Maafkan, Aku Pilih Jalan Surgaku Sendiri (Bagian 2)

Maafkan, Aku Pilih Jalan Surgaku Sendiri
(Bagian 2)
Oleh: Cokorda Dewi
LenSaMediaNews – Cerbung – Malam dalam kesendirian di kamar indekos-ku. Kupikirkan kembali apa yang terjadi dalam hidupku. Terngiang ucapan Mas Anton yang mempertanyakan kenapa aku gak pernah sembahyang.
Terlalu banyak yang disembah, membuatku pusing sendiri. “Kenapa gak hanya satu aja yang disembah?” pikirku. Dalam logikaku, terlalu sulit untuk menerima begitu banyak yang disembah. Bagaimana mereka yang sudah meninggal bisa menolong yang masih hidup.
“Bukankah mereka sibuk mempersiapkan diri untuk melewati Titi ugal-agil?” gumamku. (Titi ugal-agil dalam ajaran Hindu Bali, adalah jembatan yang terbuat dari tujuh helai rambut. Bagi yang bisa melewatinya akan masuk surga, bagi yang terjatuh, jatuh ke dalam neraka).
“Ra … Ra …!” panggil seseorang sambil mengetuk pintu kamar indekos-ku.
Kubangun dari tempat tidur dan membuka pintu.
“Mbak Indah?” sapaku heran.
Tidak biasanya Mbak Indah main ke indekos-ku.
“Lho, Mbak Ra. Kok belum siap-siap, sih? Katanya mau ikutan datang pengajian di rumah Bos?” ucap Mbak Indah.
“Duh, lupa aku, Mbak. Tunggu bentar, ya. Aku siap-siap dulu. Masuk, Mbak!” Kupersilahkan Mbak Indah masuk ke kamar indekos-ku.
“Pakai selendang ini, Mbak Ra,” ucap Mbak Indah sambil menyerahkan sebuah selendang putih, setelah aku selesai bersiap.
“Untuk apa, Mbak?” tanyaku heran.
“Dipakai kerudung, Mbak Ra. Kalau datang ke pengajian, harus pakai kerudung, biar sopan,” jawab Mbak Indah menjelaskan.
Kuraih selendang putih itu dan mengenakannya di kepalaku.
“Kayak gini ya, Mbak?” tanyaku.
“Wah, cantik banget lho, Mbak Ra ini,” puji Mbak Indah.
“Issshhh … bisa aja Mbak Indah ini,” ucapku menimpali.
Kami pun keluar dari kamar. Kulihat Mas Feri tengah duduk di teras memperhatikanku. Aku nyengir saja dan mengalihkan pandangan cepat-cepat. Berasa malu sendiri, dengan penampilanku yang tertutup kali ini.
Di rumah Bosku, kami para karyawannya sebagai penerima tamu. Banyak tamu laki-laki berdatangan dengan pakaian khas muslimnya. Tidak satu pun ada yang mau bersentuhan tangan, untuk sekadar bersalaman.
“Issshhh, gak sopan,” pikirku. “Mereka punya wudu,” kata Mbak Indah menjelaskan, setelah kuceritakan perilaku mereka.
Aku hanya manggut-manggut tak paham.
“Cocok Kamu jadi Muslimah, Ra,” celetuk Bosku sambil tertawa, ketika menyadari penampilanku.
Aku hanya senyum-senyum saja.
“You are looked so beautiful, Ra,” ucap Istri Bosku sambil tersenyum.
Ya, Bosku warga negara asing, dan istrinya tidak bisa berbahasa Indonesia.
“Thank you, Bu,” ucapku menimpali, sembari tersenyum.
“Enjoy yourself,” ucapnya ramah.
Aku tersenyum merespons sambil menganggukkan kepala. Suara orang mengaji, terdengar mengalun menenangkan hati.
“Mbak Indah, dalam Islam, siapa saja yang disembah?” tanyaku penasaran.
“Hanya Allah, Mbak Ra,” jawab Mbak Indah.
Aku terdiam menanggapi sambil berpikir. “Allah?” Banyak pertanyaan yang kusimpan dalam hati. “Nantilah kubaca-baca buku tentang Islam koleksi Mas Feri,” pikirku kemudian.
