Kasus Raya, Potret Kelemahan Negara

Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
LenSaMediaNews.Com–Namanya Raya. Namun nasibnya tidak seindah makna namanya. Di usia yang masih sangat belia, 4 tahun, kisahnya tragis, menyisakan luka mendalam. Tubuh mungil balita asal Sukabumi ini dipenuhi ribuan cacing gelang hingga harus meregang nyawa.
Beritanya menjadi sorotan nasional. Awalnya kasus ini mencuat saat cacing gelang keluar dari hidung Raya sehingga Raya harus segera dilarikan ke UGD RSUD R. Syamsudin SH, Kota Sukabumi (detiknews.com, 25-8-2025). Hingga akhirnya ditemukan cacing gelang di sekujur tubuhnya.
Tragis, Raya tidak tertolong karena serangan cacing pita. Tidak kurang dari 2 kilogram cacing ditemukan di tubuh Raya. Raya yang lemah menghembuskan nafas terakhirnya. Di tengah kehidupan yang begitu keras, Raya harus bertahan hidup dalam keterbatasan. Ayahnya yang serba terbatas dan ibu yang mengidap ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Kronologi kasus ini memperlihatkan betapa lemahnya perlindungan negara terhadap anak di negeri ini. Raya hidup dalam kondisi jauh dari kata layak. Sang ayah sakit-sakitan, sementara ibunya merupakan ODGJ, sehingga support system keluarga nyaris tak ada. Ironisnya, perhatian dari pejabat dan pihak terkait baru muncul setelah kasus ini ramai diperbincangkan publik.
Potret Buruknya Pengurusan
Kejadian yang menimpa Raya bukanlah sekedar cerita duka. Namun, masalah sistemik yang membongkar beragam isu kompleks, mulai dari buruknya layanan kesehatan, sorotan masalah kesehatan anak, sanitasi lingkungan hingga masalah kemiskinan ekstrim yang menimpa masyarakat.
Kasus Raya sebetulnya bukan peristiwa tunggal yang berdiri sendiri. Kasus ini merupakan potret nyata kelemahan sistem pelayanan kesehatan di negeri ini. Negara gagal menjalankan perannya sebagai pelayan dan pelindung rakyat, terutama anak-anak. Jaminan kesehatan belum bisa dirasakan merata. Kemiskinan menjadi sandungan terberat dalam mengakses layanan kesehatan yang layak.
Mekanisme layanan kesehatan yang kini tersedia hanya sekedar formalitas. Mekanisme yang berbelit dan rumit, membuat rakyat kecil sulit mengakses hak dasarnya. Lebih dari itu, negara telah lalai terhadap rakyat miskin. Rakyat yang tidak mampu dibiarkan hidup seadanya tanpa kelayakan dan penjagaan dari negara. Kondisi kumuh, rawan penyakit, dan tanpa empati yang nyata dari negara.
Kondisi ini tidak lepas dari penerapan Sistem Kapitalisme. Sistem ini hanya mengandalkan konsep keuntungan materi. Layanan kesehatan hanya bisa diakses dengan layak oleh golongan ekonomi privilese.
Sedangkan rakyat kecil, seperti keluarga Raya, terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kesengsaraan. Negara sama sekali tidak peduli terhadap nasib rakyat. Mirisnya lagi, negara hanya merespons sekedarnya saat kabar tragis telah menyebar luas melalui media sosial.
Penjagaan Islam
Islam memiliki pandangan yang tegas dan solutif. Dalam Islam, kesehatan adalah tanggung jawab negara, bukan sekadar layanan opsional yang harus dibayar mahal. Negara wajib menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk menyantuni kalangan lemah seperti anak yatim, orang miskin, maupun keluarga dengan keterbatasan fisik dan mental.
Rasulullah SAW bersabda, “Pemimpin adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya” (HR. Al Bukhari).
Selain itu, Sistem Islam juga memiliki mekanisme dan strategi yang khas dalam menumbuhkan kepedulian sosial. Seorang muslim tidak akan membiarkan tetangganya kelaparan atau sakit tanpa pertolongan.
Masyarakat bergerak saling membantu, sementara negara hadir sebagai pelindung utama. Kekuatan sosial mampu menjadi salah satu senjata ampuh untuk saling menjaga.
Negara dalam tatanan Sistem Islam, yakni Khilafah memiliki metode yang amanah dalam menyediakan layanan kesehatan terbaik, gratis, dan mudah diakses. Sejarah mencatat, pada masa khilafah, rumah sakit berdiri megah dengan fasilitas lengkap, terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang status sosial.
Tidak ada rakyat yang dibiarkan sengsara karena tidak mampu membayar biaya kesehatan. Bahkan layanan kesehatan ini pun merata hingga ke pelosok negeri. Wilayah kota dan desa memiliki akses yang sama tanpa ada diskriminasi layanan.
Tragedi Raya mestinya menjadi pelajaran bagi kita bersama. Selama sistem rusak masih menjadi dasar pengaturan, kasus-kasus serupa akan terus berulang. Dan mustahil menemukan solusi yang bijaksana. Sistem Islam-lah satu-satunya harapan.
Umat dapat mendapatkan layanan dan perlindungan sejati. Anak-anak seperti Raya bisa hidup layak dan sejahtera tanpa harus menggadaikan nyawa karena kelalaian negara. Wallahu’alam bisshowwab. [LM/ry].
