AS Arogan, Siapa Pemimpin Global Tandingan?

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
LenSaMediaNews.Com–Amerika Serikat “menangkap” Presiden Venezuela, Nicolàs Maduro, di negaranya sendiri. Sejumlah negara kemudian bilang bahwa tindakan AS itu tidak ada bedanya dengan “penculikan” dan “pelanggaran berat terhadap hukum internasional”. Hal ini karena AS menganggap Maduro bukan Presiden Venezuela yang sah karena ada sengketa pemilu. Maduro juga disebut AS sebagai “buronan internasional” dengan tuduhan penyelundupan narkoba. Sebaliknya, Maduro sempat menuduh AS berniat mengambil alih cadangan minyak Venezuela, yang merupakan cadangan minyak terbesar di dunia (BBC.com,7-1-2026).
Hal lain yang menarik perhatian, Donald Trump menyatakan akan menarik AS dari 66 organisasi internasional. Adapun, organisasi ini terdiri atas 35 lembaga non-Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 31 badan PBB. Termasuk badan-badan di bawah PBB seperti UNFCCC dan IPCC, serta organisasi non-PBB, dengan alasan tidak sejalan dengan kepentingan nasional AS dan dianggap tidak efisien atau boros, kemudian melanjutkan kebijakan “America First” setelah sebelumnya keluar dari WHO dan UNESCO. Di sisi lain, AS tetap menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, Program Pangan Dunia (WFP), dan Badan Pengungsi PBB (UNHCR), yang menurut pemerintahan AS memiliki fungsi keamanan atau kemanusiaan yang penting. (cnbcindonesia.com, 11-1-2026).
Kapitalisme Sama Dengan AS
AS terus berulah, berdua dengan anak emasnya Israel, tak hanya Palestina dan Gaza yang menderita, demikian juga negeri-negeri muslim yang terpecah belah, karena penguasa kafir yang bertindak zalim pada minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina selatan. Sementara penguasa muslim malah abai, lalai bahkan menjalin hubungan mesra dengan AS, Israel bahkan negara-negara kafir lainnya di dunia global.
Pendeknya, dunia di bawah kendali AS dan Ideologi Kapitalismenya telah membuat umat Islam terjajah, lemah, menderita, dan semakin sekuler. Islam tak lagi menjadi identitas terkuat mereka, namun justru mereka berkiblat pada budaya, cara berpikir para penjajah itu. Dan dengan bangganya mereka menyebutnya sebagai modernitas.
Padahal jika kita amati lebih mendalam, berbagai bencana ekologis di dunia akibat keserakahan kepemimpinan Kapitalisme global. Mereka terus menerus menyusun perjanjian kerjasama dengan para pemimpin negeri muslim hanya untuk mengeksploitasi kekayaan alamnya yang melimpah. Keserakahan mereka bertambah-tambah ketika kekayaan yang mereka cari dengan mudahnya digali atas nama kebijakan negara. Artinya, negara yang seharusnya melayani rakyatnya justru sibuk berpesta pora dengan para pejabat negara. Rakyat kebagian penderitaannya saja, cukup.
Kepemimpinan Global Shahih, Hanya Ada Dalam Islam
Ideologi Kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam, baik dalam hal akidah, muamalah, akhlak, ekonomi, politik, sosial budaya dan pendidikan. Mereka hanya mengenal syariat salat, zakat, puasa, haji, infak, sadaqah dan wakaf. Padahal, lahirnya para ilmuwan di zaman itu yang kemudian mampu berkontribusi kepada negara, membuktikan luasnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Di saat yang sama, sejarah mencatat dunia Barat dan Eropa sedang berada dalam era kegelapan. Urusan sanitasi saja mereka tak paham, sementara dunia Islam sudah mengenal sabun mandi.
Kita lihat, AS senantiasa menggunakan berbagai cara, termasuk melakukan aneksasi ke negara lain demi menguasai sumberdaya alam, tanpa memperdulikan tatanan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia maya. Apakah tidak mungkin, kita kembali mengingatkan kepada umat Islam bahwa mereka memiliki modal terbesar untuk melakukan perubahan, yaitu keberadaan mabda Islam yang dengannya kita bisa menegakkan kepemimpinan Islam secara global utk melawan hegemoni AS.
Allah SWT.berfirman yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” ( TQS Al-Mâidah:2).
Kepemimpinan Islam satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat. Khilafah Islam tak hanya melindungi umat Islam, tapi juga melindungi seluruh manusia dari kedzaliman, kemungkaran, kemaksiatan, dan berbagai kerusakan atau bencana. Dan sesungguhnya persatuan kaum kafir itu lemah, sebagaimana firman Allah SWT. Yang artinya,” Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah“. (TQS Al-Hasyr:14). Wallahualam bissawab. [LM/ry].
