Islam sebagai Pelindung Rakyat di Tengah Teror dan Intimidasi

Teror

Oleh Apriani

LensaMediaNews.com, Opini_ Teror yang terjadi terhadap konten kreator dan aktivis kembali menjadi sorotan publik di media sosial usai mereka mengritik kebijakan pemerintah pascabencana di Sumatra.

 

Bentuk teror tersebut beragam, mulai dari ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital, hingga intimidasi yang menyasar keluarga korban. Berikut deretan tokoh aktivis yang dilaporkan mengalami teror usai mengritik kebijakan pemerintah terkait penanganan pascabencana di Sumatra, di antaranya: DJ Donny yang rumahnya dilempar bom molotov, Sherly Annavita mengalami ancaman dan vandalisme, aktivis Greenpeace menerima teror bangkai ayam, Virdian Aurellio diteror secara digital dan mengalami peretasan, Yama Carlos menerima ancaman usai mengritik pemerintah, Pitengz mengalami doxing dan pembajakan kartu SIM, serta Axel Christian diduga mengalami tekanan setelah kontennya viral.

 

Teror ini dinilai oleh publik sebagai salah satu bentuk intimidasi dan ancaman nyata terhadap kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi. Kasus ini juga menyoroti perlunya penegakan hukum serta perlindungan bagi masyarakat yang menyampaikan kritik, termasuk kritik dalam bentuk apapun.

 

Potret Ketakutan Rezim

Teror yang dialami para aktivis merupakan salah satu bentuk kekerasan yang tengah terjadi di negara ini. Teror tersebut menjadi bukti bahwa suara aktivis atau masyarakat yang berani menyuarakan keterlambatan penanganan banjir di Sumatra dibungkam. Hal ini sekaligus menggambarkan adanya rasa ketakutan rezim yang tengah berkuasa saat ini atas aturan atau kebijakan yang diterapkan.

 

Rezim atau penguasa yang anti terhadap kritik masyarakat merupakan salah satu bukti kerusakan dalam sistem demokrasi saat ini. Sebuah negara akan rusak ketika membungkam suara rakyatnya dan tidak bisa diperbaiki atas kebijakan yang diterapkan. Maka menjadi hal yang wajar apabila dalam sistem demokrasi hari ini banyak kebijakan yang merugikan masyarakat tetap diterapkan karena didasarkan pada kepentingan penguasa.

 

Islam Solusi Hakiki

Pemimpin dalam negara Islam berperan sebagai pelindung (junnah) yang menjamin keamanan dan kesejahteraan rakyatnya, bukan sebaliknya menjadi pengancam atau peneror bagi rakyat. Islam memberikan jaminan keamanan secara menyeluruh kepada rakyatnya.
Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya pemimpin itu laksana perisai (pelindung) bagi rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hubungan antara pemimpin dan rakyat diatur berdasarkan hukum syarak. Negara memiliki kewajiban menjamin dan memberikan keamanan kepada rakyatnya. Rakyat memiliki kewajiban sekaligus hak untuk mengoreksi pemimpin atas kebijakan atau aturan yang diterapkan apabila tidak sesuai dengan hukum syarak.

 

Pemimpin dalam Islam sangat menghargai kritik dan masukan dari rakyatnya apabila kebijakan atau aturan yang dijalankan tidak sejalan dengan kepentingan masyarakat atau tidak sesuai dengan hukum syarak. Pemimpin menerima setiap masukan dari rakyat, meskipun dalam sistem Islam penyaluran aspirasi terhadap kinerja khalifah difasilitasi melalui Majelis Umat yang menyampaikan berbagai masukan kepada khalifah. Namun demikian, pemimpin (khalifah) tetap menerima dengan lapang segala masukan dari rakyatnya.