Maafkan, Aku Pilih Jalan Surgaku Sendiri (Bagian 1)

Cerpen Islami, Cerpen, Cerbung, LenSa Media News,

Maafkan, Aku Pilih Jalan Surgaku Sendiri

(Bagian 1)

Oleh: Cokorda Dewi

 

LenSaMediaNews – Cerpen:

Temaram Kota Denpasar di malam hari. Dadaku masih bergemuruh membuncah. Kupegang erat KTP-ku sambil tetap waspada. Duduk termenung sendirian di tangga luar mall. Mall sudah tutup, karena beranjak menuju tengah malam. Tiba-tiba seseorang mendekat.

 

Hai Ra, lo pasti kabur, ya? Hahaha.”

 

Ternyata Sri yang menyapa, “hahaha ….” Aku tertawa menanggapi.

 

“Aku sedang sembunyi,” ucapku sambil tersenyum.

 

“Persembunyian yang aneh. Sembunyi itu di tempat tertutup, Say,” seloroh Sri.

 

“Lo sendiri, ngapain ke sini? Mall dah tutup. Aneh,” komentarku.

 

“Gua juga kabur … hahaha,” jawab Sri.

 

Kami pun tertawa bersama, menertawakan nasib kami. Kala itu, kami menghindari pecalang, agar tidak ditangkap. Pecalang itu semacam polisi adat, untuk menertibkan yang melanggar aturan adat. Kami tak punya Kipem (Kartu Izin Penduduk Musiman).

 

Alasanku, aku lahir dan besar di Denpasar, hanya karena orang tuaku pindah kabupaten, sehingga KTP-ku otomatis berpindah domisili. Kipem diwajibkan bagi orang yang bukan ber-KTP Denpasar, tentu saja aku menolak punya, apalagi jumlah iuran yang dibayarkan bisa menghapus pos danaku ke Bioskop 21.

 

“Ra, pulang, yuk. Udah jam 11 lewat. Palingan dah selesai razia Kipem-nya,” kata Sri memecah lamunanku.

 

“Ntar-an, deh. Tunggu 15 menit lagi,” jawabku.

 

Kuperhatikan sekitaran, ternyata makin ramai. Mungkin senasib dengan kami, atau hanya sekadar nongkrong melihat jalanan yang masih belum sepi.

 

Menjelang jam 12 malam, kami pulang menyusuri jalanan yang makin lengang. Berbeda dengan jalanan yang menuju arah indekos kami. Terlihat banyak orang di Bale Banjar, ada beberapa perempuan yang berdaster atau piyama tidur, orang-orang yang terciduk pecalang. Mereka akan dikembalikan ke daerah asalnya masing-masing.

 

Konon kata teman kantorku yang pernah keciduk pecalang, mereka dipulangkan dengan menggunakan truk sampah. “Iihhh… aku bergidik jijik.” Kulajukan motor menuju indekos-ku, masih dengan debaran di dada. Sri menyalakan klakson motor sambil melambaikan tangan. Kami berpisah di depan gang menuju indekos-ku. Pak penjaga indekos tersenyum menyapa.

 

“Dah aman, Pak?” tanyaku di depan gerbang.

 

“Aman, Ra,” jawabnya mantap.

 

Aku mengangguk dan bergegas memasuki gerbang indekos.

 

“Ra, dari mana saja Kamu? Kamarmu digedor-gedor pecalang tadi,” tanya mas Anton, ketika motorku sudah terparkir rapi.

 

“Ke tangga Robinson. Sembunyi,” jawabku sambil nyengir.

 

“Kalian gak bilang kalo aku keluar?” lanjutku.

 

“Kami diem aja, Ra. Udah dikasih tahu kalo penghuninya keluar. Mereka tetap gedor-gedor pintu,” jawab Mas Feri.

 

“Mestinya diem aja di kamar. Gak mungkin didobrak pintumu itu.” Mas Anton berucap.

 

“Gak, ah. ngumpet di kamar mandi, dengerin suara gedoran pintu. Bikin sport jantung, tau!” kilahku.

