Masihkah Tersisa Kehidupan Ideal bagi Gen Z?

Gen Z

 

Oleh Sabila Herianti

 

LensaMediaNews.com, Opini_ Terasa sekali bahwa hidup rasanya kian hari kian sulit. Terutama bagi Gen Z. Mereka hidup di bawah tekanan ekonomi dan bayang-bayang masa depan yang tak pasti. Menuntut mereka untuk selalu berhemat namun pada waktu yang bersamaan mereka perlu juga menyisihkan uang untuk hal-hal yang mereka inginkan di luar kebutuhan demi menjaga kesejahteraan psikologis. Kegiatan ini biasa mereka sebut sebagai self reward.

 

Bagi sebagian orang, self reward dianggap kegiatan pemborosan. Namun bagi sebagian yang lain termasuk Gen Z, self reward justru penting untuk dilakukan dan tidak termasuk pemborosan selama dilakukan secara sadar dan terukur. Pendapat ini diamini oleh Ratih Ibrahim, Senior Clinical Psychologist sekaligus Direktur Personal Growth.

 

Ratih menilai kebiasaan self reward merupakan suatu yang sehat selama dilakukan secara sadar, terencana dan sesuai kemampuan finansial. Menurutnya kebiasaan ini bisa jadi dipicu oleh paparan sosial media yang biasa menyuguhkan kesuksesan seseorang, kekayaan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Sehingga tidak pelak muncul sosial comparison di tengah-tengah Gen Z, yaitu membandingkan diri sendiri dengan orang lain hanya karena postingan yang terpampang di layar gadget. Membentuk standar kebahagiaan yang baru dan tentunya bersifat semu.

 

Ratih juga menilai bayang-bayang masa depan yang tak pasti bisa juga menjadi pemicu kebiasaan self reward. Self reward menjadi penting bagi Gen Z karena belum tentu pengorbanan saat ini, seperti menabung dan menahan untuk tidak belanja dapat dipetik buahnya pada masa mendatang. Dari pada tidak menikmati hasil sama sekali lebih baik memanfaatkan hasil kerja keras untuk kesenangan saat ini. Toh, bagi mereka tidak ada salahnya menghargai diri sendiri. (Kompas, 12/08/2026)

 

Gen Z yang malang. Kehidupan yang melingkupi Gen Z maupun generasi lainnya bukanlah kehidupan yang ideal. Mereka berjuang sendiri di dalam hidup mereka. Seharusnya tidak begitu, seharusnya negara menjamin kehidupan setiap generasi. Namun apa yang bisa diharapkan dalam sistem saat ini, sistem kapitalis.

 

Sistem kapitalis menciptakan negara yang abai akan rakyatnya dan hanya mementingkan urusan para pemilik modal. Sistem kapitalis juga terus menerus menciptakan tekanan ekonomi yang kian mengimpit. Di mana biaya hidup semakin naik sementara gaji stagnan.

 

Belum lagi paham sekularisme yang membawa gaya hidup sekular liberal. Gaya hidup yang membuat lupa seseorang akan tujuan hidup sebenarnya, yaitu untuk beribadah. Gaya hidup yang mengukur kebahagiaan berdasarkan materi, bukan lagi mendapatkan rida Allah. Tidak heran jika gaya hidup seperti ini menjadikan self reward, healing dan konsumsi hedonis sebagai solusi atas semua lelah, namun hanya bersifat solusi sesaat yang tidak menyentuh akar masalah justru bisa jadi memunculkan masalah baru.

 

Kehidupan ideal tidak terjadi ketika Gen Z berhasil memenuhi kebutuhan dan meraih kebahagiaan materi dari hasil kerja keras sendiri. Tidak seharusnya mereka berjuang sekeras itu sementara negara membiarkan. Karena kebahagiaan hakiki hanya dapat dirasakan ketika individu, masyarakat dan negara menjalankan aturan Allah. Mereka harus segera sadar bahwa negara telah melakukan penyimpangan dari aturan Allah dan telah mengabaikan tanggung jawab besarnya.

 

Gen Z, maupun generasi-generasi yang lain tidak boleh menganggap fakta ini lumrah saja terjadi. Seolah-olah kehidupan ini memang ditakdirkan seperti ini. Sungguh ini adalah kezaliman yang dilakukan negara pada mereka. Jangan biarkan kezaliman ini tetap langgeng. Jangan biarkan para penguasa yang tidak bertanggung jawab menari-nari di atas penderitaan mereka.

 

Kabar baiknya, harapan akan teraihnya kehidupan ideal masih ada. Tapi tidak di dalam sistem ini melainkan sistem yang lain. Sistem yang telah terbukti mampu menjaga kesejahteraan rakyatnya selama 13 abad lamanya. Sistem yang akan menyelamatkan umat manusia dari tekanan ekonomi dan masalah-masalah yang seolah-olah tiada habis seperti sekarang. Apa lagi kalau bukan sistem Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.