Solusi Problem Generasi: Sinergi Saja Tidak Cukup?

Oleh: El Fikriyyah
Lensa Media News, Opini — Persoalan generasi muda hari ini menuntut perhatian serius. Lingkungan pendidikan yang semestinya menjadi tempat tumbuh dan berkembang justru diwarnai dugaan perundungan dan perlakuan yang merendahkan peserta didik. Berbagai pihak telah berupaya mencegah dan menangani persoalan tersebut. Namun, di tengah beragam langkah yang dilakukan, ada hal mendasar yang perlu dievaluasi: apakah sinergi banyak pihak saja cukup untuk menyelesaikan persoalan generasi hingga ke akarnya?
Sekolah dan Tantangan Melindungi Generasi
Kasus dugaan perundungan di lingkungan pendidikan kembali menjadi perhatian publik. Melansir dari Pena Insight, seorang siswa kelas VII di Alexandria Boarding Islamic School, Rawalumbu, Kota Bekasi, dilaporkan mengalami dugaan kekerasan oleh teman sekelasnya di lingkungan asrama. Peristiwa yang disebut terjadi pada 17 September 2026 tersebut menjadi sorotan setelah keluarga korban menyampaikan kondisi anaknya melalui media sosial. Kasus ini kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut (Pena Insight, 25-09-2026).
Persoalan lain muncul di SMPN 10 Kota Bekasi. Sebagaimana diberitakan Derap Detik, seorang siswi diduga mendapat ucapan merendahkan dari guru olahraga terkait penggunaan makeup ke sekolah. Peristiwa tersebut memicu kemarahan orang tua siswi karena ucapan yang tidak pantas semestinya tidak keluar dari seorang pendidik. Kasus ini kembali mengingatkan bahwa perlakuan verbal yang merendahkan juga perlu mendapat perhatian dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman (Derap Detik, 23-09-2026).
Merespons dugaan perundungan di Alexandria Islamic School, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meminta Kepala Dinas Pendidikan mengecek langsung kondisi sekolah dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang. Diberitakan oleh Pena Insight, ia juga menyoroti pentingnya pengawasan di lingkungan sekolah untuk mencegah kekerasan terhadap peserta didik (Pena Insight, 28-09-2026).
Berbagai peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan generasi membutuhkan keseriusan dan keterlibatan banyak pihak. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab masing-masing. Namun, upaya penanganan kasus saja belum cukup jika tidak dibarengi pembinaan generasi secara mendasar.
Sinergi Penting, tetapi Akar Masalah Jangan Diabaikan
Respons Wali Kota Bekasi patut menjadi perhatian. Persoalan perundungan memang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Keluarga perlu membina anak, sekolah menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, masyarakat membangun kepedulian, dan negara memastikan perlindungan terhadap peserta didik. Seluruh pihak perlu menjalankan perannya secara berkesinambungan.
Namun, ada persoalan yang lebih mendasar, yakni sistem yang menjadi landasan bagi seluruh pihak tersebut. Sinergi akan sulit menghasilkan perubahan menyeluruh jika tidak disertai arah nilai yang jelas dalam membentuk kepribadian generasi. Akibatnya, upaya pencegahan berisiko lebih banyak berfokus pada penanganan ketika masalah muncul, sementara pembentukan perilaku sejak dini belum mendapatkan perhatian yang memadai.
Dalam perspektif Islam, sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan perlu dikritisi karena tidak menempatkan agama sebagai landasan menyeluruh dalam mengatur berbagai urusan manusia. Sementara itu, kapitalisme yang mengutamakan materi dan pencapaian duniawi dapat mendorong orientasi pendidikan yang terlalu menitikberatkan prestasi tanpa diimbangi pembentukan kepribadian berdasarkan nilai agama.
Tentu, setiap kasus perundungan memiliki konteks dan penyebab yang perlu diteliti. Tidak tepat menyimpulkan bahwa satu peristiwa semata-mata disebabkan oleh sistem tertentu. Namun, pembenahan persoalan generasi juga tidak cukup jika hanya mengandalkan imbauan, koordinasi, dan penindakan sesaat. Diperlukan evaluasi terhadap nilai-nilai yang membentuk perilaku individu sekaligus lingkungan sosialnya.
Islam memandang pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh pengetahuan dan mengejar prestasi, melainkan juga proses membentuk manusia yang memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Akidah dan syariat menjadi landasan dalam membangun pola pikir dan pola sikap. Dengan demikian, generasi tidak hanya diarahkan untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan dan tanggung jawab moral.
Membangun Generasi dengan Fondasi Syariat
Islam menawarkan solusi yang tidak berhenti pada sinergi, tetapi juga membangun fondasi kehidupan berdasarkan akidah dan syariat. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara memiliki peran berbeda yang saling melengkapi dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Pertama, keluarga menanamkan akidah dan ketakwaan sejak dini. Orang tua perlu membiasakan anak memahami bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan bahwa menghormati orang lain merupakan bagian dari akhlak Islam. Anak juga perlu dibimbing untuk mengelola emosi, menyelesaikan konflik dengan baik, serta tidak melakukan kezaliman terhadap sesama.
Kedua, sekolah membentuk syakhsiyah Islamiyah atau kepribadian Islam. Pendidikan tidak cukup berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga perlu membentuk pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam. Guru harus menjadi teladan dalam bertutur kata, bersikap adil, dan menghormati peserta didik. Sekolah juga perlu menyediakan mekanisme pengaduan serta perlindungan yang efektif bagi korban perundungan.
Ketiga, masyarakat menjalankan amar makruf nahi mungkar sebagai bentuk kontrol sosial. Kepedulian terhadap generasi diwujudkan dengan tidak membiarkan perundungan, berani mengingatkan ketika terjadi kemungkaran, serta membantu pihak yang mengalami perlakuan tidak adil. Pelaksanaannya harus dilakukan secara bijaksana dan tidak berubah menjadi tindakan menghakimi tanpa kejelasan fakta.
Keempat, negara bertanggung jawab mengatur pendidikan dan melindungi generasi. Negara perlu memastikan kebijakan pendidikan memiliki landasan nilai yang jelas, mencegah kekerasan, serta menangani pelanggaran secara adil. Dalam perspektif Islam kafah, tanggung jawab tersebut merupakan bagian dari penerapan syariat dalam mengatur kehidupan, bukan sekadar merespon persoalan setelah muncul.
Jangan Hanya Memadamkan Api
Sinergi keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara jelas penting. Namun, sinergi saja tidak cukup apabila tidak disertai landasan nilai dan arah pembentukan generasi yang benar. Penanganan kasus tetap diperlukan, tetapi harus berjalan bersama pembinaan kepribadian dan pembenahan sistem pendidikan serta kehidupan.
Islam menawarkan akidah dan syariat sebagai fondasi untuk mengarahkan pendidikan, perilaku individu, kehidupan masyarakat, dan kebijakan negara. Tujuannya bukan sekadar mencetak generasi berprestasi, melainkan membentuk pribadi bertakwa yang menghormati sesama dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Kita tidak cukup hanya sibuk memadamkan api perundungan setiap kali terjadi. Kita juga perlu membenahi sumber persoalan agar api yang sama tidak terus menyala. Dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan secara menyeluruh, sinergi seluruh pihak diharapkan tidak hanya menjadi koordinasi sesaat, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun generasi berkepribadian Islam.
Wallahu a’lam bishshawab.