Hingga suatu pagi di kantorku, “Mbak, gimana caranya masuk Islam?” Mbak Indah terkaget.
“Ngapain sih, Mbak, nyusahin diri? Udah enak lho Mbak ini, gak usah salat 5 kali, puasa. Kan udah biasa santai, gak beban,” cerocos Mbak Indah.
Aku hanya nyengir saja.
“Aneh deh, Mbak Ra ini. Nyesel lho, ntar,” lanjutnya.
“Kenapa gitu?” tanyaku penasaran.
“Gak bisa bebas, Mbak. Terkekang. Mau gitu?” tanyanya lagi.
Aku terdiam, memikirkan bagaimana caranya masuk Islam.
“Aku cari cowok Muslim aja, ah,” ucapku, sambil berlalu menuju ruanganku.
“Udah gila Mbak Ra ini,” ucap Mbak Indah yang masih dapat kudengar.
“Mas Feri, udah punya pacar?” tanyaku pada Mas Feri di suatu senja hari, saat sedang duduk-duduk santai di teras kamar indekos.
Kamar indekos kami posisinya berhadapan.
“Gak punya. Kenapa?” tanyanya balik.
“Itu cewek yang kapan hari datang, siapa?” tanyaku lagi.
“Temen kantorku,” jawabnya singkat.
Aku terdiam, ada rasa cemburu terselip di hatiku.
“Kenapa diam? Cemburu?” tanya Mas Feri memecah diamku.
Aku tersipu malu karena ketahuan cemburu. Hidungku ditarik Mas Feri. Dia gemas melihat hidungku, yang kata orang-orang berbentuk mancung seperti hidung orang bule.
Niatku menjadikan Mas Feri sebagai pasangan, tak berani kusampaikan. Selain gengsiku terlalu tinggi, banyak mata-mata keluarga di sekitarku. Aku khawatir akan terjadi sesuatu dengan Mas Feri, hanya karena menjadi pasanganku. Biarlah hanya sebatas TTM, teman tapi mesra.
Hari berlalu, tak terasa Bulan Ramadan telah tiba. Di kantor, kudekati Mbak Indah.
“Puasa ya, Mbak?” tanyaku.
Mbak Indah mengangguk sambil tetap fokus dengan komputernya.
“Aku juga puasa, Mbak,” ucapku kemudian.
Mbak Indah terlonjak kaget.
“Astagfirullah, Mbak. Buat apa puasa? Rugi mbak. Mbak Ra kan bukan Muslim, gak dapat pahala, cuma dapat nahan lapar dan haus aja. Ngapain nyusahin diri?” cerocos Mbak Indah.
“Kan aku pengin tau. Tujuh hari aja. Kalau kuat, aku mau masuk Islam,” jawabku kekeh.
“Udah gila Mbak Ra ini,” ucap Mbak Indah.
Aku hanya nyengir dan berlalu menuju ruanganku, sambil menaikkan dua jariku tanda damai, “peace”.
Di kamar indekos-ku yang baru, kupikirkan apa yang terjadi denganku. Sendirian, serasa tanpa arah. Hari itu malam Minggu, semua orang pergi bersama pasangannya. Aku malas keluar kamar, meskipun di luar terdengar ramai suara anak-anak indekos.
Aku malas bergabung, gara-gara ada salah satu penghuni indekos, seorang mahasiswa yang naksir aku. Mungkin karena penampilanku yang imut. Padahal, usiaku 13 tahun lebih tua. Katanya setelah melihat KTP-ku, “gak apa-apa, Ra. Cinta tak memandang umur. Hadehhh ….” Terlalu puitis menurutku.
Di keluarga besarku sudah resah dengan kesendirianku, tanpa pasangan, padahal sudah lulus kuliah dan bekerja. Aku masih belum juga menentukan, siapa yang akan menjadi pasanganku nanti. Entah siapa yang akan aku kenalkan pada keluarga besar, seperti saudara-saudaraku yang lain.