 

“Lagian kenapa Mbok Ra gak bikin Kipem, aja?” tanya Tami. (Mbok adalah panggilan untuk perempuan Bali yang usianya lebih tua).

 

“Ogah. Rasialis banget. Aku kan lahir dan besar di Denpasar. Gara-gara ortuku balik kampung, rumah kami udah dijual, masa iya harus punya Kipem juga? Harusnya kan ada exception gitu!” jawabku bete.

 

“Tujuannya bagus, lho. Kan untuk mengawasi warga dari luar Denpasar, apalagi yang suka kumpul kebo itu,” tukas Mas Anton.

 

“Itu bukan solusi, aku ini orang Denpasar, cuma gak punya KTP Denpasar. Gak rela duit jatah bioskopku melayang,” kilahku berapi-api.

 

“Ya udah, ayo bubar! Tidur, dah tengah malam ini,” kata Mas Feri mengingatkan semuanya.

 

Kami pun bubar masuk kamar masing-masing untuk istirahat. Kutatap langit-langit kamar indekos, mataku belum bisa terpejam. Terngiang kata-kata mas Anton, “menertibkan orang yang suka kumpul kebo.” Pikiranku berputar-putar, “kenapa tidak ada pendidikan yang menyampaikan bahwa kumpul kebo, mabuk, judi, itu semua adalah dosa?”

 

Minggu pagi yang cerah, kupacu motor menuju Beauty Salon langgananku dan Sri. Hari Minggu adalah hari memanjakan tubuh, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di tengah perawatan tubuh, aku teringat pikiranku semalam.

 

“Sri, kenapa ya gak ada yang memahamkan bahwa kumpul kebo, mabuk, dan judi itu dosa?” tanyaku.

 

Sri tertawa terbahak, “terlalu naif Kamu, Ra. Gaenang banten gen, jeg aman (dibuatkan banten saja sudah aman). Gak kan bikin miskin, Ra,” jawab Sri.

 

“Udah lumrah itu, Ra. Gak usah dipikirkan. Hidup hanya sekali, jeg happy happy saja dah kita, yang penting gak merugikan orang lain,” lanjut Sri.

 

Aku terdiam menanggapi. “Ada yang salah ini, bukankah itu dosa?” pikirku dalam hati.

 

Sore harinya, setelah dari salon, kulihat Mas Feri baru selesai beres-beres kamar indekos-nya. Kuparkir motor, lalu menghampiri Mas Feri.

 

“Mas Fer, baru selesai beres-beres ya?” tanyaku.

 

“Iya, nih,” jawabnya singkat, sambil menata buku-buku.

 

Kuperhatikan buku-buku itu, ada judul yang menarik perhatianku, “Jin Muslim”. Kuambil buku itu, lalu membacanya. Ada kata yang membuatku tertarik membacanya.

 

“Kalimat Syahadat.” Kucoba melafalkan kalimat itu.

 

Aku mengingat-ingat, di mana aku pernah mengucapkan kalimat ini. Ingatanku melayang  ketika aku pernah mengalami kesurupan. Sejak mengikuti KKN di desa yang masih baru dibuka saat itu. Desa yang masih jarang penduduknya, tetapi menyimpan banyak keindahan alam.

 

Hingga 7 tahun kemudian dari sejak KKN, aku masih sering mengalami hal-hal ghaib dan kesurupan. Sampai pada akhirnya Mas Feri mengajakku bergabung di komunitasnya, dan mengantarkanku pada seorang guru besar dengan auranya yang memancarkan cahaya ketenangan. Beliau menuntunku melafalkan kalimat syahadat ini. Sebelum beliau membacakan ayat-ayat suci, yang kudengar salah satunya adalah ayat Kursyi.

 

Aku tidak paham maksudnya. Setelah itu, aku disuruh minum air yang sudah dibacakan ayat-ayat suci. Beliau berpesan, “lafalkanlah kalimat, ‘la ila hailallah’ sepanjang perjalanan dan semampumu. InsyaAllah, Kamu akan mendapatkan perlindungan. Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja.” Aku mengangguk yakin dan merasa optimis akan terhindar dari gangguan ghaib.

