Hardiknas dan PR Besar Bangsa Mewujudkan Generasi Emas

Hardiknas

 

Oleh: Anisa Rahmi Tania

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Dua Mei merupakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahun ini Hardiknas mengangkat tema “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Sebuah tema yang diharapkan semua pihak dapat menguatkan karakter bangsa untuk generasi emas seraya beradaptasi dengan teknologi dan inklusivitas. Pemerintah memang mempunyai mimpi besar untuk mewujudkan Indonesia emas pada 2045. Akan tetapi akankah terwujud saat realita di depan mata berkata lain?

 

Mimpi besar negeri ini menuju Indonesia emas akan menjadi langkah berat yang harus dilalui. Kita tentu tidak bisa menutup mata dengan kondisi generasi hari ini. Ada PR besar yang harus diselesaikan untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

 

Tengok saja ada tahun 2025 Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri menyebutkan sebanyak 21.945 anak dan remaja di bawah 20 tahun terlibat masalah hukum. Kasus pelecehan verbal yang dilakukan 16 orang mahasiswa Fakultas Hukum UI jelas tidak bisa dipandang remeh. Kasus tersebut menjadi salah satu peristiwa memalukan yang patut dipertanyakan publik (bbc.com, 21/4/2026).

 

Sementara itu, siswa SMA Purwakarta yang melakukan perbuatan tidak terpuji, dengan mengacungkan jari tengah terhadap guru juga semakin menambah daftar buruknya kualitas pendidikan hari ini. Ditambah dengan jerat narkoba pada anak remaja yang semakin menggurita. Artinya persoalan besar atas generasi semakin kompleks dan rumit (detik.com, 20/4/2026).

 

Sekularisme Mencetak Generasi Liar

Maraknya generasi yang melakukan kriminalitas, terjebak narkoba, maupun melakukan pelecehan seksual tidak lepas dari asas yang membangun sistem pendidikan saat ini, yaitu sekularisme. Asas ini menjauhkan generasi dari ajaran agama. Generasi diajari untuk memisahkan urusan agama dan kehidupan.

 

Satu sisi agama tetap ada, tetapi hanya pada ranah ibadah ritual. Di sisi yang lain terkait dengan aturan pergaulan dalam pendidikan, busana, visi misi kehidupan, tujuan dalam pendidikan semua diserahkan pada masing-masing individu. Agama tidak dijadikan sebagai standar dalam perbuatannya. Agama hanya dijadikan sebagai simbol bagi generasi yang masih menyembah Tuhan.

 

Di sinilah letak kekeliruan yang membuat dunia pendidikan cacat pada asasnya. Karena ilmu hanya ditujukan untuk mencapai cita-cita pribadi dan kebahagiaan dunia. Tanpa memikirkan menjadi individu yang bertakwa, yakni menyesuaikan segala perbuatan dengan tuntunan syariat.

 

Maka tidak heran jika banyak output pendidikan di setiap jenjang yang jauh dari ekspektasi. Anak-anak SD sudah sudah terlibat tawuran, sementara anak-anak SMP terlibat kriminalitas yang lebih mengerikan. Di tingkat SMA telah banyak yang terjerat dengan narkoba, sementara para mahasiswa terjerat kasus pelecehan.

 

Islam Mencetak Generasi Emas

Islam adalah agama sekaligus ideologi. Sistem pendidikan dalam Islam menanamkan akidah yang kuat pada setiap generasi. Akidah mencetak generasi yang paham akan jati dirinya, yakni sebagai seorang hamba yang terikat pada aturan Ilahi. Inilah yang hilang pada generasi sekarang.

 

Hari ini generasi dicekoki oleh paham asing, yang membuat generasi hanya melakukan apa yang mereka pikirkan dengan akal, bukan dengan iman. Itulah mengapa banyak remaja dan anak-anak yang melakukan tindakan anarkis, mudah terbawa arus zaman, narkoba, tidak punya adab, dan sebagainya.

 

Sistem pendidikan hari ini menekankan pembentukan karakter, namun tidak dengan tegas menggariskan karakter khas yang akan diwujudkan. Sementara zaman membawa dampak pengaruh negatif yang datangnya dari Barat.

 

Dalam Islam, karakter seorang hamba adalah yang berkepribadian Islam. Dia berpikir dan berperilaku sesuai sesuai tuntutan hukum Allah SWT. Kepribadian Islam ini akan ditanamkan sejak usia dini dan terus berlanjut hingga dewasa.

 

Peran pemerintah dalam hal ini dengan menyaring kebudayaan dan pengaruh negatif yang datang. Sebagaimana maraknya pengaruh gaya hidup hari ini yang memperlihatkan kesenangan sesaat. Begitu juga dengan budaya K-Pop yang menawarkan foya-foya, hingga gaya hidup keras dan tanpa adab yang datang dari dunia Barat.

 

Oleh karena itu, peran pemerintah di sini sangat penting untuk menjadi pelindung generasi dari serangan budaya Barat. Generasi emas yang dicita-citakan pada 2045 mendatang akan terwujud jika mengembalikan sistem pendidikan berbasis syariah. Mulai dari tujuan pendidikannya hingga kurikulum. Termasuk membentuk lingkungan yang kondusif bagi generasi. Maka, satu-satunya jalan mewujudkan Indonesia emas adalah dengan menerapkan Islam secara kaffah.

Wallahu’alam