Syarat pasangan yang membuatku pusing, menjadi kendala utama. Aku mesti memperhatikan bibit, bebet, dan bobot. “Sungguh merepotkan,” pikirku. Calonku harus berdarah biru, alias keturunan Bangsawan atau keturunan Brahmana. Pendidikan minimal S1, memiliki pekerjaan yang mapan, minimal setara dengan jabatanku yang sebagai seorang manajer di perusahaan tempatku bekerja. Sungguh seperti melamar sebuah pekerjaan saja. “Merepotkan sekali!”
Kualihkan pikiran. Aku mengingat lagi tentang Tuhan. “Siapa sebenarnya Tuhan itu? Mengapa banyak sekali sebutannya.” Teringat ucapan Sri, teman baikku, “banyak jalan untuk menuju surga, Ra. Caranya aja yang berbeda-beda. Tinggal pilih aja, mau pakai jalan yang mana. Semua agama itu sama, sama-sama mengajarkan kebaikan.”
“Apa gak terjadi perang perebutan kekuasaan tuh, Tuhan-Tuhannya, kalau memang Tuhannya banyak?” pikirku lagi. Resah yang kurasakan, karena banyak pertanyaan tak terjawab. Jalan pikiranku mungkin tak se-simple pikiran orang lain.
“Nak mule keto. De to sangetange, apang sing setres (Memang sudah begitu, jangan terlalu dipikirkan, supaya tidak setres),” ucap guru agama di sekolahku, kala dulu aku bertanya tentang seputaran yang disembah.
Sebuah jawaban, yang tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Di tengah kesendirian, akhirnya aku panjatkan doa. Kusebut semua Tuhan-Tuhan yang orang-orang sembah,
“Siapakah di antara Engkau yang benar-benar Tuhan? Tunjukkanlah jodohku, maka aku akan menyembahMu!” doaku.
Kemudian kutimang-timang lagi pikiranku. Turun kasta itu situasi yang tidak menyenangkan. Sedangkan satu kasta pun tidak membuat nyaman, karena harus pandai membuat banten (persembahan). Sementara aku tidak suka membuat banten. Aku pernah belajar tentang Budha juga Kristen. Namun tentang Islam, banyak hal yang belum aku ketahui dan membuatku penasaran.
“Siapapun jodohku. Lebih baik masuk Islam aja. Kayaknya gak ribet, deh.” Tekadku kemudian. “Tapi gimana ya, caranya?” pikirku lagi, sampai akhirnya ku tertidur.
Hari berlalu begitu cepat. Hari Minggu kali ini, aku hanya tiduran ditemani lagu-lagu kesukaanku. Tiba-tiba sebuah SMS masuk. Dari seorang yang kurindukan suaranya, sejak dia pindah ke luar Pulau Bali. Aku terlonjak kegirangan, kubaca lagi SMS itu.
[“Ini nomorku yang baru. Feri.”] Segera kusimpan nomornya, dan kemudian menelponnya. “Ah, bahagianya.”
Hingga akhirnya, pada suatu hari dia menyampaikan niatnya untuk menikahiku. Dia akan datang menjemputku, dan aku harus siap. Siap untuk kabur tentunya.
Niatnya aku jawab dengan mantap tanpa berpikir panjang lagi, “iya, aku mau!”
Aku teringat doaku yang lalu. “Cepat sekali dijawab?” pikirku. Aku tersenyum bahagia, dan tersadar. “Yaa Allah, Engkaulah sebenar-benarnya Tuhan. Terima kasih atas anugerahMu.”
Hari bahagia itu pun tiba. Mas Feri datang menjemputku. Setelah surat melarikan diriku, kami tanda tangani berdua di atas materai. Agar Mas Feri terhindar dari tuduhan melarikan anak gadis orang. Surat itu pun kami titipkan pada teman kecilku di Kota orang tuaku. Kemudian kami pun kabur berdua ke Pulau Jawa.
Ketika berada di tengah Selat Bali, kupandangi Pulau Bali, “kurasa suratku telah sampai.” Banyak SMS dari kakak-kakak sepupuku yang kuterima. Mereka memintaku untuk kembali. Namun, hanya kubaca saja. Kutatap gelombang lautan yang tenang. Meski ada rasa sedih terselip, tetapi kuyakinkan diriku bahwa jalan yang kupilih adalah yang terbaik untukku. “Maafkan aku, kupilih jalan surgaku sendiri.”
Tamat.
