Ketika Hijrah Menjadi Titik Lahirnya Khairu Ummah

Hijrah,

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_ 

…فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ

Maka, orang-orang yang berhijrah, diusir dari kampung halamannya, disakiti pada jalan-Ku, berperang, dan terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allahlah ada pahala yang baik.” (TQS Ali Imran: 195)

 

 

Ayat di atas adalah salah satu ayat yang menggambarkan tentang peristiwa Hijrah. Peristiwa Rasulullaah ﷺ bersama para sahabatnya meninggalkan kota Makkah menuju Madinah. Hijrah bukan sekadar langkah fisik meninggalkan kota kelahiran. Ia adalah bentuk ketaatan total kepada Allah ﷻ, sebuah peristiwa genting yang mempertaruhkan nyawa, dan langkah strategis untuk menegakkan sistem kehidupan Islam secara utuh yaitu Daulah Islam. Saat Rasulullah ﷺ melangkah keluar dari rumahnya di malam hari yang sunyi, seluruh peta sejarah umat manusia berubah. Itulah titik awal lahirnya khairu ummah.

 

 

Dengan hijrah, mereka justru menemukan solusi dengan membangun kekuatan dan kekuasaan yang melindungi agama ini. Ini sebagaimana permintaan Rasulullah ﷺ kepada Allah ﷻ dengan doanya:

رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا

Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar, serta berilah aku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong (TQS al-Isra’ [17]: 80)

 

 

Hijrah bukan keputusan spontan atau pelarian dari siksaan dan tekanan kaum kafir Quraisy. Ia adalah perintah langsung dari Allah ﷻ, yang dijalankan dengan penuh perhitungan, strategi, dan keimanan yang kokoh. Sebagaimana yang digambarkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Daulah (hal. 42).

 

 

Hijrah adalah bentuk pengorbanan yang sangat besar. Rasulullah ﷺ meninggalkan kota suci Makkah, tanah kelahiran, kenangan keluarga, bahkan makam orang-orang tercinta. Demikian juga pengorbanan kaum muslimin pada saat itu. Mereka meninggalkan seluruh yang mereka cintai. Meninggalkan orangtua, suami, istri, harta untuk pergi berhijrah. Semua itu dalam rangka misi menjalankan perintah Allah dan menegakkan kalimat-Nya.

 

 

Kaum Quraisy menyadari, bila Rasulullah ﷺ berhasil keluar dari Makkah dan membangun basis kekuatan baru di Madinah, maka risalah Islam akan tumbuh menjadi ancaman besar bagi eksistensi kekuasaan mereka. Maka disusunlah konspirasi besar untuk membunuh Nabi ﷺ—dengan melibatkan pemuda dari setiap kabilah.

 

Namun Allah-lah sebaik-baik pelindung. Malam itu, Nabi ﷺ meninggalkan rumahnya, dan dengan izin Allah, lolos dari kepungan. Ali bin Abi Thalib tidur di atas ranjang beliau, menantang bahaya, demi membuktikan kesetiaan kepada dakwah Islam.

 

 

Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ tidak sekadar membangun tempat ibadah, tetapi membangun struktur kepemimpinan dan sistem kehidupan Islam. Ia menata masyarakat, menyatukan Muhajirin dan Anshar, menyusun Piagam Madinah sebagai konstitusi negara, dan menetapkan bahwa hukum Allah-lah yang menjadi rujukan dalam setiap aspek kehidupan. Mengatur warga negara Madinah yang terdiri dari kaum Muslimin, Yahudi, Nashrani dan Musyrikin.

 

Inilah awal dari tegaknya daulah Islam pertama di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ. Dan dari sinilah, misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dijalankan secara kolektif dan terorganisir.

Dari fondasi hijrah dan daulah ini, lahirlah umat terbaik, khairu ummah. Bukan karena jumlah, ras, atau kekayaan. Tapi karena ketaatan mereka kepada Allah, komitmen pada amar ma’ruf nahi munkar, dan keimanan yang membentuk keberanian menegakkan kebenaran.
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”
(QS Ali Imran: 110)

 

Hijrah Rasulullah ﷺ memberi pelajaran penting bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi dengan pengorbanan besar. Umat Islam hari ini tidak cukup hanya mengenang hijrah dalam bentuk simbolik, tetapi harus kembali menapaki semangatnya: ketaatan total kepada Allah, keberanian menghadapi risiko, dan kesiapan membangun peradaban Islam.

 

Kita harus sadar, bahwa pihak musuh pun tetap mengetahui bahaya besar jika umat ini kembali bersatu, berhijrah secara pemikiran dan perjuangan, dan menegakkan sistem Islam. Maka jangan heran jika mereka pun merancang segala cara untuk mencegah kebangkitan itu, seperti yang dahulu mereka lakukan terhadap hijrah Rasulullah ﷺ.

 

 

Mewarisi Semangat Hijrah

Hijrah Rasul ﷺ adalah momen yang menandai kelahiran khairu ummah, umat dengan misi global membawa rahmat. Kini, umat ini tengah tertidur. Tapi ruh hijrah masih hidup, menunggu untuk dibangkitkan dalam dada-dada yang rindu pada kebenaran.

 

Mari kita warisi semangat hijrah: dengan meninggalkan kejumudan, zona nyaman, dan sistem batil, menuju ketaatan total, perjuangan dakwah, dan kehidupan Islam yang kaffah. Sebab hanya dengan itu, khairu ummah akan lahir kembali, dan dunia akan terang oleh cahaya Islam, sebagaimana dulu pernah terjadi dari Madinah.

و الله اعلم بالصواب