Bencana Beruntun, Saatnya Muhasabah Bersama

20241223_214347

Oleh: Bunda Erma E

Pemerhati Ummat

 

LenSa Media News.com, Sedih rasanya melihat berbagai bencana di negeri ini. Tepat sekali jika dikatakan Indonesia darurat bencana. Pasalnya, berbagai bencana alam telah banyak terjadi di negeri ini. Bencana banjir, longsor, dan jalan ambles melanda wilayah Selatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Berdasarkan data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, bencana melanda di 27 titik yang tersebar di 18 wilayah kecamatan di antaranya Kabupaten Cianjur, Tanggeung, Agrabinta, Sindangbarang, dan Lales (kompas.com, 9-12-2024).

 

Tidak hanya di Cianjur, banjir juga terjadi di Pagelaran, Pandeglang, Banten. Banjir tersebut disebabkan luapan Sungai Cilemer. Banjir merendam pemukiman warga setinggi 1-2,5 meter hingga menyebabkan akses jalan terputus. Bencana juga terjadi di Sukabumi, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)  Kapubaten Sukabumi, mendata ada 328 titik bencana yang tersebar di 39 Kecamatan (detik.com, 7-12-2024).

 

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena menjelaskan bahwa jenis bencana yang terjadi di tiap kecamatan sangat bervariasi. Mulai tanah longsor, banjir, angin kencang, dan pergerakan tanah (detik.com, 8/12/2024).

 

Seringkali manusia beranggapan, bencana alam bisa terjadi disebabkan fenomena alam. Hal tersebut adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari, sehingga manusia hanya bisa pasrah menerima apapun yang terjadi. Padahal, bencana juga bisa terjadi  karena ulah tangan manusia dengan  banyaknya pelanggaran syariat, dimana kehidupan manusia dan alam tidak diatur dengan aturan yang benar (Islam). Termasuk eksploitasi alam atas nama pembangunan.

 

Kepemimpinan hari ini adalah kepemimpinan sistem kapitalisme. Sistem ini menuhankan materi dan mengabaikan syariat Allah SWT. Allah Ta’ala sebagai Zat yang menciptakan bumi dan seisinya telah mengatur seorang pemimpin seharusnya menjadi pengurus (raa’in) dan pelindung (junnah) bagi rakyatnya.

 

Namun sistem kapotalisme telah membuat pemimpin menjadi sosok yang populis otoritarian. Kebijakan dibuat seolah-olah pro rakyat, padahal sejatinya mereka hanya regulator kebijakan untuk para kapital.

 

Hutan dieksploitasi secara berlebihan atas nama pembangunan. Maintenance Sungai seharusnya bisa dilakukan untuk mencegah banjir. Namun anggarannya justru dikorupsi, dialhkan untuk tunjangan pejabat, dan sebagainya.  Semua itu adalah bentuk kezaliman seorang pemimpin yang tidak menggunakan syariat Islam dalam mengatur negara.

 

Berbagai pelanggaran hukum syariat inilah yang mengantarkan terjadinya bencana alam, sebagaimana yang Allah Ta’ala peringatkan dalam surat Ar-Ruum: 41. Dengan terjadinya berbagai bencana hari ini, sudah saatnya umat melakukan muhasabah dan bertobat dengan berupaya agar syariat segera tegak di bawah kepemimpinan Islam.

 

Kepemimpinan Islam tidak akan tegak kecuali Islam diterapkan dalam institusi negara Khilafah. Sebab intitusi inilah yang akan menerapkan hukum Islam secara menyeluruh. Satu-satunya negara yang bisa menyelamatkan umat manusia dari bencana di dunia dan di akhirat. Sebagaimana yang Allah Ta’ala kabarkan dalam surat Al-A’raf ayat 96.

 

Ketaatan pemimpin pada hukum syariat akan menuntunnya mengatur urusan masyarakat sesuai dengan kemaslahatan mereka. Islam mensyariatkan untuk melakukan pembangunan infrastrukur, sustainable, dan tidak melakukan eksploitasi berlebihan agar bencana bisa diminimalisasi. Bahkan Islam juga telah mengatur anggaran semisal terjadi bencana. Dalam Baitulmal negara, terdapat alokasi pengeluaran khusus untuk keperluan bencana alam.

 

Beberapa konsep syariat tersebut akan diterapkan oleh negara Khilafah,  bahkan dijadikan undang-undang negara. Siapapun yang melanggar akan mendapatkan sanksinya. Ketika syariat Islam diterapkan dalam level negara, maka akan hadir kepemimpinan yang mengantarkan masyarakat hidup dalam keberkahan, seperti terhindar dari bencana alam.

 

Islam memberikan tanggung jawab pada seorang pemimpin, sehingga pemimpin dalam Islam harus memiliki kepribadian Islam yang kuat, ketakwaan, serta kelemahlembutan terhadap rakyat.

 

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa berbagai bencana yang terjadi hari ini menjadi bukti kesekian kalinya umat membutuhkan kepemimpinan Islam. Wallahualam bissawab. [ LM/ry ].