Penghormatan kepada Penghina Rasul, di Mana Izzah Kita?

Islamophobia

Oleh Nadisah Khairiyah

 

LensaMediaNews.com, Tsaqofah_

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling menyayangi di antara mereka.”
(QS Al-Fath: 29)

 

Ayat ini adalah petunjuk dari Allah ﷻ bagaimana seorang muslim harus bersikap. Sikap tersebut yaitu lembut dan penuh rahmah kepada sesama mukmin, namun tegas dan tak kompromi terhadap musuh-musuh Allah ﷻ. Maka, saat pemimpin negara yang jelas-jelas memusuhi Islam, seperti yang nampak pada pemimpin Prancis, datang berkunjung ke negeri Muslim, pertanyaannya bukan soal diplomasi, tapi soal kehormatan Islam.

 

Negara yang melindungi media yang menghina Nabi ﷺ atas nama “kebebasan berekspresi”, menutup masjid, melarang hijab, dan menghapus identitas Islam dari ruang publik, menjajah pemikiran umat lewat sekularisme dan Islamofobia yang dilegalkan hukum, layakkah pemimpinnya disambut dengan penuh kehormatan?

Allah ﷻ memperingatkan:
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖوَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa yang melakukannya, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.”
(QS. Ali Imran: 28)

 

Sikap tunduk dan menjalin hubungan akrab dengan musuh Islam atas nama kepentingan politik atau ekonomi bukanlah kebijakan bijak, itu adalah bentuk pengabaian terhadap perintah Allah ﷻ dan pengkhianatan terhadap kehormatan Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ sudah menegaskan dalam surat Ali Imran 28 di atas, jika butuh pertolongan jangan memintanya kepada orang kafir, apalagi yang menunjukkan permusuhan. Allah ﷻ mengancam tidak akan memberikan pertolongan, jika kita meminta bantuan orang kafir. Padahal pertolongan yang sangat kita butuhkan adalah pertolongan Allah.

 

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah dalam kitab Nizhamul Islam menjelaskan bahwa negara-negara kafir (seperti Prancis) yang secara politik dan militer memusuhi Islam tergolong kafir harbi fi’lan. Hubungan dengan mereka bukanlah hubungan persahabatan atau diplomasi lemah-lembut, tapi hubungan permusuhan yang nyata, sampai mereka berhenti dari kezaliman dan penghinaan terhadap Islam. Umat Islam dan para pemimpinnya wajib menunjukkan izzah, bukan sikap tunduk.
Menolak penghormatan kepada penghina Nabi ﷺ bukanlah kebencian tanpa alasan, tapi bentuk ketaatan kepada Allah ﷻ, dan bukti cinta kita kepada Rasulullah ﷺ.

 

Hari ini, izzah Islam sedang diuji.
Apakah kita memilih tunduk atas nama relasi internasional, atau tetap tegas menjaga kehormatan risalah ini?
Semoga Allah ﷻ kokohkan hati kita, agar hanya tunduk kepada-Nya, bukan kepada mereka yang menghina agama kita.
Labbayka ya Rasulullah. Kami bersama risalahmu, bukan bersama musuhmu.