Isra’ Mi’raj dan Peradaban yang Menjaga Manusia

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Opini_ Ada masa ketika hidup terasa berat, bukan karena beban yang terlalu banyak, tapi karena hati kehilangan tenaga. Dari sana muncul pertanyaan yang pelan namun menggerogoti: untuk apa aku hidup? Bahkan kadang terlintas, aku tidak meminta dilahirkan. Rasa ini bukan sekadar lelah fisik. Ia menjalar ke jiwa, membuat ibadah terasa berat, kebahagiaan dunia pun tak lagi menggoda. Seperti ada sumber energi yang benar-benar padam.
Islam memahami keadaan ini. Islam tidak memandang manusia hanya sebagai tubuh yang harus dipenuhi kebutuhannya, atau akal yang harus diyakinkan dengan logika. Manusia diciptakan dengan jasad, naluri, dan akal, dan semuanya membutuhkan arah agar selaras. Ketika arah itu kabur, yang terasa bukan sekadar masalah, tetapi kehampaan. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, melainkan untuk menjawab kegelisahan semacam ini: mengapa hidup terasa kehilangan tenaga, dan bagaimana ia dikembalikan ke fitrahnya.
Salah satu cara Allah menyiapkan energi itu adalah shalat.
Shalat bukan tambahan beban dalam hidup seorang Muslim. Ia bukan selipan kewajiban di antara jadwal yang semakin sempit. Shalat adalah cara Allah memanggil manusia kembali kepada-Nya, dengan sadar, teratur, dan penuh makna. Karena itu, kewajiban ini tidak diturunkan di bumi, tidak pula melalui perantara. Dalam peristiwa Isra Mi‘raj, shalat diwajibkan langsung kepada Rasulullah ﷺ, seolah Allah menegaskan: inilah poros yang menjaga manusia tetap utuh. Inilah hubungan paling dasar antara Aku dan hamba-Ku.
Allah mengajarkan pertolongan pertama bukan dengan strategi atau pelarian, tetapi dengan kembali terhubung.
Allah ﷻ berfirman:
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
(TQS al-Baqarah [2]: 45)
Shalat yang hidup melahirkan ketenangan batin. Dan ketenangan itu tidak berhenti pada diri sendiri. Ia membentuk manusia yang jujur, amanah, dan adil, manusia yang layak memikul tanggung jawab sosial, bahkan kepemimpinan. Karena itu, Isra Mi‘raj tidak berhenti pada shalat semata.
Dalam rangkaian peristiwa itu, Rasulullah ﷺ mengimami para nabi di Masjid al-Aqsha. Ini bukan adegan simbolik tanpa makna. Ia adalah isyarat kepemimpinan peradaban. Islam tidak hadir hanya untuk mengatur hubungan privat manusia dengan Tuhan, tetapi sebagai risalah yang memimpin kehidupan secara menyeluruh. Isyarat itu terwujud nyata ketika Rasulullah ﷺ membangun Negara Madinah, lalu berlanjut dalam sejarah panjang kepemimpinan Islam. Di bawah naungan itu, wilayah seperti Palestina hidup aman selama berabad-abad, hingga perisai itu runtuh.
Tentang runtuhnya Khilafah pada 28 Rajab 1342 H, Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah menggambarkannya sebagai sebuah gempa besar. Bukan semata karena sebuah negara jatuh, tetapi karena perisai umat hancur. Sejak saat itu, pintu penjajahan terbuka lebar. Kehinaan masuk tanpa izin. Umat hidup tanpa pelindung politik yang nyata. Kekosongan ini kemudian diisi oleh kepemimpinan global yang tidak bersandar pada wahyu. Dunia diarahkan oleh standar materi dan kekuasaan. Kita menyaksikan akibatnya: perang yang tak berkesudahan, ketimpangan yang melebar, dan nyawa manusia yang terasa murah—bahkan diakui kegagalannya oleh para pemikir sistem itu sendiri, seperti Joseph Stiglitz, Thomas Piketty, hingga Francis Fukuyama.
Islam tidak menawarkan pelarian dari dunia. Islam menawarkan cara hidup yang utuh—berbasis wahyu, realistis, dan manusiawi. Namun kepemimpinan Islam mensyaratkan dua hal yang tidak bisa ditawar: Islam diterapkan secara menyeluruh, dan kepemimpinan dijalankan oleh manusia-manusia yang amanah, bukan boneka kekuatan asing.
Allah ﷻ berfirman:
“Masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh.”
(TQS al-Baqarah [2]: 208)
Perjuangan ini bukan nostalgia sejarah. Ia adalah usaha mengembalikan kehidupan ke porosnya. Dimulai dari shalat, hubungan yang sadar dengan Pencipta, hingga lahirnya kepemimpinan yang adil dan menjaga manusia. Allah telah menjanjikan kekuasaan bagi orang-orang beriman yang beramal shalih, dan Rasulullah ﷺ mengabarkan kembalinya kepemimpinan di atas manhaj kenabian.
Namun di titik ini, kita perlu jujur sebagai umat. Masalah kita hari ini bukan hanya kelelahan individu, tetapi krisis kolektif. Ketika shalat kehilangan maknanya, masyarakat kehilangan kompas. Ketika hubungan dengan Allah melemah, keadilan mudah ditukar dengan kepentingan, dan kepemimpinan kehilangan ruh pengabdian. Perpecahan dan kelemahan umat tidak datang tiba-tiba. Ia bermula dari poros yang ditinggalkan bersama-sama.
Karena itu, kebangkitan umat dimulai dari perubahan sistem, dan bersamaan dengan itu, dari penyusunan ulang manusia-manusianya. Dan manusia tidak akan pernah benar-benar bangkit tanpa shalat yang hidup, shalat yang menyambungkan kembali hati dengan Rabb-nya. Dari sanalah lahir jiwa yang bertenaga, lalu tangan-tangan yang siap memikul amanah bersama.
Maka Isra Mi‘raj sesungguhnya bertanya kepada kita hari ini: masihkah shalat menjadi tempat kembali, atau sekadar rutinitas yang ditinggalkan begitu salam diucapkan? Sebab dari sajadah itulah manusia disiapkan, bukan untuk lari dari kehidupan, tetapi untuk menjaganya dengan adil. Dan ketika hubungan ini dihidupkan kembali secara kolektif, kebangkitan bukan lagi sekadar harapan, melainkan janji Allah yang sedang menuju penggenapannya.
و الله اعلم بالصواب
