Ketika Iman Tak Lagi Memimpin, ke Mana Negeri ini Pergi?

Kepemimpinan

 

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah Aqliyah_

Menemukan Kembali Kepemimpinan yang Diberkahi dalam Al-Qur’an

Setiap manusia, tanpa kecuali, memiliki keinginan yang sama: hidup sejahtera, hati tenang, jiwa bahagia, dan kehidupan yang dipenuhi kebaikan. Tak ada orang yang menginginkan hidup dalam ketakutan, kekacauan, dan penderitaan. Pertanyaannya, di mana resep hidup yang baik itu bisa kita temukan?

Al-Qur’an memberikan jawabannya dengan sangat jelas. Allah SWTﷻ berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Kami limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS al-A’raf [7]: 96)

 

Ayat ini laksana resep kehidupan. Jika kita mendapatkan resep masakan dari seorang ahli masak ternama, kita akan mengikutinya dengan penuh keyakinan. Jika kita memperoleh tips hidup bahagia dari orang yang sukses, kita cenderung antusias menirunya. Apalagi ini adalah resep hidup sejahtera dari Sang Maha Pencipta, Zat yang paling mengetahui manusia dan kehidupan.

 

Namun, seperti halnya resep, keberkahan juga mensyaratkan cara. Iman dan takwa adalah kuncinya. Bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi menjadikan petunjuk Allah benar-benar memimpin cara berpikir, bersikap, dan mengatur kehidupan bersama.
Ketika Al-Qur’an tidak lagi menjadi pedoman, akibatnya perlahan terasa, lalu nyata. Berbagai kesulitan hidup bermunculan. Bencana alam tak hanya menyingkap rusaknya alam, tetapi juga rapuhnya kepemimpinan. Inilah yang sedang kita rasakan hari ini.
Bencana di Sumatra, misalnya, memperlihatkan betapa jauhnya penguasa dari realitas penderitaan rakyat. Kritik dibatasi, empati terasa tipis, dan kepemimpinan seolah hadir lebih banyak dalam narasi daripada aksi. Rakyat membutuhkan perlindungan dan kepastian, bukan pembelaan diri dan pencitraan.

 

Krisis kepemimpinan ini bahkan diakui para akademisi. Keteladanan menurun, pelanggaran etika dinormalisasi, dan orientasi kekuasaan sering kali mengalahkan kepentingan rakyat. Di saat banyak warga kehilangan rumah dan penghidupan, sebagian pejabat tetap hidup berkelimpahan. Korupsi pun kian menggurita, hingga merusak sendi-sendi kepercayaan masyarakat.

 

Semua ini bukan kebetulan. Ketika kepemimpinan dibangun di atas sekularisme yang memisahkan agama dari kekuasaan, maka iman tidak lagi menjadi pengendali. Aturan bisa diubah sesuai selera, etika bisa dinegosiasikan, dan kekuasaan mudah disalahgunakan.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ

Kepemimpinan itu amanah, dan kelak pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan…”
(HR Muslim)

 

Iman dan takwa inilah yang dahulu melahirkan pemimpin-pemimpin besar dalam Islam. Abu Bakar ra. takut pada keharaman sekecil apa pun. Umar bin al-Khaththab ra. menangis karena khawatir ada rakyatnya yang terluka akibat kelalaiannya. Kekuasaan bagi mereka bukan kebanggaan, melainkan beban pertanggungjawaban.

 

Namun, keadilan tidak cukup ditegakkan oleh pribadi salih semata. Ia membutuhkan hukum yang benar. Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ ٱللَّهُ فَأُولَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS al-Ma’idah [5]: 45)

Syariah Islam menjaga keadilan tanpa pandang bulu, melindungi harta rakyat, dan mengatur sumber daya alam agar menjadi keberkahan bersama, bukan sumber bencana. Inilah wujud nyata iman dan takwa dalam tata kelola kehidupan.

 

Maka, krisis kepemimpinan yang kita alami hari ini bukan takdir tanpa jalan keluar. Al-Qur’an telah memberikan resepnya. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi digunakan untuk memimpin kehidupan. Bukan sekadar ditadabburi, tetapi dijadikan dasar dalam mengatur masyarakat dan negara. Ketika iman dan takwa ditegakkan, dan syariah Islam diterapkan secara kâffah dalam institusi Khilafah, saat itulah keberkahan dari langit dan bumi benar-benar terbuka.
Pertanyaannya kini bukan lagi, apakah Islam mampu menjadi solusi? Tetapi apakah kita siap kembali mengambil solusi dari Allah?

والله اعلم بالصواب