Full Occupation Of Gaza : Butuh Jihad Dan Khilafah

Jihad-LenSaMedia

Oleh :Punky Purboyowati, S. S

Komunitas Pena Muslimah

 

LenSaMediaNews.Com–Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkap rencana mengambil alih kendali militer penuh atas Jalur Gaza. Pernyataannya disampaikan di tengah tekanan global atas operasi militer yang telah berlangsung hampir dua tahun. Namun Ia tegaskan tidak berencana demikian. Tetapi menyerahkan wilayah itu pada kekuatan Arab. Namun tidak menyebut negara mana yang akan dilibatkan.

 

Pernyataan ini muncul menjelang pertemuan terbatas kabinet keamanan Israel yang membahas strategi militer terbaru di Gaza. Menurut media Reuters, salah satu opsi yang dibahas adalah pengambilalihan bertahap wilayah Gaza yang masih di luar kendali militer Israel, diawali dengan peringatan evakuasi kepada warga sipil (cnbcindonesia.com, 08-08-2025).

 

Berbagai negara seperti Cina, Yordania, Australia, PBB, Inggris, dan Indonesia mengecam langkah tersebut. Indonesia mendorong solusi dua negara sebagai jalan keluar krisis Palestina-Israel.

 

Tindakan itu merupakan pelanggaran berat hukum Internasional dan Piagam PBB yang memperkeruh prospek perdamaian di Timur Tengah dan krisis kemanusiaan di Gaza. Pun ditegaskan Mahkamah Internasional, Okupasi Israel atas pendudukan Palestina adalah ilegal (kumparan.com,09-08-2025).

 

Langkah Negara Barat Bukan Solusi

 

Sekilas pernyataan Netanyahu tentang keinginannya tidak menduduki Gaza adalah penggiringan opini yang berpotensi seolah berada di pihak tak bersalah. Padahal Zionis masih menduduki wilayah Palestina, melakukan genosida dengan senjata dan menciptakan bencana kelaparan. Pernyataannya sedikit banyak mempengaruhi berjalannya opini tentang pembebasan Palestina yang sudah berjalan.

 

Tak hanya itu, jelas adanya upaya mengalihkan isu  sebenarnya,  yakni penjajahan atas Gaza dan tepi barat. Hal ini dapat memungkinkan bangsa Arab membangun kembali Palestina sebagaimana hasil konferensi sebelum-sebelumnya di Mesir.

 

Sungguh Full Occupation jika terjadi akan menjadi momok yang menakutkan, menduduki wilayah secara ilegal. Bahkan akan terjadi penjajahan di atas penjajahan baik secara politik, ekonomi maupun budaya.

 

Bentuk kecaman tak kan menjadi solusi bagi pembebasan Palestina dari penjajahan. Keterlibatan negara Arab dan penguasa muslim lainnya pun tak berefek, sebagian besar  mereka diam. Konferensi yang diadakan untuk membangun kembali Gaza hanya akan membuat kaum muslimin terhina di hadapan Barat.

 

Sungguh ironi, penguasa muslim di dunia tak mampu usir penjajah Zionis sebaliknya memfasilitasi dan memperlancar langkah genosida.

 

Butuh Jihad Dan Khilafah

 

Pernyataan Netanyahu sangat bertentangan dengan syariat Islam. Sesungguhnya Palestina telah dijajah sejak 77 tahun yang lalu bukan dua tahun belakangan pasca Tufanul Aqsa 23 Oktober lalu.

 

Gaza menjadi sasaran perluasan wilayah jajahan Zionis. Oleh karena itu umat Islam harus memiliki pemahaman yang benar terkait penjajahan yaitu harus dilawan hingga penjajah diusir dari wilayah tersebut.

 

Firman Allah SWT, dalam QS. Al Baqarah : 191 yang artinya, “Perangilah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka. Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian. Fitnah (kekufuran) itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.”

 

Umat Islam harus menyadari bahwa melawan negara penjajah harus melalui negara versus negara bukan negara adidaya versus umat Islam. Saat ini, tak ada yang melindungi umat Islam dari bentuk penjajahan fisik oleh sebab perisai kaum muslimin yakni Daulah Khilafah telah lenyap. Jelas tak kan berhasil menolong Palestina.

 

Maka, yang bisa dilakukan yaitu umat Islam dunia harus bersatu. Sebab peperangan ini tidak fair. Gaza hanya bisa dibebaskan dengan kekuatan militer dan jihad fi sabilillah. Namun Jihad hanya bisa dilakukan secara sempurna dengan komando dari Khalifah. Hal inilah yang dilakukan  para Khalifah seperti Shalahuddin Al Ayyubi maupun sultan Hamid II.

 

Jihad pun telah dilakukan Rasulullah saw, bersama sahabatnya. Sebelum tegak negara Islam pertama dan beliau menjadi kepala negaranya,  Rasûlullâh Saw. dan sahabatnya terhimpun dalam kelompok Ideologis yakni Hizbut Rasul yang aktif melakukan dakwah dan penyadaran ke tengah umat hingga ada di antara mereka yang rela memberikan pertolongan berupa kekuasaan di Madinah.

 

Sejak itu berdirilah negara Islam yang dipimpin beliau. Sebagai kepala negara, Rasûlullâh saw. melindungi kaum muslimin seperti konflik penistaan seorang muslimah oleh seorang Yahudi dari Bani Qainuqa’ hingga akhirnya Yahudi tersebut diusir oleh Rasulullah dari Madinah karena telah melanggar perjanjian.

 

Persoalan ini harus menjadi kesadaran ideologi bagi umat Islam bahwa saat ini butuh seorang Khalifah yang dapat melindungi dari penjajah. Untuk mewujudkannya, umat Islam harus berjuang bersama kelompok dakwah Ideologis yang menegakkan kembali Khilafah Islam dengan mengikuti metode dakwah Rasulullah saw.

 

Dilakukan dengan keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan hingga mendatangkan pertolongan Allah sehingga Palestina dapat segera dibebaskan. Wallahu a’lam bisshowab. [LM/ry].