Gaza Baik-baik saja adalah Kebohongan Dunia

IMG-20251130-WA0000

Oleh: Sari Yuliyanti

Pemerhati Isu Pendidikan dan Kebudayaan

 

LenSa Media News _ Opini _ Gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 disambut dunia sebagai awal ketenangan. Seolah mimpi buruk di Gaza akhirnya terhenti, keluarga yang tercerai berai bisa merasakan jeda dari derita panjang dan anak-anak yang tersiksa kini bisa merasakan angin perdamaian dengan penuh ceria. Di layar televisi internasional, penderitaan dunia yang menderita di Gaza telah mereda. Narasi baru dunia yang disuguhkan saat ini adalah “Gaza Kini Sudah Membaik”.

 

Apakah benar? Nyatanya fakta kembali menghantam keras hati nurani dunia, Gaza tidak pernah benar-benar aman. Tentara Zionis melakukan 194 pelanggaran perjanjian bahkan sejak gencatan senjata baru dimulai. Pelanggaran tersebut mencakup pemblokiran pasokan medis, obat-obatan dan tenda; penembakan, pemboman, serangan udara dan serangan militer lainnya (aa.com.tr, 3 – 11 – 2025).

 

 

Sejak hari pertama gencatan, serangan tetap menghantam. Di pertengahan bulan Oktober, dikabarkan bahwa 28 warga Palestina tewas akibat serangan udara Zionis (Okezone.com, 18 Oktober 2025). Di akhir Oktober, jumlah korban tewas mencapai 211 orang dan 597 korban luka masih karena serangan intensif dari tentara Zionis (Indo.palinfo.com, 30 – 10 – 2025). Memasuki November, gelombang pelanggaran semakin brutal tak terbendung. Hingga akhir November, lebih dari 318 warga Gaza tewas selama periode gencatan senjata (Detik.com, 23 – 11 – 2025). Periode yang seharusnya penuh damai tanpa senjata.

 

 

Angka-angka korban meninggal ini menampar dunia internasional. Bagaimana mungkin dunia masih berani menyebut Gaza sebagai “Baik-baik Saja?”

 

Di tengah perpisahan yang tak henti-hentinya, musim dingin datang sebagai bencana lanjutan. Tenda-tenda pengungsian yang tipis dan bocor diterjang badai, anak-anak terakumulasi dalam akumulasi udara yang merembes masuk ke tenda-tenda. Dalam hitungan menit, kain luluh menjadi lumpur yang menahan langkah anak-anak dan membasahi kepala para ibu yang berusaha melindungi sisa barang-barang mereka. Di kamp pengungsian, tampak warga berusaha menumpuk batu dan pasir untuk mengangkat alas tidur agar tidak terendam (aa.com.tr, 14 – 11 – 2025).

 

Tragisnya, perlindungan materi tidak diizinkan masuk, tenda baru, selimut, obat-obatan, rumah darurat mobil, lembaran plastik tebal, semuanya diblokir oleh otoritas Zionis (m.Antaranews.com, 11 – 7 – 2025).

 

Mari bertanya dengan jujur, apakah gencatan senjata itu benar-benar ada untuk Gaza? Jika gencatan senjata adalah jeda, mengapa serangan masih terjadi? Jika gencatan senjata adalah perlindungan, mengapa Zionis masih memblokir bantuan-bantuan yang menjadi nyawa rakyat Gaza di musim dingin?

 

Dunia menyebut ini sebagai stabilitas sementara, tapi kenyataannya ini adalah jeda politik, jeda kepentingan, agar dunia merasa sudah melakukan sesuatu padahal sejatinya tidak ada yang benar-benar berubah.

 

Narasi “Gaza Kini Baik-baik Saja” adalah narasi yang lahir dari kepentingan. Dunia berada di bawah hegemoni Amerika Serikat  yang sejak awal sudah menjadi perisai bagi Zionis. Di meja diplomasi dan di panggung media internasional, AS berusaha menggiring opini global. Jadi, ketika dunia mengatakan “Gaza Kini Baik-baik Saja”, “Gaza Kini Aman,” itu bukan kesimpulan moral melainkan itu adalah skrip politik dari AS dan sekutunya. Skrip politik ini sangat berbahaya karena tidak hanya sekedar menyembunyikan fakta namun menenggelamkan rakyat Gaza.

 

Selama puluhan tahun, Barat menawarkan solusi perundingan, proposal damai, solusi dua negara, hingga gencatan senjata. Namun, jika kita telisik lebih dalam, setiap solusi itu memiliki pola yang sama yaitu menjaga meluasnya penjajahan di Gaza. Yang mereka tawarkan bukanlah solusi melainkan strategi mempertahankan dominasi. Jalan damai yang ditawarkan oleh Barat adalah jalan jebakan. Kenyataannya penjajahan ini tidak pernah selesai dengan perundingan antara penjajah dan yang dijajah, karena yang satu memegang kekuatan, sementara yang lain memegang kehancuran.

 

Di saat dunia gagal, Islam menawarkan solusi tuntas untuk Gaza. Islam adalah perisai yang melindungi umat dari pemikirannya. Dalam Islam dikenal konsep khilafah sebagai junnah (pelindung) yaitu sebuah kepemimpinan global yang bertugas menjaga darah, kehormatan, dan tanah umat Islam. Wilayah-wilayah umat yang diserang ini, akan dibela secara nyata oleh kekuatan politik dan militer yang bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah melalui aktivitas jihad.

 

Gaza tidak hanya membutuhkan bantuan makanan atau selimut, namun Gaza membutuhkan kekuatan yang menggagalkan agresi, membutuhkan pemimpin yang mengirimkan pertolongan nyata bukan sekedar kecaman, membutuhkan umat yang tidak hanya merata tetapi bangkit melalui dakwah Ideologis yang membangkitkan pemikiran.

 

Saat ini, Gaza berdarah-darah. Ratusan ribu tentara muslim ada di seluruh penjuru dunia tetapi tidak bisa bergerak dan tidak bisa menyatukan kekuatan karena tidak adanya Khilafah yang menaungi umat. Inilah alasan mengapa Gaza menjadi korban yang tidak pernah selesai.

 

Wallahu Alam Bisawwab 

(LM/Sn)