 

Kembali kubaca Buku itu. “Astaghfirullahaladzim, la haula wa la quwwata illa billah.” Kubaca maknanya, adalah ucapan untuk memohon ampunan dan pertolongan Allah. “Bagus ini,” pikirku. Lalu kuhafalkan diam-diam kalimat tersebut.

 

Setelah puas membaca buku tersebut. Aku meletakkan buku itu kembali di tempatnya. Kulihat Mas Feri baru selesai mandi.

 

“Mau ke mana, Mas?” tanyaku.

 

“Minggir, jangan dekat-dekat!” kata Mas Feri mengusirku tanpa menjawab pertanyaanku.

 

Aku jadi jengkel, kumanyunkan bibirku.

 

“Aku mau sholat ‘ashr dulu,” kata Mas Feri kemudian.

 

Aku hanya mengangguk dan kemudian berlalu menuju kamarku. “Kenapa gak boleh dekat-dekat? Biasanya juga gak pa-pa. Aneh,” pikirku.

 

Senja mulai tergantikan malam. Teman-teman indekos yang muslim baru selesai menjalankan salat Maghrib.

 

“Ra, lo kok gak pernah terlihat sembahyang kaya’ si Kadek, Ayu? Lo ini agamanya apa?” tanya Mas Anton, tetangga kamar indekos-ku itu.

 

“Aliran kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan itu ada di mana-mana. Gak usah dibuat ribet,” jawabku sekenanya.

 

“Mbok Ra ini, Hindu KTP, Mas Anton.” Kadek menimpali.

 

Semuanya tertawa. Aku cuek saja.

 

“Yuk, ikutan sembahyang bareng kita, Mbok Ra.” Ayu menawarkan, mengajakku sembahyang di sebuah Pura, yang aku tidak paham siapa yang disembah di sana.

 

“Gak, ah,” jawabku menolak.

 

“Kamu ini, Ra. Sembahyang kok malas,” oceh Mas Anton, sambil berlalu menuju kamarnya, diikuti oleh Mas Feri.

 

Biasanya setelah salat Maghrib, anak-anak indekos menonton televisi (TV) bersama di kamar Mas Anton. Kebetulan hanya Mas Anton yang mempunyai TV. Sementara, aku masih duduk terdiam di teras kamar indekos. Memikirkan ucapan mereka.

 

“Mereka gak paham, orang yang berkasta tinggi, tidak boleh sembahyang di sembarang Pura. Apalagi kalo gak tau siapa yang disembah di Pura tersebut,” gumamku dalam kesendirian. Ucapan yang sering membuat hatiku bertanya-tanya. “Sebodo teing-lah!” pikirku kemudian.

 

Pagi hari, motorku membelah jalanan Kota Denpasar, melaju sepanjang Marlboro menuju kantor.

 

Astaghfirullahaladzim, la haula wa la quwwata illa billah” pekikku kaget, motorku menabrak mobil yang tiba-tiba berubah haluan.

 

Aku terpental jatuh terduduk, motorku masuk ke bawah mobil. Bersyukur suasana jalanan sedang sepi. Polisi yang memang selalu berjaga di salah satu sudut perempatan  segera menolongku. Polisi segera menarik motorku paksa. Beruntung, motor masih bisa jalan normal. Setelah diselesaikan dengan jalan damai, kembali kulajukan motorku.

 

Sepanjang jalan kupikirkan kata, “Astaghfirullahaladzim la haula wa la quwwata illa billah.” Kata yang sungguh ajaib menurutku. Sejak sering mengucapkan kata-kata itu, aku hampir selalu selamat, terhindar dari bahaya.

 

Kulafalkan sepanjang jalan, kalimat “la ila ha ilallah” untuk menenangkan diri setelah mengalami kecelakaan.

 

Itu semata sesuai pesan guru besarku yang selalu kuingat, yakni agar terhindar dari gangguan makhluk ghaib. Jadi sepanjang perjalanan itu, kulafalkan kalimat yang aku sendiri tak paham artinya.

 

(Bersambung)