Penutupan Al-Aqsa, Di Mana Perisai Kaum Muslimin?

AlAqsa-LenSaMediaNews

Oleh: Putri

 

LenSaMediaNews.com–Zionis Israel menutup akses bagi warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa. Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG), Anshorullah, menilai hal tersebut adalah upaya Yahudisasi terhadap Masjid Al Aqsa sekaligus de-Islamisasi di Baitul Maqdis dan seluruh Palestina.

 

Berdasarkan laporan dari Media Middle East Eye (MEE) pada Senin, 16 Maret 2026, Zionis Israel berencana untuk tetap menutup akses masuk bagi kaum Muslimin ke Masjid Al Aqsa hingga Idul Fitri 1447 H/2026 M. Tindakan Zionis ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, salah satunya dari Liga Arab, yang menyerukan kecaman keras atas kesewenang-wenangan Israel yang menutup akses ibadah bagi umat Islam di Masjid Al Aqsa, Palestina, selama bulan Ramadhan pada 15 Maret 2026 lalu.

 

Peristiwa ini tidak lepas dari realita penindasan panjang terhadap kaum muslimin di Palestina. Dalam sudut pandang Islam, kondisi ini dipandang akan terus berlangsung selama umat Islam tidak memiliki perisai yang melindungi umat secara keseluruhan. Ketiadaan institusi pemersatu umat, yaitu Khilafah Islamiyyah menjadikan umat berada dalam posisi lemah dan terpecah.

 

Board of Peace (BoP) yang diinisiasi AS dianggap sebagai solusi untuk menangani konflik Gaza dan rekonstruksinya. Pada faktanya, BoP hanyalah merupakan alat hegemoni Barat dan sarana perampasan tanah Palestina. Alih-alih menyelesaikan akar permasalahan yang menjadi penyebab penderitaan kaum muslimin di Palestina, BoP justru berorientasi pada menjaga kepentingan geopolitik Barat.

 

Keberadaan Zionis di Palestina sebagai entitas kolonial juga berfungsi sebagai perpanjangan kepentingan imperialis Barat di kawasan strategis dunia Islam. Hal ini menjadikan konflik Palestina bukan sekadar konflik lokal, tetapi bagian dari dinamika global yang lebih luas. Sistem Kapitalis sekuler yang mendominasi dunia saat ini dinilai berorientasi pada kepentingan dan kekuatan. Sehingga, standar keadilan menjadi relatif dan sering kali berpihak pada negara-negara besar.

 

Di tengah kekecewaan terhadap berbagai solusi dunia terhadap Palestina, muncul ekspresi simbolik dari sebagian umat Islam yang mencerminkan kegelisahan sekaligus dorongan untuk bertindak. Salah satunya adalah aksi pelemparan kerudung oleh para wanita kepada pria di masjid Faih Istanbul baru-baru ini, dilakukan untuk menggugah kesadaran kaum muslim agar membela saudara muslim di Palestina. Aksi ini ingin menyampaikan pesan bahwa kehormatan umat, termasuk pembebasan Palestina dan penjagaan tempat suci seperti Masjid Al-Aqsa, tidak boleh diabaikan.

 

Dalam kondisi seperti ini, urgensi hadirnya kepemimpinan umat yang mampu menyatukan kekuatan kaum muslimin menjadi semakin mendesak. Karena hanya Khilafah Islamiyyah sajalah yang mampu menjalankan kewajiban melindungi umat dan membebaskan wilayah yang terjajah. Rasulullah Saw. Bersabda, “Imam (pemimpin) adalah perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya” (HR. Bukhori Muslim).

 

Di bawah kepemimpinan Khilafah Islamiyyah akan diserukan komando jihad fi sabilillah untuk membebaskan tanah Palestina dan menjaga kehormatan kaum muslimin. Pada akhirnya, penutupan akses ke Masjid Al-Aqsa menjadi pengingat bahwa persoalan Palestina masih jauh dari kata selesai. Diperlukan kesadaran umat Islam untuk bersatu dan memperjuangkan kemerdekaan serta keadilan dalam bingkai Khilafah Islamiyyah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].