Polemik Murid Baru, Buah Pahit Sekuler Liberal

MuridBaru-LenSaMediaNews

Oleh: Elfia

 

LenSaMediaNews.com–Berdasarkan penelitian dari pakar pendidikan, minimnya jumlah murid di sejumlah sekolah disebabkan oleh menurunnya populasi anak usia sekolah. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan penduduk yang melambat, penuaan generasi, serta tingginya laju urbanisasi.

 

Di sisi lain, terjadi pula pergeseran orientasi pendidikan di masyarakat. Banyak orang tua kini lebih memilih sekolah berbasis agama yang mengajarkan tata cara beribadah, kemampuan membaca Al-Quran, serta penanaman akhlak mulia. Pilihan ini lahir dari kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan moral anak-anak mereka di tengah maraknya kenakalan remaja dan pergeseran nilai zaman.

 

Menghadapi fenomena ini, pemerintah mengambil langkah regrouping (penggabungan) beberapa SD Negeri menjadi satu. Namun, kebijakan ini memicu dilema baru karena jarak sekolah dari rumah warga menjadi semakin jauh. Krisis kekurangan murid baru bukan terjadi secara mendadak. Jika kita perhatikan, perubahan struktur demografi menuju penduduk menua terjadi salah satunya karena program pemerintah yang membatasi angka kelahiran.

 

Di sisi lain, tekanan ekonomi mengakibatkan pasangan muda enggan memiliki anak karena biaya hidup yang tinggi dan kesejahteraan yang makin sulit diraih. Kondisi ini makin digenapi oleh maraknya urbanisasi akibat kesenjangan pendapatan antara pedesaan dan perkotaan terutama perbedaan mata pencaharian, standar upah, keberagaman lapangan kerja, serta konsentrasi modal dan infrastruktur di wilayah perkotaan.

 

Besarnya kekhawatiran orang tua terhadap kerusakan moral generasi hari ini membuat mereka lebih memilih sekolah berbasis agama dibandingkan sekolah negeri. Fenomena ini merupakan dampak nyata dari sistem sekuler liberal yang terus memproduksi krisis moral hingga maraknya tindak kriminal di kalangan pelajar.

 

Di sisi lain, krisis moral tersebut tidak mampu dibendung sekadar melalui bongkar-pasang kurikulum. Hal ini menegaskan bahwa perubahan di tingkat teknis pendidikan tidak akan pernah efektif selama sistem sekuler liberal masih menjadi landasannya.

 

Dari sudut pandang Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar sekaligus pilar pembentuk peradaban. Oleh karena itu, negara bertanggung jawab penuh dalam menjamin ketersediaan serta pemerataan pendidikan yang berkualitas, yang dapat diakses secara gratis oleh seluruh rakyat.

 

Dalam sistem pendidikan Islam, khilafah sebagai institusi menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam. Kurikulum ini dirancang untuk melahirkan output generasi yang memiliki kepribadian Islam sekaligus mahir dalam sains dan teknologi (IPTEK). Untuk mendukung hal tersebut, negara juga bertanggung jawab menyediakan sumber daya manusia (guru) yang kompeten, serta infrastruktur, sarana, dan prasarana pendidikan yang berkualitas.

 

Banyak yang belum menyadari bahwa kerusakan sosial saat ini termasuk krisis di dunia pendidikan merupakan akibat dari penerapan sistem sekuler liberal. Maka, membendung dampak buruk ini tidak cukup hanya dengan menyelamatkan anak secara individual di rumah. Kesadaran masyarakat harus diangkat ke tingkat yang lebih mendasar, yaitu kesadaran ideologis.

 

Solusi fundamental untuk membangun kesadaran tersebut adalah hadirnya gerakan politik di tengah masyarakat melalui dakwah yang mengubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam. Dalam sistem Islam di bawah naungan Khilafah Islamiah, persoalan seperti minimnya murid baru tidak akan terjadi, karena negara bertanggung jawab penuh atas pembiayaan dan pengelolaan pendidikan secara merata tanpa diserahkan pada mekanisme pasar. Sebab, selama kehidupan masih berada di bawah cengkeraman sekularisme liberalisme, persoalan demi persoalan tidak akan pernah terurai secara tuntas. Wallahualam  bishshawaab. [LM/ry].