peringatan Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 120 bahwa musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti memerangi kaum beriman hingga mereka tunduk.
Mengingat kejahatan Zionis telah melampaui batas dan tidak dapat diselesaikan melalui diplomasi yang mandul, umat Islam wajib melawan agresi tersebut dengan menerapkan syariat jihad di jalan Allah. Landasan normatif ini merujuk pada izin membela diri yang tercantum dalam QS. Al-Hajj ayat 39 bagi pihak yang dizalimi.
Sikap sebagian pemimpin negara Arab yang bersedia duduk bersama dan patuh menemui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu merupakan bentuk pengkhianatan nyata terhadap perjuangan rakyat Palestina. Realitas ini mencerminkan peringatan Rasulullah SAW. tentang munculnya pemimpin yang mengabaikan kemuliaan Islam.
Perlawanan terhadap Zionis Israel tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa persatuan yang kokoh di bawah satu komando yang sah, yakni seorang pemimpin tertinggi umat. Ketiadaan kepemimpinan sentral saat ini membuat perlawanan berjalan terpecah-pecah, padahal sabda Rasulullah SAW. menegaskan pentingnya keterikatan umat pada kepemimpinan umum.
Perjuangan menegakkan institusi kepemimpinan global yang sah sangat krusial untuk menggerakkan potensi riil jihad secara terpusat dan terorganisir. Dengan kepemimpinan yang terpadu, seluruh sumber daya dunia Islam dapat dikerahkan secara efektif untuk membebaskan tanah Palestina dan membasmi penjajahan secara tuntas. Wallahualam bissawab. [LM/ry].
