The Best Mother di hadapan Allah

Oleh: Cokorda Dewi
LensaMediaNews.com, Reportase_ Majelis Taklim Khoirunnisa menghadiri kajian bertema The Best Mother di Hadapan Allah. Pematerinya adalah ustadzah Zahidah pada Tanggal 06 Februari 2026. Ustazah menjelaskan, bahwa perlu adanya pemberdayaan potensi ibu dan anak, sebagai penerus risalah Islam. Faktanya bahwa kebanyakan ibu dan anak tidak menyadari potensi yang dimiliki. Dan kurangnya kedekatan berkualitas antara ibu dan anak, yang disebabkan oleh karena lemah dalam komunikasi berkualitas.
Sebagian besar muslimah tidak menyadari bahwa dirinya bisa menjadi wanita mulia (the best mother) di hadapan Allah.
Perangkat menjadi the best mother adalah potensi. Potensi ini telah dimiliki oleh setiap orang sebagai bekal dalam menjalani kehidupannya, agar tidak melampaui batas.
Potensi merupakan tata cara untuk melakukan kewajiban, sehingga tidak ada yang berat untuk dijalankan.
Potensi tersebut melekat dalam tubuh, sebagaimana firman Allah dalam QS. At Tin : 4
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Allah menjamin rezeki dan eksistensinya dalam kehidupan melalui seperangkat fiqih-fiqih.
Seorang perempuan harus mampu menggunakan potensi yang Allah berikan dalam menjalankan kewajibannya, dan menjadikan dirinya sebagai wanita shalihah.
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik -baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR Muslim: 1467)
Aktivitas seorang wanita shalihah sebagai bagian dari keluarga (ummu wa rabbatul bait), juga sebagai bagian dari masyarakat, yaitu aktivis siyasiyah amar ma’ruf nahi mungkar. Dan juga mempunyai kewajiban menjaga kehormatan.
Peran seorang wanita sebagai ibu, adalah mencakup kewajiban yang terkait dengan pola pengasuhan anak. Seorang ibu harus mampu menggali potensi anaknya untuk menjadi penerus risalah Islam, juga menjadikannya sebagai agen perubahan.
Dibutuhkan seorang ibu yang cerdas dan kuat imannya. Sehingga bisa memfungsikan diri sebagai ibu untuk membentuk keluarga ideologis. Seorang ibu harus mempunyai skill uslub untuk mengarahkan anaknya, menyadari potensi yang dimiliki sebagai dua generasi satu amanah, yaitu menjadi generasi penerus risalah Islam. Sehingga ibu dan anak bisa bersikap juga berperilaku yang benar dan tepat, dalam menghadapi segala problematika kehidupan yang muncul.
Ustazah menambahkan bahwa, potensi yang dimaksud adalah potensi akal dan potensi hidup. Potensi hidup terdiri dari potensi fisik dan potensi naluri.
Potensi fisik adalah upaya mempertahankan hidupnya, untuk mengetahui hakikat hidupnya. Sehingga tidak akan terbersit untuk merugikan dirinya sendiri. Berasal dari dalam diri sendiri. Tuntutan pemenuhan dari potensi fisik inilah yang membedakan antara muslim dan non muslim. Ada seperangkat batasannya dalam Islam. Potensi fisik harus distimulasi agar menjadi mukmin yang kuat. Sebab Allah lebih mencintai mukmin yang kuat.
Sedangkan potensi naluri, berasal dari stimulasi dunia luar, sehingga harus diperhatikan rangsangannya. Jika stimulasinya salah, maka akan menjadi manusia hina. Dan apabila stimulasinya benar, akan menjadi manusia yang mulia. Demikian pula dengan penyaluran potensi nalurinya. Jika salah, maka akan terjadi penyimpangan.
Allah memberikan potensi naluri agar menjadi manusia yang benar, benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang diberikan oleh Allah.
Potensi akal adalah potensi istimewa manusia.
Kemampuan mengaitkan fakta yang terindera dengan maklumat yang sudah ada dibenaknya, terkait realitas tersebut.
Menghadirkan fakta untuk bisa memberikan maklumat . Sehingga mampu memahami hakikat fakta, mampu membedakan benar atau salah, dan membedakan baik atau buruk. Serta mampu menghasilkan pemikiran, sebagai solusi permasalahan segala problematika kehidupan manusia, baik itu dalam skala individu, keluarga, jama’ah, dan bangsa.
Ustazah menutup kajian dengan menyampaikan bahwa, memahamkan maklumat melalui tholabul ilmi, agar bisa memberikan maklumat yang benar dengan lisan atau bahasa yang dapat mempengaruhi jiwa dan ahsan, serta mampu membangun komunikasi yang shahih antara ibu dan anak. Mampu memberdayakan potensi ibu dan anak, baik potensi fisik maupun potensi naluri dapat terpenuhi secara benar dan tepat, sesuai dengan hakikat penciptaan manusia.
Melalui potensi hidup dan potensi akal yang terarah sesuai dengan syariat Islam, maka akan terbentuk kepribadian Islam, dalam rangka mewujudkan generasi penerus risalah Islam.
Sehingga dapat meraih martabat yang mulia dihadapan Allah Swt
Wallahu’alam bishshawab.
