Ironis, Usaha Tani Sulit di Negeri Subur

UsahaTani-LenSaMediaNews

Oleh : Lulu Sajiah, S.P

 Pemerhati Agromaritim

LenSaMediaNews.com–Negeri Zamrud Khatulistiwa, julukan untuk Indonesia yang memiliki kekayaan alam  luar biasa dan sebagai negara dengan megabiodiversity atau keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Zamrud Khatulistiwa mendapatkan sinar matahari dan curah hujan tinggi sepanjang tahun, serta rangkaian gunung berapi sehingga menciptakan ekosistem tropis yang subur dan kaya akan biohayati termasuk ekosistem perairan tawar dan laut.

 

Namun, di balik potensi alam yang melimpah, sektor pertanian menyimpan ironi yang mendalam. Para petani yang memberi makan bangsa, sering kali berada di garis kemiskinan dan kesulitan mengembangkan budidaya mereka.

 

Penyebab utama yang membuat aktivitas budidaya menjadi tantangan berat di negeri ini adalah,  penerapan Sistem Kapitalisme dengan menumbuhsuburkan sewenang-wenangnya aparat kekuasaan dan birokrat yang terkait. Sehingga faktor yang berkaitan langsung dengan petani, diantaranya, masalah kepemilikan lahan dan alih fungsi.

 

Banyak petani tidak memiliki lahan sendiri dan hanya bekerja sebagai buruh tani dengan upah rendah. Serta, alih fungsi lahan pertanian menjadi area industri atau perumahan semakin masif karena harga tanah komersial yang lebih tinggi,  mengancam keberlangsungan pangan nasional.

 

Juga, rantai pemasaran yang panjang dan fluktuasi harga. Petani sering kali tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga hasil panen mereka. Panjangnya rantai distribusi dan ketergantungan pada tengkulak membuat keuntungan lebih banyak dinikmati oleh perantara, sementara petani harus menanggung risiko fluktuasi harga yang tajam.

 

Selain itu, keterbatasan akses modal dan teknologi. Investasi awal untuk teknologi pertanian modern sering kali tinggi, sehingga banyak petani tetap menggunakan metode tradisional yang kurang efisien. Masalah ini diperparah oleh sulitnya akses permodalan formal, tanpa sertifikat lahan sebagai jaminan, petani terpaksa beralih ke “pelepas uang” atau tengkulak yang membebani mereka.

 

Terakhir, krisis regenerasi petani dan dampak perubahan iklim.Pertanian kini kurang diminati oleh generasi muda karena dianggap berat. Kalaupun Pemerintah memberikan solusi untuk petani, yakni sistem Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ini tidak memberikan solusi kesejahteraan petani dengan tuntas dan menyeluruh.

 

Sistem Islam Mampu Memberikan Solusi Paripurna

Kesejahteraan warga negara sangat bergantung pada sistem negara dan amanah pemimpinnya, karena kedua komponen tersebut menentukan arah kebijakan publik serta keadilan distribusi sumber daya. Pemimpin negara bersistem Islam, Khilafah.   didasarkan pada keimanan (akidah) yang kuat, akan melahirkan kesadaran untuk mengemban tanggung jawab (amanah) dari Allah SWT. Ini akan mendorong penjaminan standar hidup minimum, seperti pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan yang layak.

 

Rasulullah SAW. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang kepala negara (amir/imam) adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Sejarah Islam telah membuktikan kesuksesan budidaya pada masa Khilafah Dinasti Mamluk, menjadikannya salah satu periode emas ekonomi di wilayah yang dipikulnya. Mereka sangat sukses dalam mengelola sumber daya alam melalui sistem irigasi dan bendungan yang canggih serta manajemen lahan untuk memaksimalkan luapan Sungai Nil. Sistem Cekungan diwujudkan untuk menampung air banjir selama 6–8 minggu agar tanah menjadi sangat subur sebelum ditanami.

 

Sektor pertanian menjadi penopang ekonomi selain perdagangan internasional. Diantaranya, tanaman pangan yakni gandum dan jelai sebagai bahan pokok utama selalu tersedia. Tanaman Industri, berupa tebu dengan komoditas ekspor utama ke Eropa, kapas, rami (flax), dan nila (indigo). Tidak terabaikan buah-buahan dan sayuran dipasarkan di pusat-pusat kota seperti Kairo dan Damaskus.

 

Keberhasilan ini tidak luput didukung oleh sistem administrasi yang ketat dalam manajemen ekonomi dan lahan (Sistem Iqta’). Di sisi lain, diterapkannya pemantauan Nilometer, yakni pengukuran ketinggian air Nil secara harian untuk memprediksi hasil panen dan menetapkan pajak yang adil.

 

Banyak juga lahan produktif dan sistem perairan diwakafkan untuk mendanai fasilitas publik seperti madrasah dan rumah sakit, yang secara tidak langsung menjaga kelestarian fungsi lahan tersebut. Bukti nyata. bahwa sistem Islam lebih berkah dunia akhirat, semestinya kita perjuangkan sebagai bagian dari iman yang kuat.  Wallaahu’alam bi ash-shawaab. [LM/ry].