Mengawal akal bangsa_20260528_202344_0000

Oleh : Beta Arin Setyo Utami, S.Pd. 

 

Lensa Media News – Di tengah polemik Rp (Rupiah) versus $ (Dollar), justru muncul pernyataan kontroversial dari Presiden RI. “Banyak yang bilang Indonesia akan collabs karena Rupiah ini lah, Dollar itu lah, orang desa aja nggak pakai Dollar,” kata Presiden Prabowo saat peresmian Museum Marsinah, Nganjuk, Jawa Timur. Kalimat tersebut senada ketika beliau menyikapi IHSG anjlok, “Rakyat desa gak main saham.” Kalimat tersebut seolah berusaha menenangkan tapi kenyataannya justru mencengangkan. Bagaimana tidak, kalimat tersebut dilontarkan ke publik oleh orang nomor satu di Indonesia, yang harusnya paham betul segala pergolakan, solusi dan antisipasinya, bukan orang awam yang tak paham apa-apa. Ini jelas sangat denial.

Sekelas Presiden menanggapi persoalan saja denial, bagaimana bisa ideal dalam menentukan kebijakan yang tepat dan solutif, termasuk berpikir visioner dan out of the box. Skala negara tentu bukan hal remeh dan receh, sudah menyangkut hajat hidup orang banyak. Pakar Bahasa soroti diksi soal kepemimpinan Prabowo, dari “membahayakan” sampai “menggerogoti.” Bahkan kritik juga datang dari Media asal Inggris The Economist. Artikel pertama yang berjudul “Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy” (Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi), dengan subjudul “Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian” (Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter). Artikel kedua The Economist memiliki judul “Indonesia, the world’s biggest Muslim-majority country, is taking a risky path” (Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko). Subjudulnya di dalamnya berbunyi “Prabowo Subianto is eroding the country’s finances and its democracy” (Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara dan demokrasinya).

Diketahui nilai tukar Rupiah atas Dollar sampai hari ini sudah mencapai Rp. 17.602, 00 per $1. Itu artinya Rupiah semakin melemah, semakin lesu dan semakin merosot, sebaliknya Dollar semakin menguat, semakin menggeliat dan semakin menguat. Dampaknya niscaya akan dirasakan oleh semua lini kehidupan dan oleh semua orang, baik yang tinggal di desa maupun yang tinggal di kota, baik yang bertransaksi dengan uang Dollar maupun yang bertransaksi hanya dengan Rupiah, baik yang mempunyai dan memegang Dollar maupun yang hanya mempunyai dan memegang Rupiah saja.

Memang masyarakat Indonesia tidak bertransaksi menggunakan uang Dollar, tapi dengan melemahnya Rupiah dan menguatnya Dollar, maka otomatis masyarakat Indonesia akan merasakan dampaknya secara langsung. Dollar naik, kurs lemah, akibatnya impor mahal, produsen menaikkan harga jual, padahal upah tetap, PHK dimana-mana, daya beli masyarakat menurun, inflasi besar-besaran, hutang meroket, ngerinya negara bisa terancam bahkan benar-benar ambruk.

Dollar melejit maka masyarakat menjerit, harga kedelai, gandum, obat-obatan, alat kesehatan, pupuk, plastik kemasan, energi, BBM, elektronik, mesin industri, barang-barang produksi dan konsumsi bahkan juga jasa akan ikut meroket harganya. Karena semua itu konsekuensi yang harus ditanggung karena bergantung dengan impor dan pasar global yang standartnya Dollar. Bahkan menu MBG akan semakin kacau balau dan barang dagangan KMP juga otomatis terdampak mengingat harganya yang melejit. Parahnya lagi, minyak goreng yang sepenuhnya hasil kebun dan diolah di dalam negeri saja juga naik karena perdagangan CPO menggunakan kurs Dollar.

Sejatinya ini adalah alarm menuju kehancuran, apalagi banyak orang inkompeten mengurusi urusan umat dan tidak amanah. Maka benarlah yang disabdakan oleh Rasulullah dalam H.R. Bukhari, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” Kemudian sabda beliau lagi, “Apabila amanah telah disisa-siakan, maka tunggulah kehancurannya.”

Betapa bahaya dan rusaknya berbicara tanpa ilmu, betapa pentingnya kejujuran, betapa beratnya amanah atas umat yang menyangkut dunia akhirat dan betapa penting dan gentingnya juga wajib tiada pilihan lain, selain solusi kembali kepada Syariat Islam dari Allah Sang Penguasa Langit dan Bumi.

 

[LM/nr]