Mengapa Dunia Nyata Begitu Melelahkan bagi Remaja Kita?

Oleh Nadisah Khairiyah
LensaMediaNews.com, Parenting_ Ketika Anak Kita Tinggal di Dunia Maya (2)
Kadang kita melihat anak atau remaja duduk menatap layar, lama, lalu menghela napas tanpa suara. Seakan ada beban yang tak sempat mereka ceritakan. Lalu setelah itu, mereka kembali tenggelam dalam dunia maya, seperti sedang mencari oksigen untuk jiwanya. Sebagian orang tua bertanya,
“Kenapa mereka betah sekali di dunia maya? Kenapa dunia nyata seperti tidak menarik bagi mereka?”
Pertanyaan itu penting. Sebab jawaban sebenarnya bukan tentang malas, bukan tentang kecanduan gadget, dan bukan karena mereka tidak punya masa depan. Jawaban yang paling jujur adalah: mereka sedang mencari ruang bernapas. Karena dunia nyata terasa terlalu berat bagi jiwa yang belum kokoh.
Ada empat tekanan besar yang membuat dunia nyata terasa melelahkan dan membuat dunia maya tampak jauh lebih ramah.
1. Tekanan Akademik yang Tidak Pernah Selesai
Ritme sekolah semakin padat. Tugas datang bertubi-tubi. Deadline saling berdempetan. Guru, sekolah, dan sistem menuntut performa tanpa berhenti. Anak seperti hidup di arena lomba yang tidak pernah ada garis finisnya. Padahal Allah menenangkan kita dengan penuh kasih:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(TQS Al-Baqarah: 286)
Tetapi sistem pendidikan modern sering kali membebani melampaui batas fitrah anak. Mereka dinilai, dibandingkan, dikoreksi, dan diuji hampir setiap minggu. Dan tanpa kita sadari, lingkungan di sekitar mereka perlahan membuat cahaya fitrah yang dulu begitu cerah mulai meredup. Fitrah yang seharusnya kuat, ceria belajar, mudah meniru kebaikan, senang menghafal Al-Qur’an, perlahan menjadi berat.
Bukan karena mereka tidak mampu.
Karena mereka hidup di ekosistem yang tidak memelihara jiwa. Di sekolah, di dunia digital, bahkan dalam obrolan keluarga, mereka belajar bahwa nilai tertinggi adalah ranking, prestasi, sertifikat, dan validasi manusia. Al-Qur’an yang seharusnya menjadi cahaya hidup, berubah menjadi target setoran. Disiplin yang seharusnya tumbuh dari iman, terasa seperti tekanan.
Kita tidak sedang berhadapan dengan anak yang kurang rajin. Kita sedang berhadapan dengan anak yang fitrahnya lelah. Dan tugas orang dewasa bukan menambah tekanan, tetapi: menghidupkan kembali cahaya itu, mengembalikan belajar sebagai ibadah, menghubungkan hafalan dengan ketenangan jiwa, menghadirkan suasana rumah dan sekolah yang menenangkan. Ketika fitrah hidup kembali, menghafal bukan lagi beban, melainkan kebutuhan jiwa mereka.
2. Perbandingan Sosial yang Tidak Pernah Padam
Media sosial seperti panggung raksasa di mana setiap orang menampilkan versi terbaik dirinya: kulit yang dihaluskan filter,
prestasi yang dipoles, bahagia yang difoto dari sudut terbaik. Anak-anak kita menontonnya setiap hari. Dan tanpa mereka sadari, mereka merasa: kurang cantik, kurang pintar, kurang berprestasi, kurang berhasil.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan strategi agar hati tetap sehat:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian…”
(HR. Muslim)
Agar kita bersyukur dan tidak terjebak dalam ilusi kekurangan. Namun algoritma hari ini melakukan hal yang sebaliknya، ia terus memunculkan orang-orang yang lebih dari diri kita, lebih cantik, lebih kaya, lebih sukses, lebih segalanya.
Tidak heran anak mencari pelarian. Di dunia maya, mereka bisa memilih siapa yang ingin mereka jadi. Karena dunia nyata hanya memberi ruang bagi yang dianggap ‘sempurna’, sehingga mereka terus merasa tidak cukup.
3. Hubungan Keluarga yang Mulai Menipis
Ini buah dari kehidupan yang tidak lagi berporos pada wahyu. Kehidupan yang melelahkan semua orang. Orang tua pulang dalam keadaan habis tenaga. Anak pulang dalam keadaan penuh tekanan. Saat bertemu, yang tersisa hanya sisa-sisa energi, percakapan menjadi pendek, sentuhan menjadi jarang.
Rumah menjadi tempat singgah bukan tempat tenang. Padahal anak butuh rumah sebagai tempat pulang jiwanya, tempat ia bisa merasa cukup, tanpa harus membuktikan apa pun. Ketika ruang ini tidak tersedia, mereka mencarinya di dunia maya:
di game, komunitas online, ruang chatting yang terasa lebih hangat dibanding senyapnya rumah.
4. Rumah yang Tidak Lagi Menumbuhkan Syakhshiyyah Islamiyah
Islam menginginkan rumah menjadi bi’ah, lingkungan yang menjaga akidah, menumbuhkan adab, dan menguatkan, syakhshiyyah Islamiyah. Di rumah seperti ini, shalat menjadi peneduh, dzikir menjadi penyembuh lelah, Al-Qur’an menjadi cahaya yang menghangatkan.
Namun kehidupan sekuler membuat suasana itu semakin sulit dijaga. Shalat terburu-buru.
Al-Qur’an terasa seperti target, bukan teman jiwa. Majelis ilmu jarang hadir, bukan karena tidak ingin, tetapi karena ritme hidup modern yang menyita ruang ruhani.Padahal Allah sudah memberikan kunci ketenangan:
“ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”
(Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang — QS Ar-Ra’d: 28)
Ketika rumah kehilangan cahaya ini,
anak akan kehilangan pijakan. Dunia nyata terasa lebih berat daripada batas usianya.
Lalu mereka mencari ruang yang terasa lebih ringan, meskipun hanya berupa pixel dan suara digital.
Maka dunia maya terlihat lebih mudah, di dunia nyata mereka harus membuktikan diri. Di dunia maya mereka bisa jadi diri sendiri, di dunia nyata mereka takut gagal. Di dunia maya mereka merasa diterima, di dunia nyata mereka dikejar target. Di dunia maya mereka bisa bernapas. Dunia maya akhirnya bukan sekadar hiburan
tetapi tempat lari dari kelelahan jiwa.
Seri ini ingin mengajak orangtua melihat dengan lebih jernih:
Anak kita bukan masalah, lingkungan merekalah yang membuat jiwa mereka letih.
Di edisi berikutnya, kita akan membahas:
Bagaimana orangtua membangun rumah yang kembali menjadi “tempat pulang” bagi jiwa anak?
