Di Balik Hancurnya Mental Generasi Muda

MentalGenerasi-LenSaMediaNews

Oleh: Putri

 

LenSaMediaNews.com–Penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) kesehatan jiwa anak yang melibatkan sembilan kementerian dan lembaga pada 6 Maret 2026 menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak memerlukan perhatian serius negara serta penanganan yang terintegrasi (KemenPPPA.go.id, 6-3-2026).

 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang bersumber dari layanan healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat empat faktor utama pemicu keinginan anak untuk mengakhiri hidup. Konflik keluarga menjadi faktor terbesar dengan kisaran 24–46 persen.  Faktor psikologis berada pada angka 8–26 persen, perundungan atau bullying sekitar 14–18 persen serta tekanan akademik berkisar 7–16 persen. Data ini menunjukkan bahwa kondisi keluarga, lingkungan pendidikan, dan relasi sosial anak memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental generasi muda.

 

Sejumlah pemberitaan media juga menyoroti peningkatan kasus bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menjadi peringatan serius tentang kesehatan mental generasi muda yang berpotensi berkembang menjadi krisis sosial yang lebih luas di masa depan apabila tidak ditangani secara komprehensif.

 

Namun demikian, persoalan kesehatan jiwa anak tidak dapat dipahami sebagai masalah psikologis individual semata. Hal ini juga berkaitan erat dengan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat. Arus globalisasi dan sistem kehidupan modern telah membawa perubahan besar dalam cara manusia memandang kesuksesan dan kebahagiaan. Orientasi hidup yang semakin materialistis membuat tolak ukur keberhasilan sering kali hanya dilihat dari capaian akademik, prestasi ekonomi, dan pengakuan sosial.

 

Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan dan kompetisi. Mereka dituntut untuk selalu berprestasi dan mencapai standar tinggi sejak usia dini. Ketika harapan tersebut tidak tercapai berpotensi memberikan tekanan mental yang berat lalu berkembang menjadi kecemasan, rasa rendah diri, bahkan keputusasaan apabila tidak didasari fondasi spiritual yang kuat.

 

Media digital yang didominasi oleh arus kapitalisme global turut memperkuat kondisi ini. Generasi muda sering diberikan standar kehidupan yang serba sempurna: kesuksesan instan, gaya hidup glamor, dan popularitas tinggi. Paparan terus-menerus terhadap citra tersebut dapat membuat seseorang merasa tertinggal atau tidak cukup baik dibandingkan dengan gambaran ideal yang dilihat di layar. Kurangya kemampuan menyaring informasi memperburuk tekanan psikologis generasi muda.

 

Dalam perspektif Islam, ketenangan jiwa tidak semata ditentukan oleh faktor material, tetapi oleh kedekatan manusia dengan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman yang artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (TQS. Ar-Ra’d: 28).

 

Islam juga menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membangun ketahanan mental generasi. Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (TQS. At-Tahrim: 6). Ayat ini mengingatkan bahwasanya orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak, baik dalam aspek akidah, akhlak, dan nilai kehidupan.

 

Selain keluarga, negara juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan sistem kehidupan yang melindungi generasi muda. Rasulullah SAW. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, negara tidak hanya bertugas menyediakan layanan kesehatan mental, tetapi juga memastikan sistem pendidikan, sosial, dan media yang mendukung pembentukan karakter generasi.

 

Upaya pemerintah melalui SKB lintas kementerian patut diapresiasi sebagai langkah awal. Namun kebijakan tersebut akan lebih efektif jika diiringi dengan penguatan fondasi nilai dalam keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial. Generasi muda tidak hanya membutuhkan layanan dan fasilitas; tetapi juga arah hidup serta sistem nilai yang memberi makna pada kehidupan.

 

Pada akhirnya, krisis kesehatan jiwa anak mencerminkan krisis nilai yang lebih luas dalam masyarakat. Membangun kembali fondasi moral dan spiritual dalam keluarga, pendidikan, dan kebijakan publik menjadi langkah penting untuk masa depan generasi bangsa. Dan tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada aturan syariat Islam mulia, agar perbaikan generasi menjadi nyata. Wallahualam bissawab. [LM/ry].